Febriola Lebih Suka Alquran dan Asmaul Husna Sebelum Mualaf

republika | Nasional | Published at Minggu, 22 Agustus 2021 - 05:50
Febriola Lebih Suka Alquran dan Asmaul Husna Sebelum Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Pemilik nama lengkap Elfrida Febriola mendapatkan pendidikan Islam meski dia bukanlah seorang Muslim.

Febri, sapaan akrabnya sejak kecil, mengenal pelajaran Islam sejak taman kanak-kanak. Di sekolah Febri lebih akrab dengan pembelajaran Islam karena diajarkan Iqra, Alquran, doa-doa pendek, surat-surat pendek, dan salat lima waktu.

"Meski itu TK umum, tapi lebih banyak belajar tentang Islam, dan saya ikut belajar bahkan sering pergi ke masjid untuk mengaji," ujar dia.

Setelah menamatkan TK, Febri melanjutkan sekolah dasar. Karena data diri Febri beragama non-Muslim, maka pelajaran agama pun sesuai dengan identitasnya.

Sekolahnya membiasakan diri sebelum memulai pelajaran berdoa sesuai dengan agama masing-masing. Bagi non-Muslim mereka berkumpul di tempat yang berbeda untuk doa bersama.

Namun, Febri menolak, dia lebih suka ikut berdoa bersama di kelas dengan teman-teman Muslim. Febri mengakui memang sejak kecil tidak pernah ikut beribadah dengan orang tuanya.

Lagi pula, keluarganya bukanlah orang yang fanatik dengan agamanya. Karena itu, Febri mendapatkan kebebasan untuk belajar apapun.

Selain itu, Febri juga lebih sering bergaul dengan keluarga ibunya yang Muslim. Hingga kini Febri juga memilih tinggal bersama kakak ibunya. Selain lebih dekat dengan sekolah, juga karena keluarga tersebut Muslim sehingga memudahkan Febri beribadah.

Karena lebih tertarik dengan Islam, secara tidak langsung Febri pun menghafal asmaul husna. Dia tidak pernah membacanya hanya mendengar setiap teman-temannya melafalkan sebelum belajar.

Di kelas tiga SD, Febri sudah hafal asmaul husna dan lebih tertarik untuk membaca Alquran. Karena khawatir ada masalah, dua guru agamanya pun memanggilnya, baik guru agama Islam maupun non-Muslim.

"Saat TK saya tidak memahami apa itu agama, hanya senang saja dengan mengaji dan sholat, baru saat kelas empat SD, saya memahami bahwa harus ada satu agama yang benar-benar saya anut, tidak mungkin agama pada identitas dan ibadah yang saya lakukan berbeda," tutur dia.

Febri kemudian berbicara hal tersebut dengan ibunya, karena ayahnya sudah lama meninggal dunia. Ibunya awalnya ragu dengan keputusan Febri untuk memeluk Islam.

Karena khawatir anak seumurnya masih labil...

Artikel Asli