Petunjuk Alquran Mengenai Mitigasi Bencana

republika | Nasional | Published at 16/08/2021 22:42
Petunjuk Alquran Mengenai Mitigasi Bencana

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Muti, menyampaikan, Alquran memberikan tuntunan kepada manusia mengenai mitigasi bencana. Tuntunan tersebut berorientasi terhadap kehidupan jangka panjang atau kehidupan masa depan.

Prof Muti mengatakan, misalnya ketika membaca kisah Nabi Yusuf dalam Alquran. Dikisahkan ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Yusuf perihal mimpi-mimpinya itu. Di antara mimpinya yang ditanyakan itu adalah tentang tujuh ekor sapi gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus-kurus.

"Ini kalau kita mencoba memaknai dalam konteks mitigasi bencana, sebenarnya kisah itu berbicara mengenai suatu masa di mana kita ini harus berinvestasi karena ada saatnya di mana kita ini akan memiliki rezeki yang melimpah dan keadaan yang normal dan baik-baik saja. Tapi ada satu masa di mana kita akan mengalami kehidupan yang sangat sulit dalam berbagai hal," kata Prof Mu'ti saat Diskusi Publik bertema Pesan Keagamaan dan Gotong Royong Saat Pandemi yang digelar Majelis Tabligh PP Muhammadiyah dan Kemenko PMK, Ahad (15/8)

Ia menerangkan, dalam banyak hal perencanaan kehidupan manusia biasanya dirancang untuk sesuatu yang normal. Kadang-kadang kurang mengantisipasi keadaan yang tidak normal dan mungkin terjadi di masa mendatang.

Prof Mu'ti menerangkan lagi tentang kisah Nabi Nuh terkait dengan mitigasi bencana. Ketika membaca kisah Nabi Nuh, Allah memerintahkan kepada Nabi Nuh untuk membuat kapal pada saat tidak ada hujan dan banjir. Perintah tersebut tidak diterima oleh masyarakat pada waktu itu, bahkan banyak masyarakat yang mencibir Nabi Nuh yang membuat kapal.

"Tidak ada hujan, tidak ada banjir kok buat kapal, buat apa kapal itu, tetapi kalau kemudian kita pahami dalam konteks yang berkaitan dengan bencana, sebenarnya Alquran mengajari kita lewat kisah Nabi-nabi itu mitigasi bencana," ujarnya.

Prof Mu'ti mengatakan, sebelum bencana itu terjadi, sebaiknya manusia sudah bisa mengantisipasinya. Sehingga bisa menyelamatkan kehidupan manusia sebanyak-banyaknya, karena sudah menyiapkan berbagai hal sebelum sesuatu itu terjadi.

"Inilah menurut saya yang perlu menjadi pemahaman kolektif kita tentang pentingnya kita berbicara mengenai mitigasi (bencana) itu," ujarnya.

Sejumlah narasumber yang hadir dalam Diskusi Publik bertema Pesan Keagamaan dan Gotong Royong Saat Pandemi di antaranya, Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Syamsul Hidayat, Wakil Sekretaris Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Fakhrurazi Reno Sutan, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Amirsyah Tambunan, dan Koordinator Tim Kerja Gerakan Nasional Revolusi Mental Faozan Amar.

Artikel Asli