Melebarnya Ketimpangan Ancam Kohesi Sosial dan Stabilitas

Nasional | koran-jakarta.com | Published at Rabu, 01 September 2021 - 00:04
Melebarnya Ketimpangan Ancam Kohesi Sosial dan Stabilitas

Digitalisasi akan berdampak terhadap kesempatan ekonomi dan formasi sumber daya manusia ke depan.

Indonesia harus membuat model perekonomian yang resilien, inklusif, dan berkelanjutan.

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutan secara daring pada Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) XXI mengatakan sinyal pemulihan ekonomi global sudah sangat terasa. Hal itu terlihat dari perbaikan aktivitas industri manufaktur, makin menggeliatnya kegiatan perdagangan baik ekspor maupun impor, serta meningkatnya harga komoditas.

Tanda-tanda pemulihan ekonomi global terlihat pada proyeksi berbagai lembaga keuangan internasional yang memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) global akan membaik pada akhir 2021 dan berlanjut hingga 2022.

Dana Moneter Internasional (IMF) misalnya, telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global mencapai 6,0 persen pada 2021 dan 4,9 persen pada 2022.

Perbaikan ekonomi global, papar Presiden, berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional yang terus menunjukkan perbaikan. Hal itu, kata Jokowi, karena kebijakan pemerintah selalu menyeimbangkan antara kepentingan aspek kesehatan dan ekonomi.

Selain itu, upaya berbagai beban ( pain sharing ) antara otoritas fiskal dan moneter juga berkontribusi untuk memulihkan ekonomi. Hal itu yang mendorong ekonomi Indonesia pada kuartal II 2021 bisa tumbuh hingga 7,07 persen secara tahunan ( year on year /yoy).

"Kita bersyukur berkat sinergi berbagai pihak untuk pain sharing baik kebijakan fiskal dan moneter, serta menjaga keseimbangan rem dan gas antara ekonomi dan kesehatan," kata Presiden.

Selain pertumbuhan ekonomi 7,07 persen (yoy) pada kuartal II 2021, Kepala Negara juga menyebut laju inflasi nasional yang terkendali pada level 1,5 persen (yoy) pada Juli 2021.

Sementara itu, pertumbuhan ekspor meningkat signifikan 31,8 persen, dan konsumsi masyarakat mulai tumbuh 5,9 persen di kuartal II-2021. "Investasi tumbuh sangat baik 7,5 persen, indeks kepercayaan pemerintah juga naik dari 97,6 menjadi 115,6," kata Presiden.

Tiga Tantangan

Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN ESCAP) untuk wilayah Asia Pasifik, Armida Alisjahbana, saat berbicara dalam kongres ISEI mengatakan terdapat tiga tantangan kebijakan untuk menjaga stabilitas perekonomian. "Pertama, makin melebarnya ketimpangan yang mengancam kohesi sosial dan stabilitas," kata Armida.

Kedua, soal disrupsi struktural karena adanya transformasi pascapandemi Covid-19. Terakhir, digitalisasi yang berkembang di tengah pandemi Covid-19 juga akan berdampak terhadap kesempatan ekonomi dan formasi sumber daya manusia ke depan.

"Permasalahannya, terdapat perbedaan antara perkembangan digitalisasi antara negara maju dan Indonesia, di mana di Indonesia akses kepada teknologi digital masih senjang sehingga belajar dan bekerja jarak jauh masih kurang efektif," kata Armida.

Oleh karena itu, Indonesia ke depan tidak sekadar memulihkan perekonomian agar stabil dan berkelanjutan dalam jangka panjang, tetapi juga membuat model perekonomian yang resilien, inklusif, dan berkelanjutan.

Pemerintah di tengah pandemi Covid-19, katanya, sebetulnya telah belajar bahwa perekonomian Indonesia perlu diperkuat dalam menghadapi goncangan. Selain penyebaran virus, perekonomian juga perlu diperkuat dalam menghadapi goncangan non-ekonomi lainnya, seperti bencana alam dan perubahan iklim.

"Pemulihan pertumbuhan ekonomi tidak akan menjadikan perekonomian kita stabil dan berkelanjutan dalam jangka panjang, jadi yang harus kita tuju bagaimana model ekonomi yang resilien, inklusif, dan berkelanjutan," jelasnya.

Negara-negara di Asia Pasifik, tambah Armida, sebetulnya telah mengarah ke arah yang tepat dengan memprioritaskan perbaikan kesehatan publik dan pemulihan ekonomi ke arah yang lebih baik. Negara-negara di Asia Tenggara juga telah berkehendak untuk bekerja sama dalam mengatasi Covid-19.

Sementara itu, Peneliti Ekonomi CORE, Yusuf Rendi Manilet, mengatakan yang diperlukan pemerintah saat ini adalah mempertahankan momentum pertumbuhan ekspor. Pemerintah jangan hanya fokus pada global, tetapi mendorong proses pemulihan ekonomi domestik seperti konsumsi masyarakat dan juga investasi.

"Proses reopening secara bertahap harus berpacu dengan proses vaksinasi dan meningkatkan kapasitas tes, tracing , dan isolasi.

Artikel Asli