Mutu Pelayanan Kesehatan Berbasis Islami di Era Pandemi

republika | Nasional | Published at Minggu, 22 Agustus 2021 - 03:30
Mutu Pelayanan Kesehatan Berbasis Islami di Era Pandemi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTAMajelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI) menggelar Mukhtamar V secara daring pada Sabtu (21/8). Webinar nasional yang diikuti oleh ratusan pekerja medis rumah sakit syariah seluruh Indonesia itu mengusung tema mempertahankan mutu pelayanan kesehatan Islami di era pandemi.

Ketua Umum MUKISI dr Masyhudi AM, M.Kes mengatakan, berdirinya MUKISI tak lepas dari upaya tokoh-tokoh dakwah Indonesia untuk menyebarkan kiprah dakwah Islamiyah melalui pelayanan dan pendidikan kesehatan. Tujuan dakwah ini, kata dia, perlu terus digalakkan dan dikobarkan, terlebih di masa pandemi, dimana tenaga medis merupakan pasukan garda terdepan pemulihan Indonesia.

Semoga acara ini menjadi titik awal MUKISI sebagai kendaraan untuk menegakkan dan meningkatkan semangat berdakwah dan pelayanan kesehatan berbasis syariat Islam untuk masyarakat, ujarnya yang dikutip Republika , Sabtu (21/8).

Wakil Presiden Republik Indonesia, KH Maruf Amin, yang menjadi keynote speaker, menyampaikan pentingnya peran pelayanan kesehatan di era pandemi. Menurutnya, selama pandemi telah banyak rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang mendapatkan kesulitan, bukan hanya karena meroketnya jumlah pasien dan semakin menipisnya ketersediaan alat-alat kesehatan, namun juga semakin banyaknya tenaga kesehatan yang terinfeksi bahkan gugur.

Selain harus memikul beban kinerja yang sangat berat, tenaga medis juga dituntut untuk serba cepat dan tepat dalam memberikan pelayanan, tingginya jumlah pasien, resiko penularan, hingga komplen dan tuntutan juga menjadi beban tambahan yang harus ditanggung tenaga medis, kata Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu.

Menurutnya, pandemi bukan hanya memberikan beban tambahan bagi rumah sakit, namun juga menuntut mereka untuk beradaptasi dan berinovasi untuk menciptakan suasana yang aman dan nyaman, baik bagi pasien maupun tenaga medis. Telemedicine, pemanfaatan telekomunikasi untuk memberikan informasi dan pelayanan medis jarak jauh, kata Maruf, merupakan terobosan yang efektif untuk mengurangi resiko penularan melalui kontak langsung pasien dan tenaga kesehatan.

Pandemi memang memberikan beban tambahan bagi rumah sakit namun disisi lain menjadi pemacu untuk menciptakan terobosan dan inovasi baru agar mampu meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, kata dia.

Saya berharap rumah sakit dapat terus memberikan jaminan keamanan bagi para pekerjanya sebagai garda terdepan, sambungnya.

Dia berharap, sebagai wadah penghimpunan rumah sakit Islam Indonesia, MUKISI dapat meningkatkan peran kesehatan syariah dan terus menghimpun dan memasukan potensi rumah sakit syariah, sehingga pelayanan kesehatan berbasis keislaman dapat terus meningkat di Indonesia, sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia.

Saya mengapresiasi peran MUKISI yang telah berhasil mendorong ditetapkannya 25 rumah sakit baru berstatus syariah dan 42 rumah sakit yang dalam tahap persiapan untuk mendapatkan status syariah. Ini menurut saya sangat prospektif, karena MUKISI sendiri telah beranggotakan lebih dari 500 RS Islam di seluruh Indonesia, kata Maruf.

Dia juga mengapresiasi komitmen para pekerja rumah sakit Islam dalam memberikan pendampingan dan pelayanan berasas syariah kepada pasien, termasuk para pasien Covid-19, sebagai upaya penyelamatan akidah dan pendekatan bimbingan keagamaan kepada pasien. Wapres mengingatkan untuk tetap memperhatikan standar pokok pelayanan yang menjadi pedoman rumah sakit syariah, seperti penjagaan ibadah wajib pasien, pengaplikasian metode penyembuhan berbasis qurani, bimbingan kerohanian, penjaminan talqin, hingga pemulasaraan jenazah sesuai syariah.

Semoga pertemuan ini menjadi wadah pengevaluasian dan diskusi untuk mengoptimalkan peran rumah sakit syariah khususnya dalam menangani Covid-19, harapnya.

Saya harap muktamar ini dapat menghasilkan ide dan pemikiran terbaik serta rekomendasi stategis dalam mengupayakan kesehatan yang prima, bukan hanya di masa pandemi tapi juga jangka waktu yang lebih panjang pasca pandemi, sambungnya, menambahkan pentingnya kerjasama antara rumah sakit dan lembaga pendidikan tinggi untuk melahirkan lebih banyak tenaga kesehatan yang bermutu.

Artikel Asli