Mullah Omar: Sang Pendiri Taliban Pengusir AS dari Kabul

republika | Nasional | Published at 16/08/2021 05:01
Mullah Omar: Sang Pendiri Taliban Pengusir  AS dari Kabul

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Teguh Setiawan, Jurnalis Senior.

Pejuang Taliban mengambil alih ibukota Afghanistan Kabul. Mereka juga telah menguasai istana kepresidenan, setelah presiden negara itu Ashraf Ghani melarikan diri ke Tajikistan.

Melalui akun resmi salah satu unit Taliban mereka membagikan foto-foto menenai interior Istana Presiden yang tampaknya utuh, tetapi kosong dan ditinggalkan oleh pejabat Afghanistan. Sebuah video yang diposting di media sosial beberapa jam sebelumnya juga menunjukkan hal serupa. Para pejuang tiba di Istana Kepresidenan di Kabul.

Dan bagi AS, inilah kenyataan pahit setelah berperang di Afghanistan selama 20 tahun. Hasilnya ternyata nol besar. Kenyataan memalukan ini seperti mengulang kekalahan Amerika di Vietnam pada 1975. Pada waktu itu pasukan Amerika terusir dari Saigon.

Adanya kemenangangan Taliban terhadap perang panjang melawan Amerika Serikat menjadi bukti ketanggguhan mereka. Ini kemenangan kedua setelah sebelum Amerika Serikat datang mereka juga telah mengusir bala tentara negara adidaya Uni Soviet.

Dan bagi pemerhati 'Perang Melawan Teror' yang dilancarkan AS dengan menyerang Afghanistan pasti tidak pernah lupa nama Mullah Omar.Lewat dialah nama Taliban eksis. Nama dia mulai muncul padatahun 2001, dan ini bertepatan dengan saat AS dan NATO mulai menjatuhkan ratusan ribu ton bom ke sekujur Afghanistan. Semenjak itulah sosok Mullah Omar menghiasi halaman surat kabar AS dan negara-negara Barat hampir setiap hari.

Mullah Omar adalah satu dari dua nama yang diburu untuk dibom. Nama lainnya adalah Osama bin Laden, pemimpin Al Qaeda.

Tahun-tahun berikut, setelah AS dan sekutunya menerjunkan pasukan ke Afghanistan, nama Mullah Omar seolah lenyap. Fokus AS hanya pada satu nama; Osama bin Laden, sebagai orang yang dikejar selama-lamanya.

Namun hingga kini tidak ada yang tahu ke mana Mullah Omar berada. Kabar kematiannya tak pernah dikonfirmasi. Ini karena AS tak punya akses ke lingkaran dalam Taliban dan orang-orang dekat Mullah Omar.

Dan sekarang pun sebagian orang di Timur Tengah sedang mencoba mengembalikan ingatan tentang Mullah Omar. Arab News, misalnya, menurunkan tulisan Owais Tohid tentang pengalamannya menyaksikan Afghanistan era Perang Saudara dan kemunculan Mullah Omar dari sebuah madrasah di pinggir Kandahar.

photo
Taliban kuasai Istana Presiden Afghanistan di Kabul. - (Al Jazeera)

Talib dan Taliban

"Taliban mengandalkan ulama untuk menerapkan hukum Syariah di tanah Allah ini," kata Mullah Omar, saat kerumunan misi bersenjata menerikan perang."Generasi baru harus dilatih. Tugas kita adalah menggunakan kekuatan, mengambil senjata. Misi kita harus terpenuhi," lanjut Mullah Omar.

Taliban, kata yang digunakan Mullah Omar untuk menyebut pengikutnya, berasal dari kata 'talib' yang artinya siswa. Taliban adalah kata jamak dari talib.

Prajurit Taliban berasal dari madrasah-madrasah di sekujur Afghanistan, yang menyambut gerakan Mullah Omar. Dalam pemahaman Mullah Omar, guru madrasah dan para ulama adalah penjaga ideologi, dan siswa adalah tentara masa depan.

Tidak sulit menjelaskan bagaimana Taliban dan Mullah Omar hanya butuh waktu singkat untuk mendapat tempat di hati rakyat Afghanistan.

Afghanistan pasca penarikan mundur Uni Soviet 1989 terjerumus ke dalam Perang Saudara tak berkesuduhan. Mujahiddin, yang memerangi pasukan Uni Soviet dan pemerintahan Marxist bentukan Moskwa, gagal mengambil alih kekuasaan dalam waktu singkat.

Pashtun, etnis terbesar tapi bukan dominan, menjadi musuh bersama etnis lain; Uzbek pimpinan Abdul Rashid Dostum dan Tajik pimpinan Ahmad Shah Masood. Di sisi lain, Najibullah -- boneka terakhir Uni Soviet di Afghanistan -- masih berusaha berkuasa untuk menguasai jalur perdagangan narkoba.

Taliban datang ke tengah rakyat yang frustrasi oleh perang saudara dengan ideologi yang akan mengakhiri perang. Rakyat Afghanistan menerima dengan tangan terbuka, dan bersedia menjadi prajurit.

Tahun 1998, bendra putih bertulis kalimat shahadat berkibar di 90 persen wilayah Afghanistan. Perang Saudara berakhir.

Berikutnya adalah pemerintahan Taliban yang menerapkan hukum Islam secara penuh; sebuah masa ketika semua yang tidak berbau Islami dilarang. Musik, sepak bola, layang-layang, dilarang. Anak perempuan dikeluarkan dari sekolah.

Kelompok minoritas Hindu dan Sikh diperintahkan mengenakan kain kuning untuk mengidentifikasi mereka. Taliban, sengaja atau tidak, melakukan politik segregasi agama.

Artikel Asli