Sambut Baik Metode Terapi aaPRP untuk Pasien Covid-19 di Klinik Hayandra, Pimpinan DPR: Tinggal Dimasifkan ke Seluruh Negeri

Nasional | rmol.id | Published at Rabu, 11 Agustus 2021 - 01:45
Sambut Baik Metode Terapi aaPRP untuk Pasien Covid-19 di Klinik Hayandra, Pimpinan DPR: Tinggal Dimasifkan ke Seluruh Negeri

RMOL.Metode terapi aaPRP untuk penderita Covid-19 yang dikembangkan di Klinik Hayandra, Jakarta, disambut baik oleh Satgas Lawan Covid-19 DPR RI. Terapi ini diharapkan dapat membantu mempercepat kesembuhan pasien Covid-19.

Ketua Satgas Lawan Covid-19 DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, mengatakan, terapi tersebut relatif murah dan teknologinya cukup sederhana. Sehingga akan mudah diterapkan oleh rumah sakit.

"Ini kabar bagus untuk rakyat Indonesia dan dunia kesehatan bahwa untuk terapi pasien Covid-19 kita sudah ada, yang tinggal dimasifkan ke seluruh negeri," kata Dasco di lokasi Klinik Hayandra di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Selasa (10/8).

Cara kerja terapi aaPRP ini diawali dengan pengambilan sampel darah pasien sebanyak 24cc atau sekitar 1,5 sendok makan. Keseluruhan prosesnya akan berlangsung selama sekitar 1,5 jam.

"Ini akan mendampingi terapi nasional yang diberikan, sehingga ini relatif aman. Teknologinya tidak sulit, rumah sakit di Indonesia bisa melakukannya secara massal," tutur Wakil Ketua DPR RI ini.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan, pandemi Covid-19 dapat menjadi momentum untuk mendukung para ilmuwan dalam negeri yang dapat menghasilkan obat dan alat kesehatan.

Hal itu sesuai yang diamanatkan dalam Instruksi Presiden Nomor 6/2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

"Ini momentumnya. Kami semua di satgas akan mendukung siapa saja yang menghasilkan obat dan alkes dalam negeri yang berguna bagi penanganan pandemi Covid-19," ujar Melki.

Sementara itu, dr Karina F Moegni dari Klinik Hayandra menjelaskan secara singkat, terapi ini bekerja untuk menurunkan badai sitokin dengan antiinflamasi yang terkandung di dalam trombosit pasien.

Melalui terapi ini, diharapkan terjadi perbaikan sel-sel yang rusak akibat virus corona.

Dari hasil uji klinis fase 1 dan 2, pihaknya menemukan ada penurunan angka kematian pada pasien gejala berat hingga kritis.

"Sebelum Covid-19, terapi ini sudah banyak digunakan di seluruh Indonesia untuk banyak kasus termasuk antiaging, pain management, ortopedi, dan lain-lain. Tapi indikasi untuk penggunaan Covid-19, ini yang baru," jelas Karina. []

Artikel Asli