Film Horor Jadi Primadona Selama Pandemi

Nasional | republika | Published at Rabu, 01 September 2021 - 15:55
Film Horor Jadi Primadona Selama Pandemi

REPUBLIKA.CO.ID, LOS ANGELES -- Kemampuan genre film horor menghasilkan keuntungan tampak konsisten selama masa pandemi Covid-19. Dengan biaya produksi yang cenderung lebih rendah, film-film bergenre horror tak perlu menghasilkan uang yang besar untuk bisa memberikan keuntungan.

Film Candyman merupakan salah satu bukti kokohnya pertahanan film bergenre horor pada masa pandemi. Di saat banyak film tertatih-tatih untuk meraih penjualan tiket seperti sebelum pandemi, Candyman mampu meraup 22 juta dolar AS atau sekitar Rp 314,6 miliar dari hasil penjualan tiket domestik di Amerika Serikat (AS). Candyman juga mengantongi tambahan pemasukan sebesar 5,2 juta dolar AS atau sekitar Rp 74,3 miliar dari pasar internasional.

Pencapaian ini melebihi ekspektasi box office pada masa pandemi Covid-19. Terlebih saat ini AS sedang menghadapi peningkatan kasus Covid-19 akibat varian Delta. Kondisi tersebut sempat dikhawatirkan akan membuat orang-orang takut untuk mendatangi bioskop.

Hingga saat ini, banyak bioskop di Amerika Serikat yang masih kesulitan untuk bertahan sejak kembali dibuka pada tahun lalu. Kesulitan ini makin diperberat dengan cukup banyaknya film-film populer yang dirilis di bioskop dan juga layanan streaming secara bersamaan.

Analis media senior dari Comscore Paul Dergarabedian menilai ada beberapa alasan mengapa film bergenre horor mampu mempertahankan kesuksesan semasa pandemi. Salah satunya adalah pengalaman menonton film horor yang berbeda ketika ditayangkan di dalam ruang bioskop.

Hal ini membuat banyak penonton ingin menyaksikan film horror di bioskop. "(Kesuksesan film horror di bioskop) akan terus berlanjut selama para penonton bersemangat untuk merasakan ketakutan di ruang gelap bersama dengan penonton lain," jelas Dergarabedian, seperti dilansir CNBC .

Di samping itu, film bergenre horor biasanya membutuhkan biaya produksi yang lebih kecil dibandingkan genre film lainnya. Oleh karena itu, film horor tak harus mencapai penjualan tiket yang terlalu tinggi untuk bisa mendapatkan keuntungan.

Film Candyman merupakan sekuel dari film horror klasik 1992 yang memiliki judul serupa. Film slasher dengan rating dewasa ini ditulis oleh penulis Get Out Jordan Peele dan digarap oleh sutradara film The Marvels , Nia DaCosta.

Candyman diperkirakan menghabiskan biaya produksi sebesar 25 juta dolar AS atau sekitar Rp 357,5 miliar. Dalam satu pekan pertama penayangannya, Candyman berhasil meraup pemasukan lebih dari 27 juta dolar AS atau sekitar Rp 386,1 miliar. Saat ini mungkin keuntungan yang berhasil didapatkan masih belum tampak terlalu signifikan, akan tetapi pemasukan untuk film ini masih akan terus bergulir untuk beberapa waktu ke depan.

"Anda tidak perlu merogoh banyak uang untuk membuat film yang menakutkan, dan hasil box office untuk genre ini, khususnya di masa pandemi, sangat menakjubkan," ujar Dergarabedian.

Kesuksesan serupa juga telah diraih oleh A Quiet Place Part II yang dirilis oleh Paramount. Meski penayangannya sempat tertunda akibat pandemi, film tersebut berhasil meraup keuntungan hampir 300 juta dolar AS secara global, atau sekitar Rp 4,3 triliun. Film ini diperkirakan menelan biaya produksi sekitar 22 juta dolar AS atau sekitar Rp 314,6 miliar.

Pencapaian yang sedikit berbeda dialami oleh film Black Widow dari Disney. Film ini diperkirakan menelan biaya produksi sebesar 200 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,9 triliun dan biaya pemasaran sekitar 100 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,4 triliun. Sejak dirilis pada Juli lalu, film Black Widow mendapatkan pemasukan sebesar 370 juta dolar AS atau sekitar Rp 5,3 triliun.

"Genre horor akan selalu menemukan cara untuk bertahan," ujar Profesor Adam Lowenstein dari University of Pittsburgh.

Artikel Asli