Stop Merariq Kodeq, Cegah Kehamilan Remaja

Nasional | lombokpost | Published at Rabu, 01 September 2021 - 13:20
Stop Merariq Kodeq, Cegah Kehamilan Remaja

MATARAM Fenomena pernikahan dini di tengah pandemi Covid-19 menjadi tantangan bagi isu perempuan dan anak-anak. Mereka tidak hanya berhadapan dengan berbagai persoalan terkait sekolah daring.

Mereka juga harus berhadapan dengan maraknya pernikahan dini, kata Ketua TP PKK Provinsi NTB Hj Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah.

Wanita yang kesap disapa Bunda Niken ini menyampaikan, anak-anak (usia dibawah 18 tahun), sangat rentan melakukan pernikahan dini, terutama dimasa pandemi Covid-19. Menurutnya, dalam masa apapun, sebaiknya anak-anak tidak menikah pada usia dini.

Itu sangat rawan terhadap efek negatif, baik secara emosional hingga kesehatan, ungkapnya.

Ia pun mendorong pemuda hingga pemuka agama untuk berperan aktif dalam mencegah pernikahan dini di Provinsi NTB.

Agama masih sering dijadikan legitimasi atau alat pembenaran dalam melakukan pernikahan dini, dengan dalih menghindari perzinahan, ekonomi si anak, hingga perjodohan, ujarnya.

Memang dipastikan bila adanya pernikahan dini, maka akan terjadi kehamilan remaja. Hal inilah yang harus ditekan. Tujuannya untuk menjaga generasi emas di masa mendatang.

Kehamilan remaja menjadi isu krusial. Namun hal tersebut masih menjadi prioritas bukan yang utama selama ini dalam proses pembangunan bangsa. Terdata 31 persen wanita melahirkan pertama kali di usia remaja di bawah usia 20 tahun. Kehamilan dan melahirkan di usia remaja ini tentu saja harus menjadi konsen karena mempunyai dampak luar biasa.

Dikarenakan melahirkan dan kehamilan di usia remaja itu mempengaruhi tingkat lamanya pendidikan seorang wanita. Apalagi kesehatan reproduksi, belum terkait kesehatan wanitanya, komplikasi kehamilan. Termasuk adanya stigma sosial yang luar biasa, dan memberikan kontribusi kenaikan tingkat kematian ibu dan anak.

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali Ni Luh Eka Purni Astuti mengatakan, pemerintah sudah menaruh konsen terhadap isu pernikahan dini dan kehamilan remaja. Namun tidak dipungkiri kasus kehamilan remaja cukup tinggi.

2 dari 3 perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun hamil pertama kali juga usia di bawah 18 tahun, tuturnya.

Ni Luh menjelaskan, permasalahan kehamilan remaja ini sistemik yang harus diatasi dengan solusi sistemik. Mulai dari pencegahan melalui pendidikan edukasi seks, sampai dengan layanan profider harus juga ada yang mengakomodir kebutuhan remaja.

Kalau ini bisa, namun tidak bisa langsung, mungkin 10 tahun kedepan bisa terwujud, jelasnya.

Kader Posrem dan Anggota KPAD Lombok Haekal Ardyansyah mengatakan, kehamilan remaja banyak sekali terjadi di desa. Hal ini menyebabkan kurangnya pengetahuan remaja terkait kesehatan reproduksi, HKSR, maupun bahaya dari kehamilan remaja. Kehamilan di usia seperti ini sangat besar memengaruhi putus sekolah.

Alhamdulillah, kini kehamilan remaja di desa kami Kediri, Lobar mulai menurun. Tahun 2020 ada 22 kasus, dimana 50 persen kasus kehamilan remaja. Kini turun 9 kasus kehamilan anak dan satu kasus kehamilan tidak diinginkan, tuturnya.

Peran konselor sebaya untuk berbagai kasus ini sangat diperlukan. Namun di desa masih kekurangan konselor sebaya. Penting adanya hotline konselor sebaya untuk tempat cerita dan mengungkapkan permasalahan yang dihadapi. Ini perlu kemitraan semua pihak baik pemerintah maupun NGO.

Anak remaja lebih senang bercerita ke rekan maupun konselor sebaya, jadi ini perlu ada untuk mendampingi mencari penyelesaian masalah yang ada, imbuhnya.

Field Officer Power to You(th) Lombok Riki Ramdani mengatakan, kehamilan remaja identik dengan perkawinan anak. Yaitu menikah pada usia kurang dari 19 tahun sesuai dengan UU No 16 Tahun 2019. Tren kehamilan remaja membuat Indonesia peringkat kedua perkawinan anak tertinggi di ASEAN.

Proporsi perempuan usia 10-19 tahun pernah hamil 58,8 persen dan 25,2 persen sedang hamil di Indonesia sesuai dengan Riskesdas 2018, ujarnya.

Dijelaskan, khusus NTB ada 56,23 persen perkawinan usia 15-19 tahun di Lombok Tengah dan 53,15 persen di Lombok Timur pada tahun 2020. Proporsi perempuan usia 10-19 tahun pernah hamil 67,03 persen dan 30,80 persen sedang hamil di Indonesia.

Memang secara gambaran ini membuat kita harus menyuarakan isu ini agar bisa ditekan, tambahnya.

Dorongan apa yang terjadi ini bisa melalui Program Power to You(th). Tujuannya memperkuat orang muda untuk mengklaim ruang publik. Memperkuat organisasi sipil masyarakat (OMS). Merubah norma sosial yang mendukung praktik berbahaya melalui aktor sosial. Sehingga bisa meningkatkan penganggaran dan implementasi kebijakan terkait isu program.

Perlu mengajak kerja sama dengan mengandeng tokoh masyarakat, tokoh agama untuk mudah mengubah mindset masyarakat terkait kehamilan remaja ini, jelasnya.

Dalam mewujudkan ini memang perlu adanya kolaborasi antara program PtY dengan media. Khususnya dengan menggandeng media dan jurnalis dalam menyuarakan kehamilan remaja, perkawinan anak dan kekerasan berbasis gender dan seksual.

Meningkatkan pemberitaan positif. Mempengaruhi kebijakan-kebijakan publik. Membantu menyuarakan suara anak muda. Menjalin hubungan media yang sehat. Media mengakses data dan informasi yang tepat. Sehingga bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam hal permasalahan yang ada.

Media itu mampu menjadi jembatan antara CSO dan pemerintah. Komunikasi dan koordinasi sangat diperlukan, ujarnya. (nur/adv/r10)

Artikel Asli