Blue Ekonomi Mampu Kuatkan Perekonomian Indonesia, Pergerakan Alumni Swedia Lakukan Hal Ini

wartaekonomi | Nasional | Published at 16/08/2021 12:59
Blue Ekonomi Mampu Kuatkan Perekonomian Indonesia, Pergerakan Alumni Swedia Lakukan Hal Ini

Guna menjalin kerja sama bilateral antar negra khususnya, negara Swedia. Jaringan Warga Negara Indonesia lulusan berbagai institusi pendidikan di Swedia (Alumni Swedia) menggelar diskusi bertajuk Penguatan Blue Economy Pasca-Pandemi Covid-19 Menuju Ekonomi Indonesia Tangguh, secara virtual (daring).

Paparan dan diskusi yang menghadirkan para narasumber dari pemangku kepentingan regulasi dan industri ini mengeksplorasi potensi dan strategi implementasi konsep blue economy di Indonesia. Sangat potensial mengingat berlimpahnya sumber daya sektor maritim dan bahari Indonesia, serta sangat kontekstual saat ini, karena negeri kita butuh pengungkit kebangkitan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam situasi Pandemi Covid-19, terang Dothy dalam keterangan resminya pada Warta Ekonomi di Surabaya, Minggu (15/8/2021).

Lebih lanjut Dothy menambahkan, para duta besar dua negara (Indonensia dan Swedia) menyimbolkan relasi dan kolaborasi bilateral yang terjalin baik selama ini. Alumni Swedia kini telah berjumlah ratusan dan tersebar tak hanya di Indonesia dan Swedia tetapi juga di berbagai negara. Banyak di antaranya kini berkiprah sebagai akademisi, praktisi dalam aneka industri, dan juga mengabdi di birokrasi.

Misi dari Alumni Swedia ialah menjadi jembatan kesempatan yang tak berbatas dalam upaya-upaya pengembangan kerja sama dan jaringan lintas sektor. Sekaligus turut mempromosikan hubungan bilateral yang saling berbagi manfaat dan berkelanjutan antara Indonesia dan Swedia, sambung Dothy.

Konsep blue economy ini sangat penting, utamanya mengingat Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, konsep ekonomi biru atau blue economy menjadi semakin populer di dunia, utamanya di kalangan para pemangku kebijakan, jelas Suharso

Perencanaan pembangunan dengan menerapkan model ekonomi biru ini akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Redesain Transformasi Ekonomi Indonesia Pasca-Covid-19 yang sedang disusun oleh Bappenas saat ini. Tentunya, model ekonomi biru akan memiliki konsekuensi pada perubahan paradigma perilaku masyarakat untuk lebih cinta lingkungan, lebih memperhatikan sumber daya hayati, dan berusaha untuk menjaga kelestariannya, serta diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak, papar mantan Menteri Perumahan Rakyat, anggota DPR RI, dan Dewan Pertimbangan Presiden ini.

Disisi lain Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Swedia dan Latvia Kamapradipta Isnomo menjelaskan, langkah yang dilakukan Alumni Swedia sangat tepat sekali untuk kerjasama antar negara

Pertama, karena kedua negara, sesama negeri maritim yang memiliki kepentingan yang besar terhadap keberlanjutan dan pelestarian laut. Kedua, di tengah upaya pemerintah memulihkan ekonomi pasca-pandemi, ekonomi biru merupakan salah satu sektor yang perlu lebih digali dan dikembangkan sehingga dapat betul-betul bermanfaat bagi rakyat Indonesia. Swedia adalah natural partner bagi Indonesia untuk mencapai kemajuan dalam bidang ekonomi biru, jelas Dubes Kamapradipta ini.

Perlu diketahui, diskusi Penguatan Blue Economy Pasca-Pandemi Covid-19 Menuju Ekonomi Indonesia Tangguh turut dihadiri langsung Menteri PPN/Bappenas Suharso Monoarfa, Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Swedia dan Latvia Kamapradipta Isnomo, dan Duta Besar Kerajaan Swedia untuk Indonesia Marina Berg.

Sementara untuk para narasumber pada diskusi ini diantaranya, Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia Arsjad Rasjid dan Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Amalia A. Widyasanti, serta Erlangga Arfan sebagai pemantik diskusi. Selain itu pula diskusi ini juga diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga pelaku industri dan instansi pemerintah.

Artikel Asli