Tim Mahasiswa UM Surabaya Ciptakan Propedi untuk Bantu Petani

Nasional | jawapos | Published at Rabu, 01 September 2021 - 07:48
Tim Mahasiswa UM Surabaya Ciptakan Propedi untuk Bantu Petani

Kuliah kerja nyata (KKN) dengan konsep back to village terus dikembangkan Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya. Mahasiswa pun berlomba-lomba menciptakan inovasi untuk solusi masalah masyarakat desa. Salah satunya, propedi (prototipe pengendali hama padi berbasis internet of things).

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya

PROTOTIPE pengendali hama padi (propedi) berbasis internet of things (IoT) dipamerkan di halaman Gedung At Tauhid Tower Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya kemarin (30/8).

Alat tersebut mencuri perhatian Wakil Rektor UM Surabaya Dr Ridlwan ketika meninjau pameran inovasi itu.

Suara khas pengusir burung dan hama tikus yang kerap terdengar di sawah begitu nyaring. Sumbernya dari alat pengendali hama yang dioperasikan Abdul Muis dan Mizan Nurul Muksid, perwakilan tim inovator propedi melalui smartphone.

Ini adalah prototipe pengendali hama padi berbasis internet of things (IoT). Jadi, bisa dikendalikan dari jarak jauh hanya dengan smartphone, kata Muis.

Alat tersebut sekilas mirip robot sederhana. Tingginya hampir 2 meter. Bagian atas dilengkapi solar cell sebagai sumber energi utama dari cahaya matahari yang dikonversi menjadi energi listrik.

Kemudian, energi listrik itu diteruskan ke tiga komponen yang menjadi fungsi unggulan prototipe tersebut.

Dalam alat ini ada tiga komponen yang ditonjolkan untuk mengendalikan hama padi, ujar mahasiswa Teknik Arsitektur UM Surabaya itu.

Muis menjelaskan, komponen pertama adalah pengusir burung dengan motor DC untuk penggeraknya.

Ketika aplikasi dalam smartphone ditekan tombol on, secara otomatis kaleng bergerak mengeluarkan bunyi yang nyaring.

Biasanya para petani menyebutnya klintingan. Jadi, kalau ada burung, kaleng-kaleng yang dipasang di sepanjang sawah digerak-gerakkan. Modelnya seperti itu. Hanya, ini bisa dikendalikan lewat smartphone, imbuhnya.

Komponen kedua adalah pengusir tikus melalui suara ultrasonik. Komponen ketiga, pengendali hama wereng dengan menggunakan cahaya. Alat tersebut sudah dipasangi sensor cahaya LDR. Jadi, setiap malam tiba, lampu pada alat itu secara otomatis menyala.

Hama wereng ini aktif pada malam hari. Hama wereng sifatnya menyukai cahaya, kata dia.

Jika ada cahaya, hama wereng akan terpikat mendekatinya. Ketika mendekati cahaya tersebut, sudah ada ember yang berisi air detergen. Hama wereng akan mati setelah terkena air detergen, imbuhnya

Mizan menambahkan, ide inovasi tersebut berawal dari banyaknya petani di Lamongan, tempat KKN mereka, yang lebih sibuk mengurus hama sepanjang hari dibandingkan mengikuti program-program yang sudah dibuat oleh tim. Dari situlah, timnya membuat inovasi propedi sebagai solusi pengendali hama padi.

Alat ini sudah berbasis IoT. Jadi, petani bisa mengontrol hama dengan smartphone saja. Tidak perlu datang ke sawah sepanjang hari, ujarnya.

Mizan mengatakan, alat yang dibuat tersebut sudah diuji coba ke petani di sejumlah desa di Lamongan. Hasilnya, alat itu bisa mengendalikan hama tikus, burung, dan wereng secara efektif. Daya jangkaunya setengah hektare sawah, katanya.

Mizan berharap alat tersebut dapat terus dikembangkan lagi. Khususnya untuk pendeteksi hama burung, tikus, dan wereng. Jadi, petani bisa mengetahui dan mengontrol ketika ada hama yang menyerang sawah.

Penginnya dikembangkan agar bisa mendeteksi hama. Jadi, kalau ada hama, alarm berbunyi dan petani bisa mengendalikannya lewat handphone, jelasnya.

Warek I UM Surabaya Ridlwan mengatakan, inovasi teknologi tepat guna (TTG) tersebut dihasilkan untuk memberikan solusi di desa-desa yang dijadikan tempat KKN mahasiswa. Banyak inovasi yang menarik dan solutif.

Inovasi ini rencananya didaftarkan ke hak kekayaan intelektual (HKI), katanya.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Dede Nasrullah mengungkapkan, KKN pada masa pandemi kali ini mengusung konsep back to village. Mahasiswa dituntut untuk memberikan solusi dengan membuat inovasi yang tepat guna.

Ada 1.182 mahasiswa yang menjalani KKN saat ini. Mereka menyebar di seluruh wilayah Indonesia. Ada juga yang di Thailand, ujarnya.

Artikel Asli