Tarif Tes PCR Lain Di Atas, Lain Di Bawah

Nasional | rm.id | Published at Minggu, 22 Agustus 2021 - 08:00
Tarif Tes PCR Lain Di Atas, Lain Di Bawah

Penurunan tarif tes Polymerase Chain Reaction (PCR) yang ditetapkan pemerintah, belum sepenuhnya terlaksana. Lain di atas, lain di bawah. Masih banyak rumah sakit atau klinik yang mematok harga tes PCR di atas ketentuan yang ditetapkan pemerintah.

Kementerian Kesehatan sudah mengeluarkan Surat Edaran bernomor HK.02.02/I/2845/2021 yang mengatur kembali mengenai batas tarif tertinggi tes PCR, Senin (16/8). Keputusan ini dikeluarkan, selang sehari pernyataan Presiden Jokowi agar tes PCR diturunkan.

Dalam SEitu diatur tarif tes PCR tertinggi untuk Pulau Jawa-Bali adalah Rp 495.000, sedangkan daerah lain Rp 525.000. Tarif itu turun sekitar 40 persen dari aturan batas tertinggi sebelumnya yang mencapai Rp 900.000.

Namun, hampir sepakan SE itu dikeluarkan, ternyata masih banyak rumah sakit atau klinik yang belum melakukan penyesuaian tarif. Tarif yang lebih tinggi dari batas ketentuan pemerintah, masih terjadi di beberapa wilayah tanah air.

Di Aceh, wilayah paling barat Indonesia, sejumlah klinik atau rumah sakit masih banyak yang mematok harga PCR di kisaran Rp 687 ribu. Salah satunya, di Prodia Banda Aceh. Dengan harga yang relatif lebih mahal, hasilnya baru keluar antara 3 sampai 4 hari. Melampaui batas waktu yang diintruksikan presiden, yakni maksimal 1 hari atau 1x24 jam. Biaya yang sama juga dipatok Prodia Papua, provinsi paling timur Indonesia.

Di Jakarta, kondisi yang sama juga terjadi. Masih banyak fasilitas kesehatan yang belum mau patuh. Di Klinik OMDC, Mampang Prapatan misalnya. Jika kepingin cepat, agar hasil keluar dalam 1x24 jam, biaya tes PCR bisa mencapai Rp 849 ribu. Itu belum ditambah biaya administrasi Rp 30 ribu. Paling murah, Rp 699 ribu jika mau menunggu hasilnya keluar keesokan harinya atau lebih dari satu hari.

Masih di kawasan yang sama, Rumah Sakit JMC Mampang Prapatan mematok biaya tes swab PCR sedikit lebih murah, yakni Rp 695 ribu untuk mendapatkan hasil dalam 1x24 jam.

Tarif PCR di daerah penyangga juga masih ada yang di atas aturan Kemenkes. Di Tangerang Selatan misalnya. Klinik Kesehatan Amira, Rawa Buntu, Serpong memasang harga Rp 700 ribu. Kalau kepingin hasilnya keluar dalam sehari, tambah gocap atau Rp 50 ribu.

Sementara Rumah Sakit Putra Dalima, Serpong malah lebih mahal. Biayanya mencapai Rp 800 ribu. Hasilnya dipatok paling telat keesokan harinya.

Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit (Persi), Lia G Partakusuma menjelaskan soal tarif PCR yang lebih tinggi dari ketetapan pemerintah. Harga yang lebih tinggi, kata dia, untuk PCR dengan hasil yang lebih cepat keluar.

Kata dia, saat ini rumah sakit memang memiliki dua metode tes PCR yang berbeda. Metode pertama adalah open reagen atau metode konvensional. Open atau kovensional itu lama pengerjaannya sekitar 6 jam.

Sampel datang, harus diproses dulu, dimasukkan ke alat dan sebagainya itu 6 jam, kata dia.

Metode kedua adalah closed reagen atau biasa disebut sebagai tes cepat molekuler (TCM). Sesuai namanya, tes PCR jenis ini hasilnya keluar lebih cepat. Namun, reagen yang digunakan memiliki harga lebih tinggi sehingga tarif tesnya juga jauh lebih mahal. Tes cepat itu saat ini harga reagennya belum masuk kalau di bawah 500.000, kata Lia.

Lia menilai, dibutuhkan intervensi pemerintah untuk menurunkan harga reagen jika ingin tarif tes PCR di seluruh rumah sakit sesuai ketentuan. Kalau nanti tes cepat harga reagennya ditekan habis bukan, tidak mungkin turun, kata dia.

Ketua DPR Puan Maharani juga geram sama fasilitas kesehatan (faskes) yang masih menetapkan harga tes PCR di atas batas tarif tertinggi yang ditetapkan pemerintah. Ia berharap pemerintah dapat memberikan sanksi tegas kepada faskes-faskes mbalelo tersebut. Tak cukup hanya teguran biasa.

Jangan pemerintah sudah menurunkan harga tes PCR, tapi faskes di bawah mengakali rakyat dengan tambahan biaya ini itu. Faskes tersebut harus ditindak tegas, kata Puan kepada wartawan, kemarin.

Apa tanggapan pemerintah? Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito seakan tak percaya jika masih ada klinik dan rumah sakit yang nakal soal tarif PCR. Coba cek lab mana saja yang belum menyesuaikan tarifnya dan kenapa alasannya. Kebijakan pemerintah sudah jelas mengatur harga PCR, kata Prof Wiku ketika dikonfirmasi Rakyat Merdeka tadi malam.

Ia memastikan, akan ada konsekwensi yang akan diterima klinik, laboratorium atau rumah sakit yang masih mbalelo. Wiku menegaskan, kebijakan menurunkan tarif PCR ini semata-mata dilakukan agar biayanya lebih terjangkau untuk melindungi masyarakat. Tentunya setiap peraturan yang dibuat bila dilanggar akan ada sangsinya, tegasnya.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Abdul Kadir mengingatkan, setiap penyedia jasa harus ikuti peraturan pemerintah tanpa terkecuali. Semua faskes, tak boleh mengakali aturan batas tarif tertinggi dengan menetapkan tarif lebih mahal. [SAR]

Artikel Asli