Alumni Covid Ngaku Sulit Konsentrasi, Menstruasi Tak Teratur

Nasional | rm.id | Published at Rabu, 01 September 2021 - 08:00
Alumni Covid Ngaku Sulit Konsentrasi, Menstruasi Tak Teratur

BrainFog atau kabut otak merupakan gejala baru dari penyakit yang disebabkan infeksi virus Corona. Sebanyak 7,5 persen sampai 31 persen pengidap Covid-19 mengalami gejala seperti sakit kepala, sulit berkonsentrasi, merasa kebingungan dan mental terganggu.

Satgas.relawan mengunggah meme yang berkaitan dengan brain fog yang menjadi salah satu gejala Long Covid . Faktor pemicu Brain Fog , antara lain, stres, kualitas tidur yang buruk, perubahan hormon progesteron dan estrogen, pola makan yang buruk hingga kekurangan vitamin B12.

Termasuk juga penyebab lainnya. Yaitu, kondisi medis yang terkait peradangan, kelelahan atau perubahan kadar glukosa darah, jelas dia.

Satgas.relawan juga membagikan berbagai macam aktivitas dan makanan yang dapat menghindari brain fog . Yaitu, menerapkan pola makan sehat, olahraga ringan, berpikir positif dan istirahat serta tidur cukup. Yuk, bersama ketahui dan hindari penyebabnya, ujar satgas.relawan.

Menurut @Netatris , berdasarkan hasil Konferensi Internasional Asosiasi Alzheimer atau Alzheimers Association International Conference pada 29 Juli 2021 di Denver, Colorado ditemukan, banyak penyintas Covid-19 mengalami kabut otak dan gangguan kognitif lainnya.

Itu terjadi beberapa bulan setelah pemulihan, kata @Netatris . Brain fog atau kabut otak dan gejala kerusakan otak lainnya bisa menjadi gejala jangka panjang pasca seseorang terinfeksi Covid-19, ujar @AdiLuhur13 .

Akun @swaragamafm menambahkan, dari analisis data 13 ribu penyintas Covid-19 yang ikut Great British Intelligence Test tahun 2020 ditemukan adanya kabut otak. Yaitu, kondisi sulit konsentrasi dan kesulitan menemukan kata-kata yang benar yang dialami para penyintas Covid-19.

Brain fog alias kabut otak membuat orang pikun, nggak fokus, gampang lupa, sesaat sama parosmia, imbuh @nklshrw .

Sebagai alumni Covid-19, @hkfh mengaku sekarang menjadi semakin bloon. Bahkan, hasil sharing sesama alumni Covid-19, juga merasakan hal yang sama. Ternyata emang ada efek macam brain fog , kata dia.

Akun @jsskaton menyambung, salah satu temannya tidak hanya mengalami kabut otak, tapi juga sampai gangguan hormonal, mens jadi tidak teratur. Dia berkeyakinan, reseptor virus Corona ada di mana-mana dan tidak hanya di saluran napas.

Kawanku baru negatif sebulan lalu. Tapi sampai sekarang masih sering lemas dan brain fog . Kupikir habis negatif langsung sehat, ujar @rafikayh .

Akun @RaniKancana_ mewanti-wanti

bahaya Covid-19. Walaupun sudah sembuh, para penyintas tidak bisa kembali normal seperti semula. Mulai dari yang mengalami demam, mimisan dan kabut otak.

Stay safe ya teman-teman, kata @RaniKancana_ mengingatkan.

Akun @PutraBangsa1989 menyarankan masyarakat yang telah pulih dari Covid-19 melakukan pemeriksaan dan latihan pasca Covid. Yaitu, untuk merangsang fungsi otak agar secara akurat bisa mengenali rasa, bau dan aroma yang tepat seperti sebelum terinfeksi virus asal Wuhan, China itu.

Yuk, terapkan protokol kesehatan, hindari kerumunan dan kurangi bepergian, sehingga kita dapat memutus rantai penyebaran virus ini, ajak @damisariwana . [TIF]

Artikel Asli