Bupati Probolinggo Dan Suami Jadi Tersangka Korupsi 1 Kursi Kades Ditarif Rp 20 Juta

Nasional | rm.id | Published at Rabu, 01 September 2021 - 08:36
Bupati Probolinggo Dan Suami Jadi Tersangka Korupsi 1 Kursi Kades Ditarif Rp 20 Juta

Setelah diperiksa secara maraton selama 24 jam, Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari dan suaminya, Hasan Aminuddin, ditetapkan sebagai tersangka jual beli jabatan kepala desa. KPK menyebut, tarif untuk menjadi kepala desa sebesar Rp 20 juta per kursi.

Penetapan tersangka kasus jual beli jabatan ini, diumumkan Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata, dalam konferensi pers di Lantai 3 Gedung Penunjang KPK, Jakarta, dini hari kemarin, atau sekitar 24 jam setelah KPK melakukan OTT terhadap 10 orang di Probolinggo, Senin (30/8). Dalam pengumuman itu, KPK memamerkan lima tersangka. Selain Puput dan Hasan, KPK juga memamerkan Camat Krejengan Doddy Kurniawan, Penjabat Kades Karangren Sumarto, dan Camat Paiton Muhammad Ridwan.

Alex mengatakan, dalam kasus ini, KPK menetapkan 22 orang tersangka. Empat orang sebagai penerima suap yaitu Puput, Amin Hasan, Doddy Kurniawan, dan Muhamad Ridwan. Sementara, 18 lainnya sebagai pemberi suap. Mereka adalah Sumarto, Ali Wafa, Mawardi, Mashudi, Maliha, Mohammad Bambang, Mashuren, Abdul Wafi, Kho'im, Akhmad Saifullah, Jaelani, Uhar, Nurul Hadi, Nurul Huda, Hasan, Sahir, Sugito, dan Samsuddin.

KPK baru menahan lima tersangka untuk 20 hari pertama di Rumah Tahanan Negara (Rutan) berbeda. Sedangkan, 17 tersangka lainnya diminta menyerahkan diri untuk menjalani proses hukum. Kata Alex, sebagian tersangka masih di rumah, karena pada saat melakukan OTT, KPK tidak menangkap secara keseluruhan 22 orang. "Kami hanya melakukan penangkapan terhadap orang yang menyerahkan uang," terangnya.

Kasus ini terkait dengan akan dilaksanakannya pemilihan Kepala Desa serentak tahap II di Kabupaten Probolinggo. Pemilihan yang awalnya diagendakan pada 27 Desember 2020 diundur menjadi 9 September 2021. Terdapat 252 kepala desa dari 24 kecamatan yang selesai menjabat. Kekosongan jabatan kepala desa tersebut akan diisi penjabat kepala desa yang berasal dari para ASN di Pemkab Probolinggo dan pengusulannya dilakukan melalui Camat.

Alex menerangkan, ada persyaratan khusus, yaitu usulan nama para pejabat kepala desa harus mendapatkan persetujuan Hasan dalam bentuk paraf pada nota dinas pengusulan nama sebagai representasi dari Puput. Para calon pejabat kepala desa juga diwajibkan memberikan dan menyetorkan sejumlah uang. "Adapun tarif untuk menjadi pejabat kepala desa sebesar Rp 20 juta, ditambah dalam bentuk upeti penyewaan tanah kas desa dengan tarif Rp 5 juta per hektare," ungkap Alex.

KPK menduga, ada perintah Hasan memanggil para camat untuk membawa para kepala desa terpilih dan kepala desa yang akan purnatugas. Hasan meminta agar kepala desa tidak datang menemuinya secara perorangan, melainkan dikoordinasi melalui camat.

Pada Jumat (27/8), 12 pejabat kepala desa menghadiri pertemuan di salah satu tempat di Kecamatan Krejengan. Dalam pertemuan itu, diduga telah ada kesepakatan untuk memberikan sejumlah uang kepada Puput melalui Hasan dengan perantaraan Doddy.

Pertemuan itu dihadiri Ali Wafa, Mawardi, Maliha, Mohammad Bambang, Masruhen, Abdul Wafi, dan Kho'im. "Dari yang hadir ini telah disepakati untuk masing-masing menyiapkan uang sejumlah Rp 20 juta sehingga terkumpul sejumlah Rp 240 juta," ucap Alex.

Terungkapnya kasus jual beli jabatan ini disorot warganet. Sebagian netizen yang berasal dari Probolinggo mengaku senang dengan terungkapnya kasus ini. Seperti disampaikan @aiealfariz. Kata dia, akhirnya doa masyarakat Probolinggo selama 15 tahun terakhir terkabul.

"Pasangan suami istri ini hampir 20 tahun berkuasa di Probolinggo. Sampai dijuluki cendana kecil karena sepak terjangnya. Orang Probolinggo pasti ngerti dah," kicaunya.

Hermanto J Siregar di akun @hermantoregar geleng-geleng kepala membaca berita terkait. Kata dia, suami Puput adalah bupati 2 periode yang kini jadi anggota DPR dari NasDem. Puput sekarang melanjutkan jadi bupati. Sudah dua periode pula. "Harta pasti sudah lebih dari cukup. Kok masih korupsi? Harta dan kuasa tidak dibawa mati!" tulisnya. [ BCG ]

Artikel Asli