Anak Muda Hebat dan Penghargaan Internasional (2) Batik SukkhaCitha, Membuat Bahagia dan Ramah Lingkungan

Nasional | rm.id | Published at Rabu, 11 Agustus 2021 - 17:01
Anak Muda Hebat dan Penghargaan Internasional (2) Batik SukkhaCitha, Membuat Bahagia dan Ramah Lingkungan

Denica Flesch, bukan anak muda biasa. Dia hebat dan langka. Rela meninggalkan pekerjaannya di World Bank dan memilih blusukan ke desa-desa di pelosok Jawa Tengah, dengan tujuan mulia. Mendidik pengrajin batik dengan standar ramah lingkungan, memasarkan produk dengan brand SukkhaCitta hingga akhirnya, tiga tahun kemudian, bisa meningkatkan taraf ekonomi mereka.

Batik yang dikerjakannya tergolong istimewa. Pewarnaan menggunakan pasta dari tumbuhan. Jenis indigo, warnanya khas, biru gelap keunguan. Karena sifatnya alami, maka pewarna ini tidak akan mencemari lingkungan.

Luar biasa. Tak heran, anak muda yang lulus Cum Laude dari University Erasmus, Rotterdam ini menjadi finalis SEED Award 2021, sebuah penghargaan internasional, di bidang kewirausahaan dalam pembangunan berkelanjutan. Kegiatan ini bagian dari kemitraan global yang dibentuk United Nations Environment Programme (UNEP), United Nations Development Programme (UNDP), dan International Union for Conservation of Nature (IUCN).

SEED melakukan identifikasi dan mempromosikan perusahaan ramah lingkungan di negara berkembang, serta memberi kesempatan pada pelaku usaha untuk meningkatkan skala bisnis mereka melalui hibah, saran strategis, akses ke investor dan profil global.

Meski tak menjadi pemenang di SEED, tapi apa yang dikerjakannya telah menorehkan catatan bersejarah di hidupnya. Tahun 2019, nama Denica Flesch masuk dalam 30 Under 30 Forbes Asia, pada katagori Social Entreupreuners.

Dua tahun sebelumnya, masuk katagori 40 Under 40 Millenials with Impact in Indonesia versi MarkPlus Institute. Dan tahun lalu, SukkhaCitta dipilih sebagai finalis wilayah Asia Pasifik pada penghargaan World Changing Ideas Awards yang diselenggarakan Fast Company.

Tahun 2015, Denica bertemu sebuah keluarga di Wonosobo, Jawa Tengah yang membuat dan menjual pasta pewarna indigo. Sudah berjalan lima tahun tapi kehidupan mereka tetap sulit. Denica lalu menawarkan bantuan pengembangan usaha dengan mengadakan pelatihan membatik menggunakan pasta pewarna itu kepada ibu-ibu di desa tersebut.

Selama satu tahun, dia tak kenal lelah. Belajar teknik membuat pastanya, hingga membatik dan membuat pakaian sampai lahirlah brand SukkhaCitta, yang berarti kebahagiaan.

Dari tiga orang ibu-ibu pengrajin, kini berkembang. Denica sekarang bermitra dengan lebih 20-an pengrajin batik dan membina tujuh desa di Jawa Tengah, Jawa Timur, Flores, Bali dan Kalimantan. Outlet batik pertama SukkhaCitta ada di Alam Sutera, Tangerang.

Bukan sekedar jualan batik. Ada nilai lain dalam brand-nya. Dia menggelorakan tagar #MadeRight di setiap produknya, yang berarti: dibuat dengan semestinya. Melalui #MadeRight, saya harap kita menjadi lebih paham kekuatan dibalik pilihan kita. Bersama-sama, kita bisa membangun dunia yang lebih inklusif. Menurut saya, itulah inti dari kehidupan yang bermakna, kata Denica.

Bagaimana ceritanya , bisa memberdayakan masyarakat terutama ibu - ibu dan wanita di pelosok?

Sebagai ekonom, saya selalu ingin mengerjakan hal yang bermakna dan bermanfaat bagi komunitas. Hal itu mendorong saya turun ke lapangan, berkeliling dari desa ke desa untuk belajar mengenai kemiskinan. Apa yang saya temukan adalah kenyataan yang sangat jarang dilihat oleh saya dan masyarakat lain di perkotaan: eksploitasi terjadi di balik apa yang kita kenakan setiap hari, terhadap wanita dan planet kita.

Dari situ, saya terdorong untuk membangun sebuah jembatan, menghubungkan ibu-ibu di desa ini dengan kesempatan, agar mereka bisa mengubah hidupnya sendiri. Hal itulah yang kami sebut The Most Meaningful Clothes.

