Dialog Pegawai KPK Dengan Eks Jubir KPK Saat Mau Ngopi "Kalau Ketemu Yang Lain, Jangan Bilang Aku Dari KPK Ya, Malu Aku"

Nasional | rm.id | Published at Rabu, 11 Agustus 2021 - 08:16
Dialog Pegawai KPK Dengan Eks Jubir KPK Saat Mau Ngopi "Kalau Ketemu Yang Lain, Jangan Bilang Aku Dari KPK Ya, Malu Aku"

Menjadi pegawai KPK saat ini bukan lagi sesuatu yang membanggakan. Ada pegawai KPK yang justru malu jika profesi dan pekerjaannya diketahui publik. Ini fakta, bukan hoaks.

Fakta ini terungkap saat mantan Jubir KPK, Febri Diansyah mengajak salah satu pegawai KPK untuk ngobrol-ngobrol sambil ngopi.

Febri membangikan obrolannya dengan pegawai KPK itu, di akun Twitter @febridiansyah, kemarin. Mantan aktivis ICW ini bercerita, beberapa hari lalu dirinya menghubungi salah satu teman yang masih aktif di KPK. Febri mengajak temannya itu, sesekali untuk ngobrol panjang. Diskusi atau sekadar ngopi, tulisnya, tanpa menyebut nama pegawai KPK yang dimaksud.

Pegawai KPK itu bersedia. Sebab, dia juga pengen banget ngobrol lagi dengan Febri. Tapi, dia mengajukan satu syarat sebelum ketemuan. Kalau ketemu orang lain, jangan bilang aku dari KPK ya, tulis Febri, menirukan ucapan pegawai KPK itu.

Febri heran, lalu bertanya. "Kok begitu? tanya Febri. Malu, jawab si pegawai KPK itu.

Selama ini, pegawai KPK memang tidak mau diketahui statusnya oleh publik. Hal itu terjadi karena sifat pekerjaan yang rahasia atau tertutup. Tapi kini, kata Febri, pegawai KPK tersebut sangat risau dengan kondisi KPK akhir-akhir ini yang semakin memunculkan sisi kontroversial.

Saya terenyuh mendengar alasannya. Ia malu diketahui sebagai pegawai KPK, lanjut Febri.

Tak hanya itu, Febri juga menceritakan, pegawai KPK yang lulus Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) merasa sangat bersalah karena tak ikut dalam barisan bersama 75 temannya yang dinyatakan tidak lulus. "Ada juga pegawai lain yang sedih dan merasa bersalah seperti meninggalkan teman-teman 75," paparnya.

Menurutnya, menjadi pegawai KPK bukanlah sekadar bekerja demi mendapatkan penghasilan semata. Namun, para pegawai KPK memiliki niat mulia demi masa depan Indonesia. "Seperti ruang membangun harapan agar Indonesia ke depan jadi lebih baik tanpa bangs*t koruptor itu," ucapnya.

Kendati demikian, dia yakin, semangat antikorupsi dari teman-temannya yang saat ini masih berkantor di Gedung Merah Putih, tetap berapi-api. "Rasa malu yang ia sampaikan, menurut saya, menunjukkan tanggung jawabnya terhadap KPK dan antikorupsi," jelasnya.

Saat Rakyat Merdeka mengkonfirmasi ulang hal ini, Febri enggan berbicara banyak. "Ya, Mas. Silakan diambil dari twit saja ya," jawabnya.

Pihak KPK adem-adem saja dengan cuitan Febri itu. Sampai tadi malam, tak ada tanggapan yang disampaikan, baik oleh pimpinan maupun oleh jubir KPK.

Sementara itu, pengamat hukum dari Universitas Al Azhar, Suparji Ahmad mempertanyakan maksud Febri membuka obrolan itu ke publik. menurutnya, sikap Febri itu tak etis. "Nggak relevan obrolan rahasia itu diketahui oleh orang lain," kritiknya, saat diminta pendapat Rakyat Merdeka , kemarin.

Dia juga menyemprot pegawai KPK yang merasa malu menjadi anak buah Firli Bahuri. Seharusnya, kalau malu jangan ambil kesempatan menjadi PNS KPK. "Kalau malu, ngapain jadi bagian orang-orang yang lulus TWK, karena jadi lucu. Malu tapi langgeng di situ," jelas dia.

Cuitan Febri tadi, menjadi pembahasan hangat di dunia maya. Sampai pukul 9 malam, cuitan itu sudah disukai 5.000 orang, di- retweet 9.90 kali, dan dikomentari 170 orang. Persepsi warganet terbelah. Ada yang setuju dengan Febri, ada juga yang menyalahkan.

Akun @dianhermanto88 termasuk yang setuju dengan Febri. "Dulu saya punya cita-cita ingin jadi tim KPK, karena saya kagum waktu dahulu (saat di kampus) pernah ngundang KPK. Mereka nggak mau dikasih uang sepeserpun (hanya ganti ongkos), bahkan dijemput/dianterin pakai kendaraan panitia, mereka menolak," tulisnya.

Akun @Sani75377325 mewajarkan pegawai tersebut malu bekerja di bawah pimpinan Firli dkk. "Iyalah Bang, wajar kalau malu, ketuanya seperti itu," sambar dia.

Sementara, akun @ekobudhisantosa justru menyalahkan Febri. "Apapun alasannya, tidak baik kalau justru Anda yang getol merusak citra pemberantasan korupsi dengan terus meng-ekspose masalah internal KPK," ucapnya.

"Residu-residu rasa dan pikiran negatif diproyeksikan ke publik. Jangan-jangan, ini masalah psikis pribadi," timpal @mas_awe. [ UMM ]

Artikel Asli