Tiga Rahasia Muhammadiyah Bisa Cepat Tangani Pandemi Covid-19 Bahkan 8 Hari Lebih Cepat dari Pemerintah

Nasional | koran-jakarta.com | Published at Rabu, 11 Agustus 2021 - 12:48
Tiga Rahasia Muhammadiyah Bisa Cepat Tangani Pandemi Covid-19 Bahkan 8 Hari Lebih Cepat dari Pemerintah

YOGYAKARTA - Persyarikatan Muhammadiyah tercatat sebagai organisasi kemasyarakatan pertama yang paling tanggap ketika virus Covid-19 diumumkan telah masuk di Indonesia.

Begitu Presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama pada 2 Maret 2020, Muhammadiyah segera merespons dengan membentuk Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) pada 5 Maret 2020,lebih awal delapan hari dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 yang didirikan pemerintah.

Tak hanya membentuk gugus tugas, Muhammadiyah juga menyiapkan perangkat fatwa, sikap keagamaan dan mengerahkan seluruh komponen di tingkat pusat hingga ranting untuk bergerak bersama.

Dalam forum diskusi daring Rakyat Merdeka TV, Senin (9/8) Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu'ti membeberkan tiga alasan mengapa Muhammadiyah bergerak paling awal dan tetap konsisten menangani pandemi hingga saat ini.

Pertama, Muhammadiyah memandang pandemi Covid-19 adalah musibah dan bukan azab sehingga ada sisi positif dan negatif dari pandemi yang harus disikapi dengan ikhtiar yang sebaik-baiknya.

"Sebagian (masyarakat) mengatakan itu azab atau siksa, tapi Muhammadiyah secara tegas menegaskan posisinya bahwa pandemi ini adalah musibah," ungkapnya.

Kedua, gerak Muhammadiyah menangani pandemi menurut Mu'ti adalah karena kesadaran bahwaseluruh masyarakat bersama pemerintah bertanggungjawab menangani pandemi.

"Dalam konteks ini peran yang dilakukan Muhammadiyah itu merupakan bagian dari ekspresi dan aktualisasi tanggungjawab spiritual dan tanggungjawab sosial kebangsaan," kata Mu'ti.

Dan ketiga, Abdul Mu'ti mengungkapkan bahwa alasan Muhammadiyah cepat menangani pandemi adalah karena murni tergerak oleh alasan kemanusiaan. Mu'ti berpandangan, seringkali musibah hanya dilihat dari sudut pandang agama saja, atau sosial saja maka dimensi kemanusiaan terlupakan.

"Dan karena ini merupakan bagian dari tugas kemanusiaan, maka di dalam Muhammadiyah melayani masyarakat, Muhammadiyah tidak pernah melihat masyarakat itu dari etnisnya, dari agamanya, dari partai politiknya atau faktor-faktor lain yang menyebabkan kita tersegregasi atau terpisahkan antara satu dengan yang lainnya. Inilah saya kira kenapa Muhammadiyah terpanggil dan tergerak," pungkasnya.

Artikel Asli