Loading...
Loading…
Mengenang Letusan Gunung Krakatau 1883, Lampu Suar dan Jangkar di Bandar Lampung Jadi Bukti

Mengenang Letusan Gunung Krakatau 1883, Lampu Suar dan Jangkar di Bandar Lampung Jadi Bukti

Nasional | inewsid | Jumat, 27 Agustus 2021 - 06:27

JAKARTA, iNews.id - Tanggal 26 Agustus 1883 atau 138 tahun silam, Selat Sunda diguncang letusan Gunung Krakatau. Letusan dahsyat itu konon mencapai benua Eropa dan menyebabkan perubahan cuaca serta iklim secara global.

Bahkan, letusan Krakatau menimbulkan tsunami setinggi dua meter. Sejumlah literatur menyebutkan letusan Gunung Krakatau yang disusul bencana tsunami itu menyebabkan puluhan ribu bahkan hingga ratusan ribu warga Banten dan Lampung kehilangan nyawa.

Permukiman penduduk di dua provinsi tersebut, terutama yang berada di tepi pantai habis tersapu oleh tsunami. Bencana alam dahsyat ini membuat Hindia Belanda (Indonesia kala itu) dan dunia berkabung.

Letusan Gunung Krakatu pada 1883 bukanlah yang pertama. Gunung berapi ini pernah meletus pada 1680 namun hanya menghasilkan lava andesitik asam. Lalu pada 1880, Gunung Perbuwatan, gunung api di sebelah Krakatau aktif mengeluarkan lava meskipun tidak meletus.

Setelah itu, tidak ada lagi aktivitas vulkanis di Krakatau hingga 20 Mei 1883. Pada hari itu, setelah 200 tahun tertidur, terjadi ledakan kecil pada Gunung Krakatau. Puncaknya terjadi pada 26 Agustus 1883, Krakatau meletus dan mengempaskan semua energi serta material yang dikandungnya.

Jejak dahsyatnya letusan Gunung Krakatau dibuktikan dengan benda-benda laut yang terlempar sangat jauh hingga ke tengah-tengah kawasan permukiman penduduk di Telukbetung, Kota Bandar Lampung.

Benda-benda berupa rambu laut dan lampu mercusuar yang semula berada di tepi pantai tersebut terlempar jauh ke tengah kota. Salah satu lampu suar yang diempaskan oleh dahsyatnya letusan Krakatau ditemukan di Kampung Upas, Teluk Betung.

Rambu laut itu semula berada di Pelabuhan Gudang Agen yang berjarak sekitar 1,2 kilometer dari Kampung Upas. Untuk mengingat peristiwa dahsyat itu, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Monumen Krakatau dengan ornamen utama rambut laut tersebut pada sekitar 1884-1885.

Monumen ini berada di tengah-tengah Taman Dipangga, Jalan WR Supratman, Telukbetung Selatan, Kota Bandar Lampung, tepat di depan Mapolda Lampung. Di bagian sisi monumen berhiaskan relief yang menceritakan peristiwa dahsyat lebih dari satu setengah abad lampau tersebut.

Terlihat relief masyarakat kala itu berbondong-bondong mengungsi dengan membawa barang-barang yang diletakkan di atas kepala. Kemudian, ada juga gambar relief Krakatau meletus dan kehidupan masyarakat di pesisir pantai.

Jarak lokasi ini cukup jauh, sekitar 45 kilometer lebih dari Gunung Krakatau di Selat Sunda. Taman Dipangga tempat monumen mercusuar itu pun berada di dataran tinggi. Ini membuktikan dahsyatnya letusan dan tsunami Krakatau pada 1883.

Selain di Kampung Upas, terdapat pula rambu laut yang terlempar hingga Kampung Talang, Kecamatan Telukbetung Selatan. Kemudian jangkar dan lampu suar yang kini disimpan di Museum Negeri Lampung, Jalan ZA Pagar Alam.

Dulu juga ada kapal dagang Belanda, berukuran panjang 20-an meter yang terdampar sampai Sumur Putri, dua kilometer dari bibir pantai di Gudang Agen. Namun kapal tersebut kini sudah tidak ada karena material kapal seperti besi dan kayu dimanfaatkan masyarakat untuk dijual.

Letusannya Membelah Jawa dan Sumatera

Volkanolog ITB, Dr Eng Mirzam Abdurrachman ST MT mengatakan Gunung Krakatau yang berada di tengah-tengah Selat Sunda merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia. Leluhur Gunung tersebut sering disebut sebagai Proto Krakatau atau Krakatau Purba.

