Kasus Kematian Covid Tertinggi Di Dunia Kita Duka Mendalam

rm.id | Nasional | Published at Minggu, 22 Agustus 2021 - 08:10
Kasus Kematian Covid Tertinggi Di Dunia Kita Duka Mendalam

Kasus Covid-19 di Indonesia terus berangsung turun. Tapi sayangnya, kasus kematiannya masih tinggi. Bahkan dalam empat hari terakhir menjadi yang tertinggi di dunia. Sungguh duka yang mendalam.

Secara perlahan-lahan, kasus Corona di Indonesia terus menurun. Kemarin misalnya, merujuk data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), ada tambahan kasus 16.744 orang. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan sehari sebelumnya yang mencapai angka 20 ribuan. Dengan penambahan ini, total kasus Corona semakin mendekati 4 juta kasus, tepatnya 3,967 juta kasus.

Sayangnya, ketika kasus baru turun, kasus kematian terus bertambah. Sejak pertengahan Juli lalu, kasus kematian akibat Corona selalu di atas 1.000 jiwa per hari. Kemarin misalnya, ada tambahan kasus kematian sebanyak 1.361 orang. Angka ini naik tipis jika dibandingkan dengan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 1.348 kasus.

Satgas Penanganan Covid-19 mencatat, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, masih menjadi penyumbang terbanyak kasus pasien Corona yang meninggal. Tiga provinsi itu menyumbang angka kematian secara berurutan 343 kasus, 311 kasus, dan 213 kasus.

Dengan penambahan tersebut jumlah kasus kematian menjadi 125.342 atau 3,16 persen. Rasio kematian ini lebih tinggi dari rasio kematian rata-rata dunia yang berada di angka 2,2 persen.

Menurut data Worldmeter, angka kematian per Sabtu kemarin merupakan angka kematian tertinggi di dunia. Setelah Indonesia di posisi kedua ada Rusia (797), lalu diikuti Meksiko (761), dan Iran (544).

Dengan penambahan ini, sudah empat hari berturut-turut Indonesia mencatatkan angka kematian tertinggi di dunia. Kasus kematian tertinggi pada 19 Agustus lalu saat angka kematian menyentuh 1.492 kasus. Sedangkan sebelumnya, 18 Agustus sekitar 1.128 kasus dan pada Jumat (20/8), kematian harian di Indonesia mencapai 1.348 kasus.

Presiden Jokowi ikut menyoroti tingginya angka kmematian di Tanah Air, khususnya di Jawa Timur yang rasionya mencapai 7,1 persen. Hal tersebut disampaikan Jokowi saat memberikan pengarahan kepada Forum Komunikasi Pimpinan Daerah se-Provinsi Jawa Timur, Kamis (19/8). Video arahan tersebut dibagikan Istana sehari kemudian.

Jokowi menduga, penyebab tingginya angka ini dikarenakan pasien yang melakukan isolasi mandiri. Selain itu, mereka yang bergejala berat terlambat dibawa ke rumah sakit. Karena itu, Jokowi menginstruksikan pemerintah daerah memaksimalkan isolasi terpusat untuk menekan angka penyebaran dan kematian.

Jokowi juga meminta pemda mengerti betul detail penanganan Corona di lapangan. Dengan menguasai kondisi di lapangan, langkah antisipasi dan respons yang tepat terhadap perubahan situasi bisa segera dilakukan.

Jangan sampai kita enggak tahu posisinya, kemudian virusnya masuk, baru kita grobyakan. Ini jangan sampai terjadi, kata Jokowi.

Wakil Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Slamet Budiarto menilai, tingginya angka kematian ini sangat mengkhawatirkan. Kata dia, output penanganan Corona adalah menghindarkan pasien dari kematian.

Jadi penanganan Corona tak bisa dikatakan baik kalau angka kematian masih tinggi. Saat ini bisa dibilang masih lampu merah, kata Slamet, dalam diskusi bertajuk Suara Nakes untuk Indonesia, yang digelar virtual, kemarin.

Menurut Slamet, angka kematian yang tinggi ini menjadi pekerjaan rumah untuk Kemenkes untuk menganalisa lalu mencari solusinya. Kemenkes bisa mulai mencari tahu faktor dominan tingginya orang meninggal karena Corona misalnya di tiga provinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur. Kalau itu dilakukan saya kira bisa menekan, tuturnya.

Senada disampaikan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Prof Tjandra Yoga Aditama. Kata dia, angka kematian di Indonesia saat ini masih menjadi paling tinggi di dunia.

Karena itu, ia berharap, pemerintah melakukan tujuh langkah penanggulangan. Mulai dari analisa Kematian di lapangan, audit mortalitas RS, pembatasan sosial, testing dan tracing , vaksinasi, penanganan isoman, hingga penanganan di rumah sakit. Prof Tjandra menambahkan, analisa kematian di lapangan penting untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.

Data kematian harian harus dianalisis. Berapa yang wafat di rumah sakit, berapa yang meninggal di rumah, berapa yang sudah dibawa ke rumah sakit tapi tidak mendapat tempat dan lain-lain. Pola umur dan jenis komorbid juga harus dianalisis, kata Prof Tjandra, kepada Rakyat Merdeka , kemarin.

Sementara itu, Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman menjelaskan, tingginya angka kematian itu pertanda ada masalah dalam strategi penanganan di hulu. Secara sederhananya, angka kematian yang tinggi ini menunjukkan ada masalah dalam deteksi dini yaitu testing, tracing dan treatment alias 3T.

Menurut Dicky, jika kasus terlambat dideteksi, akan berimbas pada penanganan. Hal ini lah yang akhirnya menjadi penyebab tingginya angka kematian.

Selain terlambatnya 3T, menurut Dicky, jumlah tes juga masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari positivity rate atau rasio kasus masyarakat terpapar Corona. Kemudian, ada juga warga yang terpapar, namun tidak terdeteksi karena tidak melakukan pemeriksaan.

Kunci mencegah angka kematian yakni di level deteksi dini. Dengan begitu, kita bisa mencegah angka kematian untuk ke depannya, kata Dicky, kemarin. [BCG]

Artikel Asli