JK: Afghanistan tak akan Jatuh dalam Perang Saudara

republika | Nasional | Published at 16/08/2021 10:44
JK: Afghanistan tak akan Jatuh dalam Perang Saudara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasukan kelompok Taliban telah memasuki ibu kota Afghanistan, Kabul pada Ahad (14/8). Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani juga telah meninggalkan Ibu kota dengan alasan untuk menghindari pertumpahan darah.

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla alias optimistis meskipun ibu kota Kabul jatuh ke tangan Taliban, Afghanistan tidak akan jatuh dalam pertumpahan darah dan perang saudara.

Jusuf Kalla, saat menjabat Wakil Presiden periode 2014-2019, mewakili Pemerintah RI, beberapa kali terlibat dalam perundingan dan berbicara langsung dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, serta para petinggi Taliban. Bahkan perwakilan Pemerintah Aghanistan dan Pemimpin Politik Taliban, secara bergantian diundang makan di kediaman dinas Wakil Presiden RI di Menteng, Jakarta Pusat.

Baik Taliban maupun Pemerintah Afghanistan sama-sama meyakini bahwa mereka bersaudara dan tidak akan memerangi negara yang sudah ditinggalkan oleh tentara Amerika Serikat, ujar Jusuf Kalla dalam siaran pers, Senin (16/8).

"Saya kenal baik dengan Presiden Ashraf Ghani dan Kepala Kantor Politik Taliban Mullah Abdul Gani Baradar. Akhir Desember tahun lalu, saya bertemu Presiden Ghani di Kabul. Sedangkan Januari 2021 lalu saya bertemu Mullah Baradar di Doha, Qatar. Mereka akan berupaya menyelesaikan secara damai konflik di Afghanistan yang sudah berjalan hampir 30 tahun," cerita JK.

Mereka (pihak Taliban) ujar JK, sudah menyampaikan tidak akan mengusik kantor-kantor kedutaan besar negara asing di Afghanistan, apalagi Kedubes RI. JK menambahkan, bahwa kini dunia menantikan masa depan Afghanistan setelah Taliban berkuasa.

Saya harapkan Afghanistan terbuka dengan kerja sama dengan negara-negara lain yang tidak punya kepentingan politik, tetapi kerjasama perekonomian," ujarnya.

Indonesia punya peran penting di Afghanistan dalam menjajaki perdamaian kemarin. Sehingga menurutnya, Pemerintah Indonesia juga harus mendukung upaya damai sekarang saat Taliban memimpin Afghanistan, pasca penarikan tentara asing akhir bulan agustus ini.


Artikel Asli