Vaksinasi Pelajar Minimal 70 Persen

koran-jakarta.com | Nasional | Published at 16/08/2021 06:55
Vaksinasi Pelajar Minimal 70 Persen

JAKARTA - Vaksinasi Covid-19 bagi warga sekolah harus mencapai 70 persen sebelum menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Kondisi ini melihat adanya program vaksinasi anak usia 12-17 tahun. Demikian masukan dari Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Retno Listyarti, di Jakarta, Minggu (15/8).

"Sekolah atau madrasah harus dipastikan mencapai minimal 70 persen vaksinasi warga sekolah. Sebab sudah ada program vaksinasi anak usia 12-17 tahun," ujarnya. Dia menyebut, belum ada revisi aturan untuk menyaratkan PTM digelar, minimal 70 persen warga sekolah sudah divaksin.

Retno menjelaskan, dalam Surat Keputusan Bersama Empat Menteri pun hanya mengatur vaksinasi guru dan tenaga kependidikan sebagai syarat menggelar PTM. Padahal, sesuai dengan ketetapan WHO,kekebalan kelompok terbentuk, jika minimal 70 persen penduduk sudah divaksin.

"Kalau hanya guru yang divaksin, maka kekebalan komunitas belum terbentuk. Sebab jumlah guru hanya sekitar 10 persen dari siswa," jelasnya. Lebih jauh Retno mengatakan, vaksinasi anak belum merata di berbagai daerah. Menurutnya, tidak sedikit anak ingin divaksin, tapi belum ada kesempatan.

Dia menyebut survei KPAI terkait Persepsi Peserta Didik Tentang Vaksinasi Anak usia 12-17 tahun. Dari 86.286 responden, sebesar 88,2 persen yakin divaksin. Sedangkan yang ragu-ragu ada 8,5 persen, dan yang menolak divaksin hanya 3,3 persen responden.

Dari 88,2 responden yang bersedia vaksinasi, baru 35,9 persen beruntung mendapat vaksin. "Sedangkan sisanya belum divaksin," jelasnya.

Pastikan

Pemerintah pusat harus memastikan percepatan dan penyediaan vaksin anak yang merata di seluruh daerah. Pemerintah juga harus memaksimalkan pendekatan berbasis sekolah/madrasah untuk anak yang menolak vaksinasi.

Dalam survei tersebut, sebanyak 47,3 persen responden bersedia divaksin agar tubuhnya memiliki antibodi terhadap virus Covid-19. Sedangkan 24,3 persen menyatakan agar segera dapat mengikuti Pembelajaran Tatap Muka.

"Responden menilai pembelajaran Jarak Jauh saat inidinilai kurang efektif, serta susah untuk dimengerti," tandasnya.

Artikel Asli