Empat Polisi Jadi Korban Pendukung Habib Rizieq, Seorang AKBP Sempat Pingsan Lama

Nasional | radartegal | Published at Rabu, 01 September 2021 - 05:20
Empat Polisi Jadi Korban Pendukung Habib Rizieq, Seorang AKBP Sempat Pingsan Lama

Empat anggota polisi menjadi korban amukan massa Habib Rizieq Shihab. Mereka diserang usai Hakim Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menolak banding yang diajukan Habib Rizieq.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Hengki Haryadi mengatakan empat anggota polisi menjadi korban serangan massa pendukung Muhammad Rizieq Shihab (MRS). Penyerangan terjadi saat aksi penyampaian pendapat di kawasan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Senin (30/8).

"Mereka adalah Kabag Ops Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Guntur, Kasat Intel Polres Metro Jakarta Pusat dan dua anggota Sabhara Polda Metro Jaya," ungkapnya, Selasa (31/8).

Dijelaskannya, para korban tidak mengalami luka berat. Namun, Kabag Ops Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Guntur sempat terjatuh dan tak sadarkan diri.

"Pingsan lama, dia sempat jatuh kemudian siuman. Lagi dipukuli, dikeroyok," katanya.

Disebutkannya, dalam aksi penyampaian pendapat yang berujung ricuh itu, petugas gabungan menangkap 27 simpatisan MRS yang digiring ke Polda Metro Jaya dan sembilan orang lainnya dibawa ke Polres Metro Jakarta Pusat, Senin (30/8) lalu.

Dari sejumlah massa yang diamankan, empat orang di antaranya berusia di bawah umur, sehingga dijemput oleh orang tuanya.

"Sebanyak 27 ke Polda, kemudian sembilan orang di Polres Jakpus di antaranya empat orang di bawah umur langsung koordinasi dijemput orang tuanya," ujarnya.

Sementara Kapolsek Cempaka Putih Kompol Ade Rosa menyebut kericuhan berawal usai Majelis Hakim Pengadilan Tinggi DKI Jakarta membacakan putusannya sejak pukul 10.00 WIB. Massa pendukung kemudian dipersilakan pulang oleh petugas.

"Namun, para pendukung justru melawan dengan melemparkan batu ke petugas gabungan yang sedang mengamankan aksi," katanya.

Petugas pun bersikap dengan menembakkan gas air mata untuk menghalau massa menjauh dari lokasi Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. "Hal itu dilakukan petugas untuk memukul mundur massa menjauh dari objek," katanya. (gw/zul/fin)

Artikel Asli