FGD Soal Covid Dengan Sekum Muhammadiyah Awalnya, Gagap-Gugup Kini, Semakin Membaik

Nasional | rm.id | Published at Rabu, 11 Agustus 2021 - 07:30
FGD Soal Covid Dengan Sekum Muhammadiyah Awalnya, Gagap-Gugup Kini, Semakin Membaik

Bagaimana Muhammadiyah memandang Covid-19 dari aspek agama, lalu apa yang telah dilakukan Muhammadiyah secara sosial di masa pandemi ini, dan apa wejangan yang diberikan Muhammadiyah ke pemerintah dalam menangani virus dari Wuhan, China, itu?

Sekretaris Umum (Sekum) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Muti membeberkannya secara detail dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama Rakyat Merdeka , Senin (9/8) siang. Diskusi yang mengangkat tema Peran Ormas Dalam Penanganan Pandemi Covid-19, dipandu oleh Direktur Rakyat Merdeka , Kiki Iswara. Muti yang sang guru besar itu, memaparkan penjelasannya begitu lengkap. Tak hanya pakai dalil sains, juga mengutarakannya dengan deretan keterangan yang merujuk pada Alquran dan Hadits. Sering juga, dia bicara dengan bahasa Inggris. Begitu fasihnya.

Sejak pemerintah menyatakan pandemi Covid-19 sebagai bencana nasional, kami langsung membentuk Muhammadiyah Covid Command Centre (MCCC). Pandemi ini bukan tanggung jawab pemerintah saja, tapi semua pihak sebagai bagian dari bangsa dan negara, kata Muti, membuka oboralnnya.

Barulah, dia mengungkap apa saja yang sudah dilakukan Muhammadiyah. Sejak pandemi melanda hampir 1,5 tahun ini, kata Muti, Muhammadiyah telah mengerahkan segala sumber daya yang ada untuk membantu penanganan Covid-19. Semua rumah sakit milik Muhammadiyah, dokter, relawan, terjun langsung mengobati masyarakat yang terpapar Covid-19. Termasuk, ikut mensukseskan program vaksinasi nasional dengan menggandeng berbagai instansi terkait, misalnya, Kementerian Kesehatan.

Kalau dikalkulasikan, sebut Muti, lebih dari Rp 1 triliun dana yang dikucurkan Muhammadiyah dalam membantu penanganan Covid-19. Setelah kami hitung, ini di luar yang diberikan rumah sakit yang tidak ikut dilaporkan itu, sudah Rp 1 triliun, 22 miliar. Itu per 2 Agustus, rincinya.

Besarnya sumbangan Muhammadiyah ini jadi viral. Muti juga tahu itu. Sebenarnya, itu bagian dari memberikan pertanggungjawaban kepada anggota. Bukan untuk show of force , gitu ya, jelas Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini. Muti memberi penegasan bukan show of force ini, karena saat dia mengungkapkan angka itu, berbarengan dengan heboh sumbangan fiktif sebesar Rp 2 triliun dari keluarga Akidi Tio.

Dari mana uang sebesar itu? Muti menjelaskan, dana tersebut berasal dari sumbangan warga persyarikatan dan penggalangan dana lainnya yang dihimpun lewat lembaga zakat Muhammadiyah atau Lazis MU.

Selain itu, Muhammadiyah juga mengerahkan lebih dari 76 ribu relawan. Dari laporan yang ia terima, sudah 32 juta penerima benefit dari pelayanan Muhammadiyah. Kemudian, sudah 210 ribu vaksinasi yang digelar Muhammadiyah dengan sejumlah mitra.

Itu di bidang sosialnya. Di bidang keagamaan, Muhammadiyah juga aktif memberikan pemahaman kepada umat untuk taat mengikuti protokol kesehatan. Ada beberapa fatwa yang dikeluarkan untuk menjadi pegangan umat dalam melaksanakan ibadah di saat pandemi ini.

Meskipun harus menghadapi perbedaan pandangan terkait pandemi di lapangan, Muhammadiyah, sebut Muti, tetap mengedepankan dialog. Yang setuju silakan, yang nggak setuju silakan. Tapi, kita harus saling menghormati satu sama lain, sarannya.

Terkait penanganan Covid-19 yang dilakukan pemerintah, Muti mengakui, sudah jauh menunjukkan perbaikan. Pemerintah, katanya, makin ke sini, makin terbuka dengan masukan dan kritik yang datang dari masyarakat. Termasuk kritik dan saran yang datang dari Muhammadiyah.

Saya sempat menyampaikan langsung kepada Pak Presiden, bahwa di awal pandemi ini, pemerintah ini kok gugup, gagap dan gedebak-gedebuk, ungkapnya, sambil terkekeh. Ini belum ada di kamus, katanya merujuk ke kata-kata gedebak-gedebuk.

Ia menjelaskan, gugup yang dimaksud adalah pemerintah terkesan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kemudian gagap dalam hal arah komunikasi. Ketiga, gedebak-gedebuk. Yaitu pokoknya ke sana ke mari, tapi tak tahu apa yang harus dilakukan.

Ini kok seperti pating selontet, istilah bahasa Jawa. Artinya, ibarat main musik, semua alat musik dimainkan, dipukul tapi tidak menghasilkan harmoni, katanya, tertawa lagi.

Namun, kekurangan yang ada, lanjut dia, kini sudah mulai diperbaiki. Komunikasi dan konsistensi yang dilakukan pemerintah sudah berjalan baik. Pemerintah juga mulai merangkul semua kalangan, termasuk ormas untuk ikut serta menangani Covid-19 ini.

Meskipun kasus aktif masih tinggi, tapi kita lihat, sekarang kecenderungannya menurun. Kita harus apresiasi ini. Better late than never -lah. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, ujarnya.

Terakhir, Mukti menyampaikan, saat ini Muhammadiyah mulai menyusun program post pandemi Covid-19. Anak-anak yang menjadi yatim-piatu selama pandemi sedang didata untuk diberikan pendampingan hidup. Termasuk juga menyiapkan kembali tenaga kesehatan dari Muhammadiyah yang telah gugur terpapar Covid-19.

Bagi Muhammadiyah sebenarnya tidak susah. Kami memiliki 14 fakultas kesehatan di kampus kami. Hanya memang menyiapkan dokter itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, pungkasnya. [SAR]

Artikel Asli