Di Masa Pandemi, Sreeya Indonesia Tetap Catat Pertumbuhan Positif

rm.id | Nasional | Published at 16/08/2021 16:41
Di Masa Pandemi, Sreeya Indonesia Tetap Catat Pertumbuhan Positif

Pandemi Covid-19 telah berjalan lebih dari dua tahun terakhir. Belum ada tahu, kapan wabah Covid 19 ini akan berakhir. Yang pasti, pandemi mengakibatkan banyak perusahaan merugi. Bahkan, banyak yang gulung tikar.

Namun tidak demikian dengan PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk. Perusahaan yang bergerak dalam produksi pakan, ayam pedaging, dan makanan olahan ini tetap mencatat pertumbuhan positif pada masa pandemi.

Direktur Utama PT Sreeya Sewu Indonesia Tommy Wattimena Widjaja mengemukakan, perseroan menutup tahun 2020 dengan tingkat profitabilitas yang positif. Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 28,27 miliar selama 2020.

"Penjualan bersih sebesar Rp 4,34 triliun atau meningkat 7,21 persen dibandingkan penjualan bersih tahun 2019 sebesar Rp 4,05 triliun," ujar Tommy, usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), di Jakarta, Senin (16/8).

Sementara untuk tahun 2021, Tommy menyebut pada kuartal pertama terjadi peningkatan penjualan bersih mencapai Rp 1,28 triliun. Angka ini meningkat 13,32 persen dibandingkan kuartal pertama tahun 2020 sebesar Rp 1,13 triliun.

Namun terjadi sedikit penurunan laba perusahaan pada kuartal pertama 2021 yang hanya mencapai Rp 34,68 miliar. Angka ini turun sebesar Rp 24,77 miliar bila dibandingkan kuartal pertama tahun 2020 sebesar Rp 59,45 miliar.

Meski terjadi penurunan, dari sisi operasional, perusahaan berhasil meningkatkan kapasitas produksi pakan ternak dan makanan olahan.

Ditanya target kinerja 2021, Tommy menyebut, tahun 2021 ini masih pandemi, sehingga situasinya masih tidak pasti. Namun dia optimis, kinerja PT Sreeya masih akan positif seperti tahun 2020. "Saya confidence akan growing double digit sampai akhir tahun," bebernya.

Menurut Tommy, ada beberapa faktor eksternal yang jadi tantangan. Di antaranya, harga jagung belum membaik, harga kedelai masih tinggi, dan demand masih rendah sehingga profitability akan terdampak.

"Tapi, di dalam perusahaan kami sangat solid dan kuat. Jadi bisa double growing dan bisa continue pertumbuhannya," tutur Tommy.

Dia menyebut, sejak Covid-19 masuk Indonesia pada Maret 2020, terjadi penurunan aktivitas ekonomi secara nasional. Sreeya juga mengalaminya. Hal itu akibat penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dikeluarkan pemerintah.

Kebijakan itu menyebabkan Sreeya kelebihan pasokan ayam pada tahun 2020 karena daya beli masyarakat menurun. Kelebihan pasokan ayam menyebabkan pelemahan harga ayam broiler dan ayam umur sehari atau Day Old Chick (DOC).

Selain itu, ada berbagai risiko usaha yang perlu diatasi Sreeya sepanjang 2020. Di antaranya fluktuasi harga bahan baku SBM (Soya bean Meal) atau bungkil kacang kedelai yang tinggi. Kemudian pelemahan harga DOC dan live bird, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Risiko lainnya adalah instruksi program pemusnahan (culling program) melalui Kementerian Pertanian (Kementan) yang bertujuan menstabilkan harga ayam. Hal itu mengakibatkan kenaikan biaya bahan baku dan berimbas pada kenaikan beban biaya produksi perusahaan.

"Perseroan berhasil membuat transformasi bisnis dalam situasi sulit tersebut. Itu dilakukan melalui penerapan Halal Blockchain di Rumah Potong Ayam berupa transformasi digital atas transparansi data dan ketelusuran halal," ungkapnya.

Selain itu, Tommy bilang, Sreeya meluncurkan inovasi pakan ternak dengan ekstrak alami buah nanas (Bromelain) yang mampu meningkatkan berat badan ayam dan menurunkan tingkat kematian.

Di tempat yang sama, Managing Director Foods PT Sreeya Sewu Indonesia Dicky Saelan menjelaskan strategi yang dijalankan perusahaan tahun 2021, yakni strategi performance to solution .

Hal itu mencakup peningkatan kualitas produk pakan ternak, keunggulan pelayanan yang cepat tanggap, serta menyediakan solusi terbaik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Perseroan juga meningkatkan kapasitas pembibitan ( breeding ) untuk menunjang utilisasi produksi pakan ternak. Kemudian, memperluas penerapan sistem Smart Farm agar para peternak lebih mudah mengontrol manajemen budidaya ayam dalam meningkatkan produktivitasnya.

Di sektor hilir, lanjut Dicky, perusahaan membangun distribusi rantai dingin (cold chain) dan logistik yang kuat, peningkatan eksekusi penjualan dengan dukungan dari Command Centre, dan peningkatan portofolio food melampaui sektor poultry.

Untuk meningkatkan gairah konsumen, perusahaan membuat strategi promosi yang menarik dan meningkatkan kualitas ayam untuk mendongkrak nilai tambah produk perusahaan.

Selain itu, perusahaan melakukan langkah antisipasi penguatan manajemen risiko untuk menjaga pertumbuhan usaha yang berkelanjutan. Caranya dengan menjaga kelancaran arus kas melalui efisiensi biaya dan menerapkan penggunaan CAPEX berdasarkan tingkat prioritas.

Dalam menjaga dan memperkuat pertumbuhan pendapatan, di kuartal ke dua, perusahaan telah meluncurkan inovasi produk bernilai tambah yaitu Produk Ayam Nanas.

"Ini produk ayam pertama di Indonesia yang diberi pakan ekstrak nanas sehingga menghasilkan daging ayam yang lebih sehat, empuk dan gurih. Selain itu, perseroan meluncurkan Produk Pakan Burung premium pertama di Indonesia menggunakan formula khusus yang dilengkapi dengan protein serangga, jelas Dicky.

Sementara untuk internal perusahaan, telah dikampanyekan pola hidup sehat diterapkan seluruh karyawan melalui program Sreeya Sehat dan Sukses.

Hal itu untuk mewujudkan kesehatan yang holistik untuk mendukung pertumbuhan Perseroan di tahun mendatang.

Sreeya juga aktif dalam melakukan vaksinasi. Sejak dimulainya pelaksanaan vaksin Gotong Royong oleh pemerintah pada Mei lalu, Sreeya bergerak cepat melaksanakan kegiatan vaksinasi Covid-19 untuk seluruh karyawan di berbagai lokasi di Indonesia.

Hingga saat ini, perusahaan telah berhasil melaksanakan vaksinasi sebanyak 3.657 karyawan atau 97 persen karyawan.

Hasil RUPS Sreeya menetapkan Antonious Joenoes Supit sebagai Komisaris Utama. Ia didampingi dua Komisaris yaitu Eddy Tamboto dan Ted Margono. Bertindak sebagai Komisaris Independen adalah Theo Lekatompessy.

Dalam jajaran direksi, ditetapkan Direktur Utama dipegang Tommy Wattimena Widjaja. Ia dibantu Wakil Direktur Utama (Independen) Soh Ching Ker serta didampingi dua direktur yaitu Wayan Sumantra dan Sri Sumiyarsi. [TIF]

Artikel Asli