BMKG: Tsunami Akan Sampai Pantai Jakarta jika Terjadi Gempa Besar di Selat Sunda

inewsid | Nasional | Published at Minggu, 22 Agustus 2021 - 00:20
BMKG: Tsunami Akan Sampai Pantai Jakarta jika Terjadi Gempa Besar di Selat Sunda

JAKARTA, iNews.id - Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkkan, bencana tsunami akan melanda pantai Jakarta jika terjadi gempa bumi di Selat Sunda dengan kekuatan besar (megathrust). Tsunami akan sampai sekitar tiga jam setelah gempa tersebut.

Pernyataan itu disampaikan oleh Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono terkait hasil pemodelan tsunami Selat Sunda akibat gempa M8,7.

Hasil pemodelan menunjukkan tsunami sampai Pantai Jakarta sekitar tiga jam setelah gempa dengan tinggi 0,5 m di Kapuk Muara-Kamal Muara dan 0,6 m di Ancol-Tg Priok, ujar Daryono dikutip akun twitter @DaryonoBMKG, Sabtu (21/8/2021).

Dia menuturkan, tsunami di Selat Sunda dapat dipicu oleh erupsi gunung berapi dan gempa tektonik yang bersumber di zona megathrust. Tsunami akibat erupsi ini, kata dia pernah terjadi pada peristiwa meletusnya Gunung Krakatau 1883 silam.

Menurutnya, bencana alam tersebut mampu menjangkau Pantai Jakarta karena tinggi tsunami di sumbernya lebih dari 30 meter, sedangkan tsunami 2018 lebih kecil sehingga tidak sampai Jakarta.

"Tsunami 1883 membanjiri pantai, menghempaskan perahu-perahu di pantai, menimbulkan kekacauan di Tanjung Priok, menenggelamkan dua kapal. Dampak tsunami juga merusak beberapa jembatan dekat muara sungai di Batavia. Tsunami 1883 menjadi dasar bahwa tsunami dahsyat di Selat Sunda dapat berdampak di Jakarta, ucapnya.

Dia menjelaskan, kajian potensi tsunami dampak gempa megathrust di selatan Jawa yang berdampak hingga pantai Jakarta dengan skenario terburuk dibuat untuk tujuan membangun kesiapsiagaan masyarakat.

"Kajian potensi bahaya dengan menggunakan skenario terburuk penting untuk rujukan mitigasi, jadi kita ambil pahitnya agar kita lebih siap, meski kapan terjadinya tidak ada yang tahu, bahkan bisa jadi skenario terburuk tersebut belum tentu terjadi, katanya.

Artikel Asli