Taliban Kuasai Afghanistan Kiai Said: Radikalis Merasa Dapat Angin

rm.id | Nasional | Published at Minggu, 22 Agustus 2021 - 07:30
Taliban Kuasai Afghanistan Kiai Said: Radikalis Merasa Dapat Angin

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj, ikutan ngomong soal kemenangan Taliban di Afghanistan. Menurut dia, kemenangan Taliban akan membuat kelompok radikalis di Indonesia merasa mendapat angin lagi untuk bangkit.

Hal itu disampaikan Kiai Said dalam acara Haul Syuhada Kemerdekaan Republik Indonesia dalam rangka memperingati HUT Ke-76 Kemerdekaan RI yang digelar secara daring, Kamis (19/8) malam.

Acara ini dibuka oleh Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanjo. Hadir juga musisi Adhie MS dan para kiai.

Kiai Said tampil mengenakan pakaian kemeja lengan panjang putih bercorak. Tidak lupa dengan peci berwarna biru. Di tangan kirinya, dia memegang sebuah kertas putih. Sedangkan tangannya kanan sambil memegang tasbih berwarna coklat.

Dampak itu, misalnya, kaum radikalis seperti mendapatkan angin dan termotivasi. Sehingga mereka mengatakan: Allah telah menolong dan memberi kemenangan pada gerakan Islam Taliban, kata Kiai Said.

Kemenangan taliban itu, kata dia, menjadi justifikasi perjuangan kaum radikalis. Oleh karena itu, jebolan Universitas Ummul Qura ini meminta semua komponen bangsa, khususnya warga Nahdliyin waspada dan merapatkan barisan. Termasuk pemerintah, TNI dan Polri.

Barangsiapa mati demi membela negaranya, mati syahid. Barangsiapa berkhianat terhadap negaranya boleh dibunuh, boleh, halal darahnya, tegasnya.

Komisaris Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) ini juga mengutip ayat Al-Quran untuk memperkuat pernyataannya. Orang-orang yang bikin gaduh di Madinah, usir Muhammad. Jangan beri kesempatan hidup di Madinah bersama kamu. Jangan menjadi tetanggamu, ujar Kiai Said, menukil Surat Al-Azhab ayat 60.

Senada, Mustasyar PBNU, KH Asad Said Ali juga berpandangan bahwa kemenangan taliban atas pemerintahan Afghanistan bisa membangkitkan spirit perlawanan para pendukung khilafah di negara-negara Muslim.

Meskipun Imarah Islam Afghanistan berbeda dengan khilafah ala ISIS, karena tidak menganggap sebagai penguasa dunia Islam. Tetapi para pendukung sistem khilafah mungkin akan menjadikannya sebagai isu politik untuk membangkitkan perlawanan di negara Islam lainnya, tulis Kiai Asad di akun Facebooknya, Selasa lalu.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar sadar akan ancaman itu. Kalau-kalau ada kelompok yang berusaha menggalang simpati atas kemenangan Taliban di Afghanistan.

Jangan sampai masyarakat salah bersimpati, ujar mantan Kapolda Banten ketika silaturahmi dengan Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka, di Balai Kota Surakarta, Kamis (19/8) lalu.

Menurutnya, cara Taliban dalam meraih kekuasaan saja sudah tidak sesuai dengan jati diri bangsa. Karena melakukan kekerasan yang bertentangan dengan falsafah Pancasila. Bela negara sendiri, bukan bela negara lain, tandasnya.

Namun, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla tak alergi dengan Taliban. Sosok yang pernah menjadi juru runding antara pemerintah Afghanistan dengan Taliban ini melihat ada banyak perubahan selama ini.

Dalam setiap perundingan damai yang dipimpin oleh Indonesia, Taliban sebutnya lebih moderat dibanding dua dasa warsa lalu yang kaku dan cenderung keras.

Adanya larangan terhadap wanita untuk tidak bekerja misalnya mungkin akan berubah. Oleh sebab itu, ketika terjadi pengambilalihan kekuasaan relatif berlangsung damai, kata JK dalam diskusi publik tentang Masa Depan Afghanistan dan Peran Diplomasi Perdamaian Indonesia yang digelar oleh Center for Reform secara daring, kemarin.

Bahkan, JK pernah pernah meminta Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk mencabut gelar teroris yang disematkan kepada Taliban di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ketika Indonesia masih berstatus sebagai Dewan Keamanan PBB.

Keputusannya itu membuat Taliban lebih terbuka. Ia beberapa kali mengundang Taliban dan Pemerintah Afghanistan ke Indonesia dan memediasi perundingan. Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) itu juga bolak-balik Afghanistan memantau perkembangan keamanan di sana.

Sebenarnya konfrontasi terjadi antara Taliban dengan Amerika Serikat. Dan ketika Amerika Serikat meninggalkan Afghanistan, maka Taliban dengan cepat dapat menguasai Afghanistan, ungkap JK.

Pengamat politik internasional, Arya Sandhiyudha juga belum dapat memastikan dampak dari berkuasanya Taliban pada gerakan radikalis dan khilafah di dunia, khususnya di Tanah Air.

Tergantung bagaimana Taliban sekarang dalam mengembangkan pendekatan pengelolaan negara. Tapi, ada empat skenario yang potensial, kata Arya kepada Rakyat Merdeka tadi malam.

Pertama, sebutnya, perang sipil akan berkelanjutan. Namun dalam bentuk legal-formal, antara Pemerintah Taliban dengan militer lama, etnik Tajik, dan faksionasi lain. Kedua, kekuatan Taliban menguat.

Ini yang diharapkan, ketika pendekatan neo Taliban berhasil dan aktor kuat di luar Afghanistan tidak banyak intervensi, sambungnya.

Doktor Ilmu Politik dan Hubungan Internasional jebolan Fatih University, Istanbul, Turki melanjutkan, skenario ketiga adalah kemungkinan adanya skenario Asia Tengah. Kalau Uzbekistan, Tajikstan, Kyrigistan mulai muak dengan luapan gelombang pengungsi. Respons yang sama juga bisa ditunjukkan ran, Turki, dan Eropa.

Skenario potensial terakhir, adalah exercise militer bisa kembali terjadi. Sangat mungkin kalau penguasaan Taliban menjadi pintu reaktivasi gerakan yang mengembangkan narasi dan diskursus Taliban, pungkasnya. [SAR]

Artikel Asli