Foto Prewedding Sepi Selama Pandemi, Buka Jasa Foto Baju Adat di Malioboro

Nasional | radarjogja | Published at Rabu, 01 September 2021 - 15:27
Foto Prewedding Sepi Selama Pandemi, Buka Jasa Foto Baju Adat di Malioboro

RADAR JOGJA Pandemi Covid-19 membuat jasa foto prewedding yang dilakoni Habib Fatkhurrohim sepi akan peminat. Walau begitu pria berusia, 23, ini tak ingin berdiam diri. Bersama teman-temannya, Habib membuka jasa foto di kawasan Malioboro bernama Pokoke Blangkon.

Habib menjelaskan konsep yang disajikan juga sangatlah unik. Berupa foto dengan pakaian adat khas Jogjakarta. Berupa kain lurik dan beskap lengkap dengan blangkon dan jarik batik. Fotonya bisa sendiri, dengan teman hingga bersama pasangan atau keluarga.

Sebelum baju adat sudah di Malioboro motret wisatawan tapi pakai baju biasa. Ini pakai baju adat. Ketemu dengan bapak penjual baju lurik. Terus saya tawarin buat kerjasama menyewa lurik dan beskap, jelas Habib Fatkhurrohim ditemui di kawasan Malioboro, Rabu (1/9).

Ide brilian ini mendapat respon yang luar biasa dari para wisatawan. Terbukti peminat konsep foto ini membludak. Setidaknya mencapai 10 peminat setiap harinya.

Habib menceritakan peminat lebih tinggi sebelum Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Kala itu bisa mencapai 30 peminat setiap harinya. Bahkan bisa lebih saat akhir pekan.

Jasa foto Rp 5.000 per file foto. Lalu sewa lurik Rp 20 ribu, kalau beskap Rp 25 ribu. Kalau durasinya sekitar 30 menit per sesinya. Nanti dapat 50 file bisa dipilih yang bagus dan yang disuka, katanya.

Sebelum membuka jasa foto jalanan, Habib dan temannya menekuni bisnis foto prewedding. Sayangnya pandemi Covid-19 membuat mereka tiarap. Hingga akhirnya memilih turun menjadi fotografer jalanan.

Pada awalnya Habib hanya mengambil foto secara candid. Lalu ditawarkan kepada objek foto. Selang waktu berjalan dia bertemu dengan penjual baju lurik dan beskap.

Ide baru Februari, iya karena pandemi ini prewedding enggak ada job. Lalu lari ke jalan. Candid foto dulu lalu akhirnya beralih ke pakaian adat, ujarnya.

Beragam portofolio karya bisa dilihat di Instagram miliknya @habib_fatkhurrohim. Akun media sosial ini juga menjadi kantor maya miliknya. Sehingga bisa terlebih dahulu melakukan janjian sebelum memesan jasa fotografi.

Setidaknya ada 20 orang yang tergabung dalam jasa fotografi ini. Selain para fotografer juga melibatkan pelaku usaha di Malioboro. Mulai dari penjual lurik dan beskap hingga para tukang becak.

Spot favorit di sekitar depan Kepatihan dan jalan sekitar Malioboro. Melibatkan penduduk lokal, seperti pakai jasa becak tapi kami yang bayarin. Lumayan efek buat warga sekitar, katanya.

Salah satu pengguna jasa foto Rana Sumantri Sumarna mengaku sangat antusias. Warga Depok Jawa Barat ini sengaja datang ke Malioboro bersama istri dan anaknya. Untuk kemudian berfoto dengan baju lurik.

Jasa foto pakaian adat, menurutnya adalah ide yang kreatif. Wisatawan bisa mendapatkan kenang-kenangan yang tak biasa. Berfoto dengan pakaian adat dengan latar belakang suasana Malioboro.

Tahu dari aku Instagramnya, lihat-lihat terus langsung kesini. Konsepnya bagus, mengenalkan budaya dari Jogja. Harga cukup terjangkau didompet, tidak perlu budget lebih sudah paket komplit, ceritanya.(dwi/sky)

Artikel Asli