Sobekan Kertas yang Dibuang Hingga Koreksi Naskah Proklamasi

republika | Nasional | Published at 16/08/2021 15:07
Sobekan Kertas yang Dibuang Hingga Koreksi Naskah Proklamasi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Zainur Mahsir Ramadhan

Sempat diculik pada 16 Agustus 1945 ke Rengasdengklok, Soekarno dan Hatta akhirnya menyetujui desakan golongan muda untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Tak butuh waktu lama, masih di hari yang sama, hampir tengah malam, mereka bertandang ke kediaman Laksamana Muda Maeda di Jakarta untuk menyusun naskah proklamasi.

Dalam buku Api Sejarah II karya Ahmad Mansur, teks proklamasi yang disusun di malam 9 Ramadhan 1364 H itu ditulis langsung oleh Bung Karno. Tentunya, dengan beberapa masukan, saran dan perbaikan dari Hatta dan Ahmad Subardjo, selain dari Sayuti Melik yang ikut mengoreksi nantinya.

Dipilihnya rumah laksamana asal Jepang itu, dikarenakan adanya jaminan keselamatan yang diberikan Maeda bagi tokoh bangsa tersebut. Dipandang secara umum, perwira tinggi angkatan laut Jepang itu memang terkesan berbeda dengan perwira lainnya. Khususnya, ketika ia sangat akrab dengan rakyat Indonesia.

Namun sayangnya, karena Sekutu memenangkan Perang Dunia II, Laksamana Maeda ditangkap dan dipenjara selama dua tahun. Bahkan, dia dicap pengkhianat tidak hanya oleh sekutu, namun juga rekan-rekannya di pasukan Jepang, karena membantu proses Kemerdekaan Indonesia.

Kembali ke proses penulisan naskah kemerdekaan, di ruang makan Laksamana Maeda, ide-ide dari founding fathers terus berpacu. Diketahui, saat itu Sukarno, Hatta, dan Soebardjo terus bertukar pikiran dalam teks yang awalnya ditulis tangan oleh Bung Karno.

Dalam beberapa sumber terpisah, dan tulisan Soekarno Hatta bukan Proklamator Paksaan karya Walentina Waluyanti, tulisan Bung Karno sebelum diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik, nyatanya berasal dari sobekan buku tulis.

Waktu sahur pun tiba, makanan belum disentuh. Hatta dan Soebardjo saat itu, masih sibuk mendikte naskah proklamasi kepada Bung Karno. Berdasarkan Pusat Data Republika , Kalimat pertama dari teks proklamasi merupakan saran Ahmad Soebardjo yang diambil dari rumusan Dokuritsu Junbi Cosakai, sedangkan kalimat terakhir merupakan sumbangan pikiran Mohammad Hatta.

Hatta menganggap kalimat pertama hanyalah merupakan pernyataan dari kemauan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri. Menurut Hatta, perlu ditambahkan pernyataan mengenai pengalihan kekuasaan ( transfer of sovereignty ). Maka, dihasilkanlah rumusan terakhir dari teks proklamasi itu.

Seusai naskah kasar ditulis oleh Bung Karno, Hatta meminta Sayuti Melik untuk mengetiknya. Sayang, tidak ada mesin ketik di rumah Laksamana Maeda. Lagi-lagi, peran perwira itu tanggap. Dia meminta anak buahnya, Satsuki Mishima untuk meminjam mesin ketik ke kantor perwakilan militer Jepang.

Mendapat mesin dan naskah yang jadi, Sayuti masih melakukan protes terhadapnya. Dia memandang, masih ada beberapa ejaan kurang tepat sesuai bahasa saat itu yang digunakan.

Permintaan Sayuti untuk sedikit mengubahnya, dijelaskan dalam Wawancara dengan Sayuti Melik karya Arief Priyadi. Sayuti kepada Bung Karno saat itu, menjelaskan ada beberapa ejaan yang tidak sesuai, dan diterima oleh Bung Karno.

Dijelaskan Priyadi, beberapa yang diganti saat itu adalah Djakarta, hari 17 boelan 8 tahun 05 dari yang sebelumnya Djakarta, 17-8-05. 05 yang menyatakan tahun itu merujuk pada tahun showa Jepang (2605) waktu yang sama dengan 1945 Masehi.

Redaksi lain yang diubah oleh Sayuti adalah kata tempoh menjadi tempo. Dan menambahkan atas nama bangsa Indonesia yang diikuti Soekarno-Hatta.

Naskah proklamasi yang diketik pun usai. Namun, tulisan tangan naskah oleh Soekarno sempat terabaikan dan dibuang ke keranjang sampah. Beruntung, naskah itu terselamatkan oleh wartawan senior Buhanuddin Mohammad Diah dan menyimpannya selama 47 tahun, hingga akhirnya diserahkan kepada negara pada 1992. Kini, naskah tersebut tersimpan di Arsip Nasional Indonesia.

Kehadiran BM Diah di sana memang bersama beberapa tokoh lainnya. Sebut saja, Sukarni, Sudiro dan orang kepercayaan Nishimura, Miyoshi. Sisanya, merupakan tokoh golongan muda dan tua yang berada di beranda Laksamana Maeda, selain dari anak buah Laksamana Maeda, Satsuki Mishima yang merupakan satu-satunya perempuan di malam itu.

Mishima, saat itu, menjadi tokoh yang memasak santap sahur bagi Soekarno dan lainnya. Namun, selain Soekarno yang terkena malaria dan tidak menjalankan ibadah puasa, Hatta dan lainnya menyantap nasi goreng.

Dalam buku berjudul Sekitar Proklamasi (1969), Muhammad Hatta juga mengisahkan sebelum pulang ke rumahnya. Dia, juga sempat menyantap roti, telur, dan ikan sarden yang dimasak di rumah Maeda sebagai menu sahur.

Artikel Asli