Uji Coba Sukses, Kandungan Oksigen Murni Capai 93 Persen

radarjogja | Nasional | Published at 16/08/2021 16:37
Uji Coba Sukses, Kandungan Oksigen Murni Capai 93 Persen

RADAR JOGJA Uji coba instalasi generator oksigen di Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna (BPPTG) Jogjakarta berlangsung sukses. Indikator kadar kemurnian oksigen mencapai 93 persen. Sementara syarat menjadi oksigen kebutuhan medis minimal 90 persen.

Ketua Satgas Oksigen DIJ, Tri Saktiyana memastikan operaal alat dalam waktu dekat. Uji coba, lanjutnya, untuk memastikan kondisi konstan produksi oksigen murni. Tentunya dengan acuan memenuhi syarat pemensionuhan kebutuhan oksigen medis.

Ini uji coba dulu, hasilnya dari indikator produksi oksigen murni sudah diatas 93 persen, syarat oksigen medis 90 persen. Kalau masih dibawah itu belum bisa menuju penampungan. Ini sudah layak, jelas Tri Saktiyana ditemui di Kantor BPTTG Jogjakarta, Senin (16/8).

Pria yang juga menjabat Asisten Sekretaris Provinsi Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemprov DIJ menuturkan saat ini baru satu instalasi terpasang. Dua alat lainnya ditargetkan terpasang akhir Agustus 2021. Satu alat instalasi dapat mengisi 100 tabung ukuran 6 meter kubik perharinya.

Disatu sisi operasional instalasi generator oksigen memerlukan persyaratan khusus. Setiap alat harus beristirahat selama 4 jam untuk sehari operasional. Selain itu kondisi optimal bergantung pada kualitas udara di sekitar instalasi generator oksigen.

Saat ini sudah beroperasi satu unit generator. Kalau beroperasi lancar dan kemurnian oksigen bisa stabil bisa mengisi 100 tabung perhari, kata Ketua Satgas Oksigen DIJ, Tri Saktiyana.

Sistem kerja instalasi generator oksigen mengambil udara dari alam. Dalam tahapan ini oksigen masih tercampur nitrogen dan karbondioksida. Komposisinya terdiri dari 20 persen oksigen, 50 persen nitrogen dan sisanya adalah karbondioksida.

Semua udara yang masuk dikeringkan dan didinginkan. Setelahnya disaring untuk memisahkan unsur nitrogen dan karbondioksida. Oksigen murni yang tersaring lalu disimpan dalam tabung.

Nitrogen dan karbon ini langsung dibuang. Oksigen yang masuk itu harus memenuhi syarat minimal 90 persen. Kalau tidak ya tidak bisa disuntikan ke tabung oksigen yang besar, ujar Tri Saktiyana.

Peruntukan oksigen terfokus kepada rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan. Walau begitu masyarakat tetap bisa mengajukan permintaan pengisian oksigen. Dengan syarat sepengatahuan fasilitas pelayanan kesehatan setempat.

Untuk masyarakat tidak ada biaya alias gratis, tapi rekomendasi dari fasyankes sedekat. Kalau rumah sakit tinggal mengajukan butuh berapa tabung dan untuk siapa. Ini wajib ditulis, kata Ketua Satgas Oksigen DIJ, Tri Saktiyana.

Dalam beberapa waktu kedepan, suplai oksigen cair akan berkurang. Ini karena fokus pemenuhan mulai bergeser ke luar pulau Jawa dan Bali. Penyebabnya adalah terjadi lonjakan kasus Covid-19.

Berdasarkan data, kebutuhan oksigen medis di Jogjakarta mencapai 50 ton perhari. Terdistribusi ke 27 rumah sakit di seluruh kabupaten dan kota. Pemenuhan masih mengandalkan kiriman produsen oksigen cair. Adapula 700 unit oksigen konsentrator.

Tapi masih tercukupi karena sudah ada 700 oksigen konsentrator kapasitas 5 dan 10 liter. Belum lagi Bantul punya oksigen generator, lalu RS Nyi Ageng Serang (Kulonprogo), di Gunungkidul dan Sleman juga punya dengan kapasitas yang berbeda-beda, ujarnya.(dwi/sky)

Artikel Asli