Peran Politik Santri Dalam Lintasan Sejarah (4) Peran Pesantren Di Kehidupan Sosial-Politik (4)

rm.id | Nasional | Published at Minggu, 22 Agustus 2021 - 05:00
Peran Politik Santri Dalam Lintasan Sejarah (4) Peran Pesantren Di Kehidupan Sosial-Politik (4)

Dalam istilah Durkheim, disebut solidarits mekanis, suatu solidaritas yang terdapat dalam masyarakat komunal. Solidaritas semacam ini, memang berakar pada struktur masyarakat agraris dan biasanya berpusat di sekitar tokoh-tokoh kharismatik.

Dalam bidang pembaruan, sepanjang sejarah nasional Indonesia, yaitu pada awal abad ke-20, para kiai atau ulama telah tampil peranannya sebagai bagian dari golongan pembaru.

Ricklefs, dalam melukiskan gerakan pembaruan dan aksi protes pada belahan abad ke-20, menempatkan kedudukan kiai berhadapan dengan para jamaah haji yang membawa paham baru dari Timur Tengah. Hal ini menginspirasi para jamaah haji untuk melakukan sebuah gerakan pembaruan setelah kembali ke Indonesia. Apalagi, mereka menjumpai para kiai dalam paham yang mereka pandang kolot.

Di sisi lain, pandangan modern melihat berlangsungnya eksistensi pesantren dan berperannya para kiai dalam kehidupan masyarakat, sebagai indikator keterbelakangan atau lambatnya perubahan sosial menuju masyarakat modern.

Tapi, dari lingkungan kritik pembangunan, masih teguhnya akar-akar pesantren justru dilihat sebagai keuntungan, yaitu masih lestarinya suatu kawasan budaya tradisional Indonesia, yang merupakan kelanjutan perkembangan intelektual Islam.

Karena itu, secara sosiologis, di lingkungan masyarakat Islam, khususnya di kalangan masyarakat santri, ulama mempunyai posisi yang sangat penting. Mereka menjadi pusat dalam hubungan Islam dengan umat Islam lainnya.

Hal ini disebabkan dari perspektif keagamaan, secara ideal ulama dianggap sebagai pewaris Nabi (waratsah al-anbiya), untuk meneruskan tugas dan fungsinya di dalam risalah kenabiannya di hadapan umat manusia. Sehingga ulama/kiai ditempatkan pada hirarki sosial yang tinggi dalam komunitas muslim.

Artikel Asli