Kasus Makin Meningkat, Yuk Kenali Kekerasan Berbasis Gender Online

urbanasia.com | Nasional | Published at 16/08/2021 12:52
Kasus Makin Meningkat, Yuk Kenali Kekerasan Berbasis Gender Online

Jakarta - Tindak kekerasan bisa terjadi dalam banyak bentuk apa pun. Yang paling umum kita ketahui misalnya kekerasan fisik, kekerasan verbal dan kekerasan psikologis. Kekerasan juga bisa terjadi di mana saja, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Di internet, salah satu bentuknya adalah kekerasan berbasis gender online (KBGO). Hmmm, istilah baru apa lagi ini?

KBGO bisa diartikan sebagai kekerasan menggunakan perangkat teknologi yang ditujukan kepada seseorang berdasarkan identitas gender. Sama halnya dengan di dunia nyata, bentuk KBGO bisa berupa pelecehan seksual dan ancaman pemerasan. Di internet ditambah dengan peretasan data pribadi dan penyebaran informasi/konten tanpa ijin dengan tujuan mempermalukan. Contohnya mantan pacar yang menyebarkan foto/video intim atau disebut pornografi balas dendam.

Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa jadi korban. Namun di tengah masyarakat pengusung budaya patriarki yang menganggap laki-laki lebih superior, jelas perempuan lebih rentan mengalami KBGO. Makanya Komnas Perempuan punya sebutan sendiri untuk KBGO ini, yaitu Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) berbasis siber. Seringkali berhubungan dengan tubuh perempuan yang dijadikan obyek pornografi.

Berdasarkan laman Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Ellen Kusuma, aktivis SAFEnet yang concern akan perilaku sehat di internet bilang bahwa kekerasan berbasis gender memiliki ciri khusus, yakni menyerang privasi dan tubuh seseorang. Contohnya antara lain body shaming, pemerkosaan, dan objektifikasi seksual.

Dan seiring makin banyaknya pengguna internet, makin banyak pula kasus KBGO ini. Menurut catatan Komnas Perempuan, laporan peningkatan KBGO dari korban terus meningkat 3 tahun belakangan. Di tahun 2017 ada 97 kasus dilaporkan, 2018 ada 97 kasus, di tahun 2019 ada 281 kasus dan naik drastis selama pandemi. Sampai Oktober 2020 saja sudah mencapai 659 kasus.

Banyak korban KBGO yang enggan melapor karena takut, malu atau tidak tahu harus melapor kemana. Sekarang ini sudah banyak lembaga yang menangani kasus KBGO, seperti Komnas Perempuan, AwasKBGO dari SAFEnet dan PatroliSiber.id milik Bareskrim Polri.

Mengingat dampak psikologisnya yang nggak sepele, berhati-hati di internet tentu sudah jadi kewajiban. Korban KBGO mengalami gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Bahkan di titik tertentu mereka punya pikiran untuk bunuh diri. Lalu pencegahan apa yang harus kita lakukan supaya terhindar dari KBGO ini?

Minimal kita wajib meningkatkan kewaspadaan akan online security atau keamanan siber. Berikut tipsnya yang Urbanasia rangkum dari laman SAFEnet.

1. Lindungi privasi diri sendiri

Termasuk menjaga kerahasiaan data pribadi, tidak menyebar info apapun tentang diri sendiri di internet/media sosial (termasuk lebih selektif mengunggah foto dan berbagi lokasi) dan rutin memeriksa sistem pengaturan privasi di komputer/ponsel.

2. Untuk menghindari peretasan, bikin password yang kuat untuk semua akun dan aktifkan verifikasi login.

3. Tidak mudah percaya aplikasi pihak ketiga

Misalnya kuis-kuis di media sosial yang meminta data pribadi seperti email. Hati-hati juga sama link atau alamat situs yang dipendekkan. Bisa jadi mengarah ke situs berbahaya yang mencuri data pribadi.

4. Lakukan detoks data

Seperti tubuh, gadget kita juga butuh detoks untuk mengeluarkan 'racun-racun'. Caranya dengan sering-sering menghapus jejak digital, misalnya clear cache, hapus history dan merapikan aplikasi. Urbanreaders bisa pelajari soal detoks data di sini .

*Apabila saat ini Urbanreaders mengalami depresi atau keinginan bunuh diri, jangan putus asa. Depresi dan gangguan kejiwaan dapat pulih dengan bantuan profesional kesehatan mental. Jangan ragu untuk menghubungi layanan profesional demi kesehatan mental yang lebih baik.

"
Artikel Asli