Mural, DPR Dan Kesejukan

rm.id | Nasional | Published at Minggu, 22 Agustus 2021 - 06:00
Mural, DPR Dan Kesejukan

Kenapa mural begitu marak? Salah satu penyebabnya: DPR. Juga mereka yang membuat aspirasi tersumbat.

Jangankan mengikuti, dalam isu-isu besar, DPR malah menolak aspirasi rakyat. Contoh, pengesahan Undang-Undang KPK. Didemo besar-besaran hampir di seluruh Indonesia, bahkan menelan korban jiwa, DPR bergeming. UU KPK tetap disahkan.

Dampaknya, tembok jadi pelampiasan. Mural menghiasi sudut-sudut kota. Protes, keluhan, aspirasi atau sekadar curhat disalurkan lewat parlemen tembok.

Setelah beberapa mural dihapus, dan pelukisnya dicari aparat, bukannya menghilang atau mereda, mural malah tambah banyak. Isi curhatan dan protes, juga bervariasi.

Bahkan, mural Indonesia mendunia. TikToker terkenal, Khaby Lame, Kamis (19/8) membawanya ke dunia internasional. Dia mengunggah kembali mural milik warga Bogor.

Lame, TikToker kelahiran Senegal berkewarganegaraan Italia, saat ini memiliki pengikut terbanyak kedua di dunia. Jumlahnya 103,2 juta. Lebih dari 1,5 miliar menyukai kontennya.

Itulah mengapa aparat perlu berhati-hati. Menyikapi apa pun. Ketika satu gambar dihapus, gambarnya memang hilang, tapi gambar hilang tersebut bisa memunculkan beragam isu.

Informasi yang bergerak sigap, mempercepat isu apa pun melintasi negara. Di seluruh dunia. Contoh, isu Afghanistan yang sekarang sedang hangat itu.

Demikian pula mural di bawah jembatan Desa Ciadeg, Kampung Nagrog, Cigombong, Kabupaten Bogor, bisa mendunia setelah diunggah kembali oleh Khaby Lame.

Karena itu, sikap Presiden Jokowi yang tidak ingin Polri bersikap reaktif dalam merespons kritik dalam bentuk mural atau unggahan di media sosial, patut dihargai.

Apalagi di masa sulit dan sensitif ini, api tak bisa dilawan dengan api. Kita misalnya mengingat waktu Menteri Luhut Binsar Panjaitan mengatakan kalau ada yang bilang penanganan Covid-19 tidak terkendali, datang ke saya, nanti saya tunjukkan ke mukanya bahwa kita terkendali.

Saat itu, reaksi publik cukup keras. Pernyataan yang disampaikan Luhut dalam konferensi pers daring, Senin (12/7) itu dinilai kurang pas.

Bandingkan dengan reaksi publik ketika Luhut menggelar konferensi pers lima hari kemudian, Sabtu (17/7). Saat itu, Luhut menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia karena penanganan Covid-19 belum optimal.

Pernyataan maaf ini sangat menyejukkan. Publik bisa menerima. Bisa memaklumi. Pernyataan itu seperti kipas angin atau AC di dalam ruangan pengap. Mendinginkan.

Menghadapi mural, mestinya juga demikian. Dengan kesejukan. Kalau terlalu reaktif, bisa tambah panas.

Sesungguhnya, mural-mural tersebut tidak perlu menghiasi wajah kota. Tidak ada lagi curhat atau protes di parlemen tembok, kalau saja mural-mural kesedihan dan curhat rakyat sudah terlukis indah dalam sanubari para wakilnya di parlemen, serta para pembuat kebijakan. Di pusat maupun di daerah.

Mural-mural rakyat itu mungkin tak terlihat, tapi bisa (dan perlu) dirasakan. Siapakah yang bisa merasakan mural itu sekarang?

Rasanya, tidak mungkin selalu menggambar atau curhat ke tembok dan dinding.

Artikel Asli