Bendungan Irigasi di Sinjai Mandek, Petani Meringis Sejak Tahun 2017

Nasional | bukamatanews | Published at Rabu, 11 Agustus 2021 - 16:01
Bendungan Irigasi di Sinjai Mandek, Petani Meringis Sejak Tahun 2017

SINJAI, BUKAMATA - Sejak Tahun 2017, Bendungan Irigasi Apareng I di Kelurahan Sangiesserii, Kecamatan Sinjai Selatan, Kabupaten Sinjai, menjadi tumpuan harapan para petani di daerah itu. Pasalnya, Pemprov Sulsel saat itu memulai pengerjaan pembangunan dengan mengucur anggaran Rp16 Miliar.

Satu tahun berselang, di 2018, Irigasi itu ternyata jauh dari ekspektasi masyarakat. Sejumlah keluhan mulai terdengar, pasalnya irigasi yang sedianya mengairi ribuan hektare sawah warga, mandek dan tak berjalan.

Masyarakat Kelurahan Sangiasseri, Desa Gareccing, Desa Alenangka kala itu sempat melakukan aksi demonstrasi. Pasalnya, mereka mengorbankan lahan produktifnya untuk dilewati irigasi dengan harapan dapat mengaliri sawah mereka, ternyata hanya palsu.

Selain belum rampung, lahan warga juga belum diganti rugi oleh pihak pekerja. Padahal, saat perjanjian itu dibahas saat rapat di kantor kecamatan Sinjai Selatan.

Demikian juga tanaman cengkih dan lada warga banyak yang dirusak pihak pekerja PT Putra Utama Global saat menggali irigasi.

Tahun 2021, keluhan itu kembali mengeruak kepermukaan. Pasalnya Pemprov saat menganggarkan sebesar Rp3,5 Miliar pada Tahun 2020, pengerjaannya tidak rampung dan tidak bisa digunakan.

Perwakilan petani Sangiaserri, Syakir membeberkan kondisinya saat ini. Pipa irigasi yang dipasang tak bisa mengalirkan air.

"Mereka memasang pipa irigasi dengan harapan air dapat mengalir ke daerah persawahan, namun faktanya, pipa yang dipasang tidak bisa digunakan. Kondisinya medan agak menanjak. Makanya pakai pipa. Tapi gagal, dan ditinggalkan begitu saja oleh pekerjanya," kata Syakir, Rabu (11/8/2021).

Syakir menilai, pengerjaan irigasi tersebut melenceng dari perencanaan awal. Dimana proyek rehabilitasi tersebut dikerjakan oleh PT. Putra Utama Global.

Dengan kondisi itu, masyarakat di tiga daerah tersebut hanya mengandalkan air hujan untuk mengairi sawah.

"Petani di daerah kami hanya mengandalkan air hujan karena bendungan irigasi itu tak bisa difungsikan karena tidak rampung," ujar Syakir.

Pada Tahun 2020 lalu, sejumlah area sawah warga mengering gagal panen. Termasuk tanaman padi milik UPT Pertanian Sinjai Selatan.

"Kalau ini rampung petani bisa garap sawah 3 kali 1 Tahun. Bisa juga menanam palawija setiap.memasuki musim kemarau," jelas Syakir

Artikel Asli