Peneliti Buktikan Janji untuk Penyembuhan Osteoarthritis

Nasional | republika | Published at Rabu, 01 September 2021 - 14:53
Peneliti Buktikan Janji untuk Penyembuhan Osteoarthritis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Osteoarthritis adalah penyakit yang melumpuhkan dan belum dapat disembuhkan. Namun, para ilmuwan di balik studi baru skala besar mengatakan temuan mereka dapat membantu menemukan jalan menuju penyembuhan.

Sekelompok peneliti internasional telah menemukan petunjuk yang menjanjikan untuk membantu mengembangkan obat osteoarthritis setelah menemukan faktor risiko genetik baru untuk penyakit tersebut.

Osteoarthritis adalah bentuk arthritis yang paling umum dan sering terjadi pada tangan, kaki, pinggul, lutut dan tulang belakang yang tidak ada obatnya. Menurut studi Global Burden of Disease 2019, penyakit ini mempengaruhi lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia, dan secara tidak proporsional menimpa wanita. Ini adalah penyebab utama kecacatan karena rasa sakit yang parah.

Osteoarthritis berkembang ketika tulang rawan pelindung yang melindungitulang di persendian mulai rusak, dan menyebabkan tulang bergesekan. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Cell pada 26 Agustus dipimpin oleh Helmholtz Center Munich di Jerman. Ini adalah studi terbesar tentang osteoarthritis hingga saat ini, termasuk data dari lebih dari 825.000 orang keturunan Eropa dan Asia Timur.

Obat di Depan Mata

Studi ini menemukan "target obat bernilai tinggi" untuk perawatan potensial. Yang disebut target obat adalah molekul dalam tubuh yang terkait dengan cara proses penyakit berlangsung, dan dapat diubah dengan menggunakan obat. Target tersebut penting dalam membantu menghentikan perkembangan penyakit dalam tubuh.

Para peneliti mampu mengidentifikasi target ini dengan menunjukkan gen yang kemungkinan menjadi penyebab osteoarthritis. Banyak dari gen ini menandakan molekul yang menjadi target obat yang disetujui.

"Kami dengan yakin mengidentifikasi 100 varian risiko genetik yang berbeda dan perubahan dalam urutan DNA untuk osteoartritis, 52 di antaranya belum pernah dikaitkan dengan penyakit ini sebelumnya," kata Eleftheria Zeggini, direktur Institute of Translational Genomics di Helmholtz Center di Mnchen.

Artikel Asli