Dr Mirzam mengatakan, pada era kegelapan berkisar 600.000 tahun lampau, menurut hipotesis beberapa ilmuwan, terjadi letusan gunung api pada daerah ekuator bumi sekitar 100.000 tahun silam dengan 27 titik di antaranya berada di Indonesia.

"Letusan yang terjadi pada Proto Krakatau diprediksi menghasilkan kaldera dan membelah Pulau Jawa dan Sumatera," kata Mirzam dalam Geoseminar 2020 yang digelar Pusat Survei Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara daring bertema Gunung Api (Past, Present & Future)".

Dalam presentasi berjudul, Dinasti Krakatau: Era Kegelapan, Hindia Belanda, dan Indonesia, Dr Mirzam mengemukakan, para masa Hindia Belanda mulai dilakukan penyusunan peta topografi dan vulkanologi yang dibuat oleh Junghuhn selama dua periode hingga 1855.

Dr Mirzam mengatakan, letusan Gunung Krakatau pada 26 Agustus 1883 menjadikan gugusan Gunung Krakatau yang semula mencakup wilayah cukup luas, terpecah-pecah menjadi beberapa pulau saat ini.

Dampak yang ditimbulkan dari letusan tersebut adalah terjadinya gelombang besar atau tsunami di wilayah Selat Sunda yang ditaksirkan menelan korban 200.000 jiwa. Pascaletusan 1883 juga dilakukan penelitian terkait dampak-dampaknya.

Gelombang pasang yang tercatat terjadi di seluruh dunia dengan ketinggian gelombang relatif beragam, kata Dosen dari Kelompok Keahlian Petrologi Vulkanologi dan Geokimia FITB-ITB ini.

Seusai letusan dahsyat pada 1883, Gunung Krakatau terbelah menjadi dua. Dua bagian itu pun tumbuh menjadi gunung api. Orang-orangnya menyebutnya sebagai Gunung Anak Krakatau.

Dr Mirzam mengatakan, Gunung Anak Krakatau terus mengalami pertumbuhan dikarenakan posisinya yang terletak pada persilangan antara Pulau Jawa dan Sumatera. Ada aktivitas vulkanis yang tidak hanya berasal dari satu sumber, menyebabkan Gunung Anak Krakatau tumbuh signifikan dan arah letusannya pun cenderung menuju barat daya.

Sejalan dengan arah sobekan Jawa-Sumatera, pulau-pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau juga menunjukkan jejak letusan ke arah barat daya, ujar Dosen Teknik Geologi ITB ini.

Dr Mirzam menuturkan, sejauh ini tsunami pada 2018 akibat letusan Gunung Anak Krakatau diperkirakan dapat terjadi oleh empat mekanisme, yaitu letusan gunung api di bawah air (volcanogenic tsunami), longsoran (air masuk ke daratan), gunung api meletus membentuk kaldera (gunung api muncul di permukaan), dan aliran piroklastik (tsunami pada bagian depan gunung dengan kecepatan gelombang 150-250 km/jam).

Sejarah Panjang Krakatau

Sementara itu, dalam laman geologi.esdm.go.ide, dijelaskan, dulunya Gunung Krakatau memiliki tiga tubuh gunung yakni Gunung Rakata, Danan, dan Perbuatan. Ketiga tubuh gunung ini saling bertumpuk.

Pada erupsi dahsyat pada 26 Agustus 1883, tubuh Gunung Danan dan Perbuatan hancur dan hilang. Sedangkan tubuh Gunung Rakata tersisa setengahnya. Setelah megaletusan itu, terbentuk kaldera di bawah permukaan laut dengan diameter sekitar tujuh km. Muncul pula tiga gugusan pulau, yakni sisa Gunung Rakata, Pulau Sertung, dan Panjang.

Ketiga gugusan pulau ini membentuk segitiga. Pada 1927, peneliti gunung api asal Belanda menemukan di bekas tubuh Gunung Danan yang telah hilang dari permukaan, keluar erupsi dari dasar laut. Pada 29 Desember 1929, muncul kerucut di atas permukaan laut.

Ini menandai Gunung Anak Krakatau muncul ke permukaan. Jika dihitung dari 1927 sampai sekarang, sekitar 91 tahun, tinggi Gunung Anak Krakatau saat ini mencapai 300 meter. Artinya, gunung ini tumbuh, ketinggannya rata-rata bertambah tinggi tiga meter tiap tahun.

Original Source

Topik Menarik

{