Sebagai Jembatan Adaptasi Aturan Pemerintah

radarjogja | Nasional | Published at Minggu, 22 Agustus 2021 - 08:36
Sebagai Jembatan Adaptasi Aturan Pemerintah

RADAR JOGJA Helm ciduk, helm legendaris sebelum aturan standar helm diterapkan pemerintah. Helm ciduk memiliki bentuk yang simpel, tidak berkaca, di bagian dalam juga tak ada busa dan enteng. Helm ini serupa dengan helm proyek. Tetapi lebih ringan daripada helm proyek.

Sosiolog kriminalitas UGM Suprapto mengatakan, penggunaan helm ciduk ini semata-mata menjembatani adaptasi menggunakan helm atau pelindung kepala saat berkendara. Mengikuti aturan pemerintah. Helm ini sudah muncul sejak Kapolri Hoegeng Imam Santoso. Tepatnya, antara tahun 1968 sampai 1971.
Kendati demikian, orang menggunakan helm ini sangat jarang. Pada 1975 ke bawah orang menggunakan helm itu masih dianggap tak lazim, ungkap Suprapto dihubungi Radar Jogja Jumat (20/8).

Dikatakan tak lazim, karena kesadaran pentingnya alat pelindung kepala dalam berkendara belum terbentuk. Tak sedikit masyarakat yang menolak untuk memakai helm. Mereka justru mencurigai pemerintah bekerjasama dengan perusahaan helm.

Saat pemakaian kendaraan mulai meningkat dan kecelakaan kerap terjadi hingga menyebabkan gegar otak pada pengendara, maka muncul wajib helm. Pada 1976 ke atas, kesadaran pakai helm perlahan meningkat. Tapi masih sebatas helm ciduk. Meski helm kaca sebenarnya juga mulai bermunculan.

Helm ciduk mulai digemari karena simpel. Meski dari sisi keamannannya belum ideal. Tidak ada kaca pelindung dan gabus di dalamnya. Sehingga apabila saat berkendara jatuh ke depan, tak ada perlindungan di bagian muka, menyebabkan muka babak belur. Bila dibandingkan helm biasa persentase perlindungannya 40 persen.

Helm ciduk digemari cukup lama. Bahkan era 1980 penggunannya masih masif. Barulah pada 1990-an dan kendaraan semakin berkembang, dari model motor CB 100 menjadi kendaraan besar (laki-laki) kawasaki. Tren gaya bermotor dan menggunakan helm pun turut berubah. Dari motor CB 100 dengan helm ciduk, tak memakai jaket, kemudian beralih menjadi motor besar dengan memakai jaket dan helm cakil.

Helm cakil, helm yang bagian mulut dan dagu tertutup. Sementara di bagian tengah muka terdapat kaca. Ini banyak digandrungi. Pada 1995 kebijakan menggunakan helm standar mulai muncul. Nah, saat itu helm ciduk mulai ditinggalkan dan berganti helm kaca.

Dulu saya pakai helm ciduk suka dicibir pak lurah teko (datang, Red) sama teman SMA, karena tak lazim. Namun perlahan helm menjadi kebutuhan wajib berkendara, kata dia.

Nah, dalam ilmu sosiologi perilaku dia pada saat itu disebut deviant atau pelaku penyimpangan. Sebab, perilaku menyimpang karena tidak lazim. Namun karena ada peraturan, maka terjadilah deviasi normal. Yaitu perilaku yang dulunya dianggap menyimpang, menjadi perilaku yang membudaya. Sehingga istilah pak lurah teko sudah tidak ada lagi, ungkapnya. (mel/laz)

Artikel Asli