Protes Lomba Hormat Bendera Hidayat Sentil BPIP

rm.id | Nasional | Published at 16/08/2021 07:13
Protes Lomba Hormat Bendera Hidayat Sentil BPIP

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengkritik Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) terkait lomba menulis bertajuk hormat bendera menurut hukum Islam.

Tidak sesuai dengan semangat Pancasila sebagaimana diwariskan pendiri bangsa, tegas Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid kepada Rakyat Merdeka , kemarin.

Pernyataan ini merupakan reaksi atas lomba menulis dan bernyanyi lagu nasional menjelang Hari Santri Nasional pada 22 Oktober mendatang. Sasaran pesertanya adalah para santri seluruh Indonesia. Pemenangnya diimingi hadiah uang jutaan rupiah.

Politisi yang akrab disapa Ustaz Hidayat itu menilai, kegiatan ini berpotensi kegaduhan dan terkesan kontraproduktif. Selain itu, ada kekhawatiran akan terbangun stigma jika santri tidak menyanyikan Indonesia Raya dan tidak menghormati bendera Merah Putih.

Padahal, para santri dan ulama termasuk di antara komponen bangsa yang diakui telah berjuang menghadirkan dan mempertahankan Indonesia Merdeka dan menyelamatkan Pancasila, katanya.

Wakil Ketua MPR ini menilai, sentimen ini bisa menghambat langkah pemerintah melawan pandemi Covid-19. Misalnya, misi Presiden Jokowi mengajak peran serta ulama dan santri untuk mengawal program vaksinasi dan protokol kesehatan.

Hidayat meminta BPIP memita maaf dan mengganti tema lomba yang menyinggung santri. Yaitu, soal hormat bendera hingga bernyani lagu nasional.

Temanya bisa diganti, misalnya tentang jasa santri menyelamatkan Indonesia, atau peran santri memberantas korupsi, mengatasi pandemi, hingga mengokohkuatkan persatuan bangsa, sarannya.

Menurutnya, nasionalisme para santri itu sudah tuntas. Dua ormas Islam besar di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sejak dulu menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya hingga melakukan pengibaran bendera Merah Putih.

Seandainya ada kelompok Islam yang masih belum melaksanakan, Hidayat mengatakan, itulah yang menjadi salah satu tugas khusus BPIP. Tentu dengan cara baik-baik. Mulai dari mendatangi, memberikan pencerahan dan semangat permusyawaratan menjaga persatuan.

Deklarator Partai Keadilan (PK) ini menceritakan tentang latar belakang peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober, bukan 1 Muharram yang diperingati sebagai Tahun Baru Islam.

Hari Santri, untuk menghormati santri dan ulama yang mempertahankan kemerdekaan. Tepatnya, ketika KH Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945 mengobarkan fatwa dan resolusi jihad melawan Belanda yang terus merongrong kemerdekaan. Fatwa dan Resolusi Jihad itu didukung oleh Kongres Umat Islam I di Yogyakarta 7-8 November 1945. Belanda pun kalah.

Anggota Komisi VIII DPR ini juga mengingatkan, dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren menyebutkan, tidak ada pertentangan santri dan ulama dengan semangat kebinekaan dan ke-Indonesiaan.

Dalam Undang-Undang Pesantren Pasal 10 ayat (4) misalnya disebutkan, santri dididik untuk menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, menyemaikan akhlak mulia, memegang teguh toleransi, keseimbangan, moderat, rendah hati, dan cinta Tanah Air berdasarkan ajaran Islam, nilai luhur bangsa Indonesia, serta berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Sementara, Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP Romo Antonius Benny Susetyo menepis asumsi tersebut. Terkait lomba menulis hormat bendera dan bernyanyi lagu kebangsaan, menurutnya, tidak ada maksud menyinggung Islam dan nasionalisme. [BSH]

Artikel Asli