BGS: Kita Akan Hidup Dengan Corona 5-10 Tahun

rm.id | Nasional | Published at 16/08/2021 22:01
BGS: Kita Akan Hidup Dengan Corona 5-10 Tahun

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memperkirakan, pandemi Covid-19 tidak akan hilang dalam waktu dekat. Pandemi baru mungkin berubah menjadi epidemi dalam jangka waktu 5 sampai 10 tahun.

"Kalau kita amati, sepertinya kita akan lebih lama hidup dengan virus ini. Nggak akan virus ini cepat hilang. Mungkin akan berubah menjadi epidemi dan kita masih hidup dengan mereka selama bisa 5 tahun, bisa 10 tahun, bisa juga lebih lama dari itu," ujar Budi dalam konferensi pers Nota Keuangan dan RUU APBN 2022, Senin (16/8).

Karena itu, menurut mantan Dirut Bank Mandiri itu, target pemerintah bukan untuk langsung menghilangkan atau menghapus pandemi. Tapi, mengendalikan pandemi dengan memastikan laju penularan virus selalu di bawah kapasitas dari layanan kesehatan yang disediakan.

Penerapan protokol kesehatan yang dibantu teknologi informasi menjadi hal mutlak yang mesti dilakukan agar aspek ekonomi dan kesehatan tetap berjalan. Semua sektor perlu diatur protokol kesehatannya agar bisa menjadi bagian kehidupan normal masyarakat.

Budi bilang, masyarakat tidak perlu khawatir. Pelaksanaan kehidupan di aspek ekonomi bisa sama normalnya dengan aspek kesehatan. Artinya, tidak akan ada dampak yang memengaruhi dari satu aspek ke aspek lainnya.

Empat Strategi Pengendalian Pandemi

Budi menuturkan, ada empat strategi pengendalian pandemi yang dirancang pemerintah. Pertama, dengan pelaksanaan perubahan perilaku, di antaranya adalah dengan melakukan protokol kesehatan 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

"Diharapkan kalau kita 3M akan mengurangi laju penularan, menurut penelitian pakai masker bisa 95 persen lebih mencegah penularan," imbuhnya.

Kedua, melakukan deteksi dengan cepat melalui testing, tracing, dan isolasi dengan memobilisasi Babinsa atau Bhabinkamtibmas.

"Minimal 15 setiap orang kasus konfirmasi, sehingga tau yang tertular, jadi bisa isolasi mereka dan mengurangi laju penularan," beber mantan Direktur Utama PT Inalum (Persero) ini.

Menkes menerangkan, kasus Covid-19 yang tinggi akibat besarnya testing atau pelacakan lebih baik ketimbang kasus rendah karena pengetesan dan tracing yang juga minim. "Orang yang terdeteksi positif kalau kita tahu kita bisa isolasi sehingga kita bisa mengurangi laju penularan," beber Budi.

Strategi lainnya adalah percepatan vaksinasi. Menkes memastikan, stok dosis vaksin cukup bagi 280 juta masyarakat Indonesia.

"Tahap awal, Januari-Juli kita terima 90 juta dosis, Agustus ada 70 juta dosis, dan September bisa 80 juta dosis, sehingga kegiatan vaksinasi kita akan lebih tinggi. Lebih berat dibandingkan dengan 7 bulan pertama," terangnya.

Sebanyak 50 persen stok vaksin itu akan dialokasikan untuk daerah-daerah dengan kasus dan mobilitas tinggi.

Sentra vaksinasi juga akan digencarkan di bandara-bandara di Jakarta, Solo, Semarang, Surabaya, DI Yogyakarta, dan Bali.

"Strategi ini akan terus berjalan sampai pandemi berubah jadi epidemi, jadi bapak ibu jangan kendorin ini, mungkin jadi kehidupan kita sehari-hari. Bagian dari new normal kita ke depannya," imbau Budi.

Sementara itu, strategi terakhir yang akan diambil Menkes adalah strategi defensif dengan mempersiapkan kapasitas rumah sakit. Menkes menargetkan mengonversi tempat tidur sebanyak 30-40 persen dari total kapasitas RS dan pemenuhan suplai untuk penanganan Covid-19.

Kemudian, ia juga akan menyiapkan tenaga kesehatan cadangan, seperti dokter magang, koas, dan mahasiswa tingkat akhir. Lalu, pengetatan masuk RS dengan aturan saturasi di bawah 95 persen atau sesak napas.

Ia juga mengatakan akan meningkatkan pemanfaatan pemantauan isolasi mandiri dengan pemanfaatan telemedicine. [OKT]

Artikel Asli