Bagaimana business chain process dilakukan? Dan bagaimana cara mengajari atau memfasilitasi pengrajin sehingga memahami cara kerja yang ramah lingkungan ?

Kami memastikan akses ke sistem upah yang adil, membangun sekolah-sekolah kerajinan di desa-desa binaan. Ibu-ibu di sana juga mendapat beasiswa untuk belajar kerajinan, entrepreneurship, serta proses kerja yang ramah lingkungan. Hal ini menciptakan suatu ekosistem penghargaan konsumen terhadap produsen, sekaligus memotong rantai distribusi yang tidak perlu yang seringkali hanya menguntungkan middleman dan merugikan para ibu produsen tadi.

Apa keistimewaan batik ini ?

Pakaian SukkhaCitta dibuat menggunakan teknik produksi berkelanjutan. Kami menghindari pewarnaan sintetis yang meskipun jauh lebih murah, menciptakan 20 persen polusi air dunia. Ini mengancam kesehatan sungai kita dan masyarakat di sekitarnya. Itulah mengapa karya #MadeRight kami diwarnai dengan tanaman. Dan tumbuhannya ditanam secara regenerative farming.

Apa tantangan terbesar menjalankan program ini dan bagaimana mengatasinya?

Segala yang kita lakukan berdampak, secara sosial dan juga terhadap lingkungan, yang disebut externalities. Saat ini, tantangan terbesar kita adalah externalities yang cenderung tidak dipertimbangankan oleh bisnis pada umumnya, dalam pricing dan model bisnis mereka.

Produk #MadeRight mempertimbangkan externalities agar proses produksi menjadi lebih bertanggung jawab meski dianggap lebih mahal dari umumnya. Itulah kenapa salah satu fokus utama kita adalah kegiatan advokasi. Yaitu meningkatkan awareness dan memberikan edukasi akan isu-isu di balik baju yang kita pakai. agar konsumen memahami dampak di balik pilihan mereka.

Bagaimana kerja sama SukkhaCitta dengan komunitas lokal , desa wisata , maupun pemerintah daerah dan pusat?

Semua pekerjaan kami berbasis komunitas, yakni komunitas ibu-ibu di desa dan komunitas di kota yang ingin menjadi bagian dari perubahan ini. Sebagai sebuah social enterprise, hasil dari penjualan baju #MadeRight digunakan untuk membangun sekolah-sekolah kerajinan di desa, tempat di mana wanita bisa datang dan belajar keterampilan untuk membawa keluarganya keluar dari kemiskinan.

Selain membantu pengrajin mendapatkan upah yang adil, SukkhaCitta juga menggunakan bahan-bahan yang bersumber secara berkelanjutan dan bergantung pada metode pertanian regeneratif. Ini yang kemudian disertifikasi dengan standar transparansi #MadeRight kami.

Apa rencana 3 - 5 tahun ke depan?

Fokus utama kami saat ini adalah mendalami lebih ke hulu untuk membuat pakaian yang berdampak positif terhadap perubahan iklim. Bekerja dengan smallholder farmers di area rural untuk menanam serat dan tanaman pewarna alam secara regeneratif, serta mengembalikan biodiversitas dan kesehatan tanah kita agar dapat menyerap CO2 dari atmosfer. Melalui proses ini, kami percaya bisa terus meningkatkan dampak positif terhadap lebih banyak ibu-ibu di desa.

Sebanyak 69 persen leader atau founder perusahaan yang ikut dalam SEED Awards 2021 berusia 18-35 tahun. Dan 52 persen diantaranya, dipimpin wanita. Ada dua srikandi Indonesia yang menjadi finalis SEED Award. Selain Denica, satu lagi adalah Noryawati Mulyono dari Biopac, yang memproduksi kemasan berbahan rumput laut.

Direktur Operations SEED, Rainer Agster, mengatakan, Kaliber para kandidat SEED Award tahun ini luar biasa. Kami berharap perusahaan yang diidentifikasi dan dipromosikan oleh SEED Awards akan menjadi sumber inspirasi bagi calon wirausahawan di negara berkembang, katanya.

Sejak dimulai pada tahun 2005, SEED Awards telah memberikan penghargaan kepada 311 perusahaan di 40 negara dan telah memfasilitasi pencairan lebih dari 1 juta Euro dalam bentuk hibah. Secara kolektif, pemenang SEED Award telah melakukan sebesar 132.857 ton penghematan CO2 dan 151.014 ton limbah telah dikumpulkan atau didaur ulang melalui produk dan layanan mereka. ***[ Ratna Susilowati ]

Artikel Asli