Ajak Rekan Tak Menyerah, Rencana Bentuk UMKM

radarjogja | Nasional | Published at 16/08/2021 07:46
Ajak Rekan Tak Menyerah, Rencana Bentuk UMKM

RADAR JOGJA Tak dapat disangkal penyandang disabilitas (difabel) menjadi kelompok yang paling terdampak pandemi Covid-19. Kendati asanya meredup, bangkitnya terus diupayakan.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Salah seorang difabel yang terus berupaya menjaga semangat adalah Sariyanto. Berbaju biru dengan lengan abu-abu, dia duduk dekat pintu ruang tempat berkumpul. Gelak dan tawa sesekali mengiring perbincangan. Mengetahui kedatangan Radar Jogja, suasana justru riuh guna menentukan lokasi wawancara.

Beberapa rekan Sariyanto berdiri, lalu menjajarkan tubuh. Mereka kemudian membentuk formasi rantai jabat tangan. Menuntun Sariyanto untuk duduk pada bangku plastik depan teras rumah pertemuan Persaudaraan Disabilitas Sejahtera (PDS), bertempat di Klinik Pijat Tunanetra Mulia, Padukuhan Blawong II, Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Jetis.

Merasa nyaman, tunanetra yang berprofesi sebagai tukang pijat itu lantas memulai percakapan. Dulu, sebelum pandemi, teman-teman tunanetra tidak pernah menggalang bantuan. Kalau bukan berkaitan dengan kepentingan umum, semisal pengajian, ujarnya, membuka percakapan Jumat (13/8).

Ingatan Sariyanto mundur pada akhir Maret 2020. Kala itu, Covid-19 mulai masuk Indonesia. Ini jadi awal mula kejatuhan Saryanto dan rekan-rekan seprofesinya. Sebagian besar pelanggan diselimuti ketakutan untuk bertemu orang lain. Apa lagi untuk melakukan kontak fisik. Pas awal pandemi, pelanggan masih sangat ketakutan, ungkapnya.

Membenahi dulu kacamata hitam yang diletakkannya di atas kepala, ia lalu menceritakan kesulitan yang dialami rekan seprofesinya. Tunanetra itu baru datang ke Jogja dari luar Jawa. Dia berniat mengadu nasib dengan menjadi tukang pijat. Namun, hantaman pandemi justru membuatnya tidak dapat bekerja. Itu mengontak (menghubungi Sariyanto untuk meminta bantuan, Red), dia baru di sini, terus ada pandemi nggak laku. Mau beli galon dan gas nggak ada duit. Sampai bingung, bebernya, dengan nada meninggi.

Untuk Sariyanto sendiri, permintaan pijat sebetulnya masih didapati. Namun, jumlah permintaan menurun tajam, berkisar antara 60-70 persen. Mayoritas pelanggan yang lari pun, adalah kaum menengah ke atas. Pelanggan menengah ke atas, terus terang aja, sangat ketakutan. Sampai sekarang pun masih, jadi drop 60-70 persen itu, keluhnya, kesal.

Sedikit bergurau, ayah orang anak ini menyebut, pelanggannya saat ini merupakan golongan menengah ke bawah. Karena pekerja kasar, saking capeknya tidak peduli lagi (dengan adanya potensi penularan Covid-19, Red), kelakarnya.

Pendapat yang menurun ini memaksa Sariyanto memutar otak untuk berhemat. Dia lantas meminta istri dan anak-anaknya untuk tinggal di Gunungkidul, guna menekan pengeluaran harian. Sekarang pendapatan drop, terpaksa anak istri dipulangkan dulu. Kalau di kampung kan sayur nggak beli. Kalau di sini harus beli apapun itu, bebernya.

Mendapat banyak keluhan, Sariyanto pun mengajak rekan-rekannya membentuk usaha mikro kecil menengah (UMKM). Rencananya, UMKM akan bergerak di bidang kerajinan. Guna mewadahi anggota PDS yang dibentuk Sariyanto bersama difabel lainnya. Kami yang tunanetra akan membuat sapu dan keset. Kalau daksa memiliki keterampilan menjahit. Daripada kami cuma tiduran dan mengobrol gitu kan, ada kesibukan lain yang menghasilkan, sebutnya.

Saat ini Sariyanto bersama rekan-rekannya masih dalam upaya mengumpulkan dana. Dia berharap ada dermawan atau donatur yang tergerak untuk membantu. Karena kami kelompok, untuk satu kelompok belum mencukupi. Jadi belum dilaksanakan. Tapi dananya yang terus kami kumpulkan, ucap Sariyanto yang kemudian menambahkan, jumlah anggota PDS saat ini sekitar 45 orang.

Gerakan yang dilakukan Sariyanto dan rekan-rekannya di PDS menuai tanggapan positif dari Koordinator Majelis Aksi Peduli Umat (MAPU) D Budi Saksono. Disadari Budi, situasi pandemi telah membuat banyak orang menderita. Selain terdampak langsung oleh paparan virus, warga pun terdampak oleh ekonomi yang ambruk. Jadi ide dari Pak Sariyanto positif sekali, patut mendapat dukungan, pujinya. (laz)

Artikel Asli