Transformasi Media Baru, Kunci Kesuksesan di Tengah Pandemi

urbanasia.com | Nasional | Published at 16/08/2021 22:30
Transformasi Media Baru, Kunci Kesuksesan di Tengah Pandemi

Jakarta - Era digital telah memunculkan banyaknya media baru . Kepemilikan media juga kini semakin beragam meskipun nilai yang dibawakan masihlah sama. Hal itu membuat media baru yang mengusung nilai jurnalistik tetap dianggap kredibel dan terpercaya.

Namun, hal yang membuat media itu menjadi beda bisa dilihat dari pendekatan media itu sendiri kepada audiens yang mereka sasar. Jika ingin menarik minat anak muda, tentunya akan berbeda produk dan kemasannya dibandingkan dengan media arus utama.

Menurut CEO Narasi Catharina Davy (Keket), media baru ini bukan hanya yang memiliki lembaga besar. Namun, individual pun bisa menjadi media yang memiliki audiensnya sendiri.

"Tapi yang jelas, media sekarang jauh berbeda, jauh lebih spesifik. Intinya ada market-market tertentu yang memang mengonsumsi media-media tertentu, dan dalam hal ini media tersebut belum tentu media dengan lembaga yang besar, tapi bisa juga sifatnya orang," jelas Keket saat sesi webinar Lead The Fest dari Pemimpin.id pada Senin (16/8/2021).

Sementara itu, CEO Urbanasia Achmad Rouzni Noor II (Rourry) berpendapat media hanyalah perantara untuk mengantarkan informasi kepada publik. Hanya saja, ada mediamorfosis atau perkembangan media berdasarkan platform-nya, mulai dari teks hingga menjajaki internet.

"Semenjak itu media bisa berkembang begitu cepat, dengan adanya internet itu kita bisa menjangkau audiens tanpa harus susah-susah kita jangkau akhirnya datang sendiri," ujar Rourry saat sesi webinar Lead The Fest pada Senin (16/8/2021).

Menurutnya, khalayak juga mampu menentukan sendiri, mereka bisa menemukan informasi tertentu sesuai dengan kebutuhannya. Bukan hanya dari media arus utama saja yang sudah dikenal sejak sepuluh tahun lalu, tapi ada media lainnya yang lahir di era digital ini.

"Intinya, orang semua lari ke digital, di mana mereka nggak sekadar mencari hiburan, tapi mencari informasi. Update-nya itu kan bisa dari macam-macam, ada dari media konvensional seperti media arus utama yang kita ketahui, tapi dari media sosial," lanjut Rourry.

Jika melihat dari demografi, saat ini media baru banyak dikonsumsi generasi Y dan generasi Z. Preferensi mereka dalam mencari informasi sudah berubah dibandingkan zaman dahulu sebelum adanya internet dan media sosial yang bebas diakses kapan saja.

Terutama ketika pandemi seperti ini, khalayak membutuhkan informasi yang aktual. Bersamaan dengan itu, internal media yang berusaha adaptif dengan situasi baru. Media harus bertransformasi secara besar.

"Media-media di pandemi ini harus bertransformasi gila-gilaan sih. Dari mulai bagaimana kita meliput, mendapatkan berita, terus bagaimana kita bisa tetap bekerja dari rumah masing-masing tapi hasil outputnya tetap seperti sebelum pandemi, bisa dijaga," ungkap Keket.

Sehingga, konten yang diberikan kepada publik itu pun tetap terjaga kualitasnya, mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan internal media itu sendiri. Karena, peran media pada masa pandemi ini seperti Narasi dan Urbanasia itu efeknya bisa luas.

"Memang kalau kita melihat dari perspektif itu, yang menjadi peran media bagaimana menaikkan konten itu dengan konteks yang sampai ke audiensnya, dan audiensnya itu tetap tergerak untuk bergerak," lanjutnya.

Ia memfokuskan bagaimana khalayak bisa tergerak dengan cara yang beragam. Misalnya dengan menyebarkan lagi informasi yang dibagikan media atau berpartisipasi dengan kegiatan sosial yang ada.

"Karena itu, menurut saya peran media bukan sekadar penyampai informasi tapi juga wadah partisipasi, untuk orang bergerak bersama-sama untuk tujuan yang lebih baik. Itu sih yang didorong. Caranya adalah lewat konten yang berkualitas," tambah Keket.

Di sisi lain, Rourry berpendapat, media bisa menjadi wadah informasi dan aspirasi. Media diperuntukkan untuk sampaikan berita yang positif. Berita seperti ini bisa didapatkan dari kegiatan-kegiatan sosial yang sudah dilaksanakan oleh masyarakat.

"Kalau konten itu memang positif dan itu bisa ditiru dengan banyak tempat lain, terjadi di semua lokasi. Misalnya di suatu titik ada kebaikan yang dilakukan untuk apa, bagaimana konten itu direplikasi di tempat lain, bisa mencapai ke sana itu perlu medium," imbuh Rourry.

Sehingga, media barulah itulah menjadi solusi untuk menyampaikan pesan baik ke banyak orang dengan cepat. Tujuannya, agar khalayak bisa meniru kebaikan-kebaikan yang sudah diinformasikan oleh media tersebut.

"
Artikel Asli