Ketegangan Jelang Proklamasi dan Penculikan Sukarno-Hatta

republika | Nasional | Published at 16/08/2021 11:30
Ketegangan Jelang Proklamasi dan Penculikan Sukarno-Hatta

REPUBLIKA.CO.ID. -- Oleh Abah Alwi*

Menyambut Proklamasi Kemerdekaan, kita kutip kata-kata Bung Karno tentang proklamasi: Melalui proklamasi kita memberitahukan kepada kita sendiri dan seluruh dunia bahwa rakyat Indonesia telah menjadi bangsa yang merdeka. Pada waktu kita berjalan Proklamasi menunjukkan arahnya jalan. Pada waktu kita lelah, proklamasi memberkan tenaga baru kepada kita. Pada waktu kita berputus asa, Proklamasi membangunkan kembali semnangat kita. Pada waktu di antara kita ada yang nyeleweng, Proklamasi memberikan alat kepada kita untuk memperingatkan si penyeleweng itu . Pada waktu kita menang Proklamasi mengajak kita untuk tegap berjalan terus, karena tujuan terakhir belum tercapai. Berbahagialah rakyat Indonesia yang mempunyai Proklamasi karena ia merupakan pengayoman, dan diatas kepalanya ada sinar surya yang cemerlang."

Tapi, baiklah kita kembali ke saat-saat situasi Ibu Kota menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Kita mulai dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima (6/8/1945) yang menewaskan 70 ribu jiwa dan tiga hari kemudian (9/8/1945) di kota Nagasaki, menewaskan 92 ribu. Ini membuat Kaisar Jepang, Hirohito yang dianggap sebagai putra matahari menyatakan bertekuk lutut terhadap sekutu pada 14 Agustus 1945.

Tapi, takluknya Jepang ini tidak diketahui rakyat Indonesia karena berita-berita menyebutkan surat kabar dan radio selalu menyebutkan kemenangan Jepang terhadap sekutu. Pada masa pendudukan militer Jepang semua radio disegel hingga masyarakat tidak dapat mendengar berita-berita dari luar negeri. Hanya berita yang bersumber dari Jepang saja yang boleh didengar. Beritanya bohong dan propaganda kemenangan balatentara Jepang dihampir semua front.

Jika ada pemilik radio yang tidak disegel dan digunakan mendengar berita-berita luar negeri, akan ditangkap dan tidak carang dibunuh secara kejam karena dianggap mata-mata musuh. Tapi ada orang yang bekerja dibawah tanah diantaranya Sutan Syahrir mendengar siaran radio asing menyerahnya Jepang pada sekutu.

Syahrir kemudian mendatangi Bung Hatta yang baru saja tiba dari Dallath kota peristirahatan dekat Saigon (kini Ho Chin Minh City) menemui Panglima AB Jepang. Kemudian keduanya menuju kediaman Bung Karno di Jl Pegangsaan Timur (kini Jl Prokalamasi) 56.

Bung Karno dan Bung Hatta sependapat bahwa mereka tidak mau mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan tanpa bertemu dan bermusyawarah dengan anggota-anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang kala itu sedang berada di Jakarta.

Pada 15 Agustus 1945 sehari setelah Jepang menyerah Jakarta makin tegang dan penuh kesibukan. Takluknya Jepang makin santer terdengar di mana-mana. Anehnya dari pihak militer Jepang tidak terdengar berita resmi.

Golongan muda yang berjiwa dinamis dan revolusioner berpendapat kemerdekaan harus segera diproklamirkan. Sementara golongan tua khususnya Bung Karno dan Bung Hatta berpendapat bahwa sebaiknya kemerdekaan Indonesia dicapai tanpa menimbulkan pertumpahan darah. Kala itu pasukan Jepang masih menguasai Jakarta.

Perbedaan pendapat mengenai cara melaksanakan proklamasi itulah yang membuat suasana kota tegang. Bung Karno dan Bung Hatta disertai Mr Ahmad Subardjo berusaha untuk mengetahui menyerahnya Jepang dari para pembesar negeri matahari terbit di Jakarta.

Tapi perwira tinggi Jepang itu tidak ada yang mau memberi penjelasan. Padahal suasana kota sudah demam proklamasi. Pada Rabu 15 Agustus 1945 pukul 20.00 di salah satu ruangan Lembaga Bacteriologi di Jl Pegangsaan Timur No 17 pada pemuda yang tidak sabar agar kemerdekaan diproklamirkan mengadakan pertemuan dipimpin Chairul Saleh.

Kemudian mereka mengutus Wikana dan Darwis untuk mendesak agar Bung Karno dan Bung Hatta secepat mengumumkan mengumumkan proklamasi. Bahkan mengancam akan menculiknya. Tapi Bung Karno dan Bung Hatta menolaknya.

Keesokan harinya pada tanggal 16 Agustus 1945 saat sahur para pemuda pun menculik keduanya disertai Fatmawati dan Guntur yang masih bayi ke Rengasdenglok, Karawang. Di sini kembali mereka menolak untuk memproklamirkan kemerdekaan.

Pada malam hari setelah kembali ke Jakarta, Bung Karno dan Bung Hatta mengadakan pertemuan di kediaman Laksamana Maeda di Jl Imam Bonjol, yang dihadiri juga oleh para pemuda. Pertemuan untuk menyusun teks proklamasi berlangsung hingga menjelang fajar.

Maka diputuskan Proklamasi Kemerdekaan akan diproklamirkan 17 Agtustus 1945 pukul 10.00 pagi. Tapi banyak yang kecele karena ada yang mengira proklamasi akan dilangsungkan di Lapangan Ikada (kini Monas).

Di antara kelompok pemuda yang bekerja keras mensukseskan pengumuman proklamasi adalah, pertama kelompok Sukarni antara terdapat Kusnaeni, Adam Malik, Armunanto, Pandu Kartawiguna, M Nitimihardjo yang hampir kesemuanya kemudian bernaung dalam Partai Murba. Kedua, Kelompok Syahrir tokoh yang kemudian menjadi Ketua Umum Partai Sosialis Indonesia (PSI). Ketiga, kelompok Pelajar dan Mahasiswa dikenal berjiwa dinamis. Mereka selalu bebas, merdeka dan terbuka.

Mereka dianggap sebagai tenaga pendorong dan pendobrak yang tidak mengenal takut atau mati. Chairul Saleh yang masa pemerintahan Presiden Soekarno menjadi Ketua MPRS juga menjadi pendiri kelompok ini.

Tempat para pemuda berkumpul dari ketiga kelompok itu berkumpul adalah Menteng Raya 341 (kini Museum Juang), Jl Prapatan 10 dan Cikini 71. Di samping mereka juga terdapat para pemuda yang tergabung dalam Heiho dan PETA (Pembela Tanah Air).

Masih ada Barisan Pelopor dipimpin dr Muwardi dan Sudiro. Ikut mengamankan jalannya proklamasi para jagoan dari berbagai tempat di Betawi. Yang hanya bersenjata golok, keris, pedagang, tombak dan bambu runcing.

Teks Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan

dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 1945

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta.

*Abah Alwi atau Alwi Shahab adalah wartawan Republika yang aktif menulis tentang sejarah Indonesia dan Jakarta. Konten ini merupakan hasil karya Abah Alwi pada 10 Agustus 2008 yang dimuat di Republika. Abah Alwi meninggal pada 17 September 2020 pada usia ke-84 tahun.

Artikel Asli