Bukukan Risalah Pembahasan, Luncurkan Biografi Mengawal Kelahiran UUK

Nasional | radarjogja | Published at Rabu, 01 September 2021 - 07:43
Bukukan Risalah Pembahasan, Luncurkan Biografi Mengawal Kelahiran UUK

RADAR JOGJA Ada dua peristiwa penting bagi Aryanti Luhur Tri Setyarini yang waktunya saling berdekatan dan diperingati setiap tahun. Pertama, ulang tahun kelahirannya 20 September. Kedua, Hari Keistimewaan DIJ 31 Agustus. Setiap 31 Agustus saya rutin nyekar ke Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede dan Imogiri, ucap Ririn, sapaan akrabnya, Selasa (31/8). Aktivitas itu dilakoni sejak beberapa tahun silam. Tepatnya setelah UU No. 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIJ disahkan. Momentumnya bertepatan dengan 31 Agustus 2012.

KUSNO S. UTOMO, Jogja, Radar Jogja

Ziarah ke pusara para leluhur Mataram itu dinilai Ririn penting dilakukan. Sebab, dia merasa lancarnya pembahasan RUUK karena adanya restu leluhur. Di samping itu, dukungan Pemprov, DPRD DIJ, keraton, Pakualaman, pemerintah pusat dan DPR RI. Ditambah berbagai elemen masyarakat. Saya sangat merasakan itu, kenangnya.

Selama 18 bulan Ririn yang kala itu menjabat Kasubag Fasilitasi RUUK DIJ di Biro Tata Pemerintahan Setprov DIJ berjibaku mengawal pembahasan RUUK. Mulai dari masa sidang Januari 2011 hingga Agustus 2012. Dia harus bolak-balik Jogja-Jakarta pulang pergi. Satu bulan dia bisa tiga empat kali ke Jakarta. Saya didampingi suami naik mobil pribadi. Waktu itu belum ada jalan tol, tuturnya.

Meski agendanya padat, Ririn tak pernah capek. Dia justru merasa seperti mendapatkan tambahan energi. Ia pernah tidak tidur dua hari dua malam. Dia ngelembur. Khusus menyiapkan materi RUUK yang akan diserahkan ke pemerintah dan DPR. Ada banyak catatan dan pengalaman yang sulit dilupakan.

Kala itu, alumnus Fakultas Hukum UGM itu merasa enjoy dengan tugas itu. Ditambah saat itu kolaborasi antara dirinya dengan atasan dan staf di sub bagian yang dipimpinnya berjalan kompak.

Perempuan yang menjadi PNS dengan penempatan pertama di Kulonprogo itu merasa mendapatkan kepercayaan dan dukungan penuh dari atasannya. Dia diberikan keleluasaan berkomunikasi dengan banyak pihak.

Atasan itu, antara lain, Sekprov DIJ 2011-2016 Ichsanuri, salah satu Kabag di biro tapem Haryanta yang kemudian menjadi kepala biro dan sekarang menjabat Sekwan DPRD DIJ. Ririn juga merasa sangat terbantu dengan stafnya Agustina Pangestujati. Kini Tina, panggilan akrab Agustina, telah menduduki posisi Kabag di Biro Tata Pemerintahan Setprov DIJ.

Tentu juga support dari Ngarsa Dalem Sultan HB X, Kanjeng Ratu Hemas yang saat itu menjabat wakil ketua DPD RI dan saya tidak bisa sebutkan satu demi satu, kenangnya. Dari sekian pengalaman itu, Ririn mencatat ada satu pernyataan HB X yang seakan-akan tahu sebelum terjadinya peristiwa.
Beliau ngerti sakdurunge winarah. Waktu itu beliau jauh-jauh hari ngendika UUK rampung dibahas Agustus 2012. Terbukti RUUK disetujui di DPR 30 Agustus dan disahkan Presiden sehari kemudian, 31 Agustus. Kalau mundur sehari sudah September, ceritanya.

Kisah menarik lainnya saat Panitia Kerja Komisi II DPR RI mengadakan konsinyering di Putri Duyung Ancol, Jakarta. Ketua Tim Perumus dan Sinkronisasi Ganjar Pranowo membutuhkan pulpen warna merah. Saat itu staf Setwan DPR RI tidak menyediakan.

Saya berinisiatif mencarikannya dan nemu di dekat Hotel Alexis. Ada warung kaki lima yang jual, tutur Bambang, suami Ririn yang mengaku tidak bisa melupakan pengalaman itu. Maklum, saat itu Alexis sangat kesohor namanya sebagai salah satu pusat hiburan malam di ibu kota. Tapi saya nggak masuk lho, hanya di sampingnya, ucap Bambang, sembari tertawa lepas.

Semua catatan dan pengalaman mengawal kelahiran UUK DIJ itu bakal dituangkan Ririn dalam sebuah biografi. Judulnya Mengawal Kelahiran Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Catatan dan Pengalaman Saksi Sejarah. Soft opening telah dilakukan dalam sebuah diskusi refleksi 9 tahun UUK DIJ di Kafe Nasi Langgi Dusun Tlogo, Ambarketawang, Gamping, Sleman.

Soft opening itu dilakukan bersamaan dengan peluncuran buku Risalah Pembahasan UUK DIJ yang dihimpun Ririn. Sumbernya dari rapat-rapat kerja Komisi II DPR RI. Risalah itu setebal 350 halaman. Nanti diterbitkan dalam tiga jilid, karena total risalah mencapai lebih dari 1.500 halaman, jelasnya.

Ririn sengaja menyusun risalah dan biografi itu dalam sebuah buku. Tujuannya sebagai warisan buat anak cucunuya kelak di kemudian hari. Juga bagi siapa pun yang ingin mempelajari sejarah UUK, kata ASN yang telah berpindah tugas lebih dari tujuh kali ini.

Dia juga ingin publik harus tahu. Harus ada yang menjelaskan ke masyarakat DIJ. Terutama kepada para generasi muda. Mereka bakal ketiban sampur menjaga dan meneruskan keberlangsungan Keistimewaan DIJ, lanjutnya.

Mengapa DIJ istimewa? Berbeda dengan provinsi yang lain di Indonesia. DIJ sebagai daerah otonom mempunyai keistimewaan kedudukan hukum dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan. Kalau daerah lain hanya punya urusan wajib dan urusan pilihan sesuai undang-undang pemerintahan daerah, tidak demikian halnya dengan DIJ. (laz)

Artikel Asli