Loading...
Loading…
Kebijakan Terus Berganti, Organda Rugi Rp 600 Miliar Dalam Setahun

Kebijakan Terus Berganti, Organda Rugi Rp 600 Miliar Dalam Setahun

Nasional | radarjogja | Selasa, 03 Agustus 2021 - 14:18

RADAR JOGJA Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DIJ, Hantoro mengaku pasrah atas penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4. Hingga saat ini total kerugian yang diderita mencapai kisaran Rp 500 Miliar hingga Rp 600 Miliar. Sebanyak 5 persen dari total armada yang ada telah terjual.

Hantoro menuturkan operasional telah berhenti sejak awal pandemi Covid-19. Dalam rentang waktu sempat beroperasi dalam skala kecil. Namun tetap tak optimal karena kebijakan terus berganti.

Kami pasrah sajalah, karena kebijakan sudah juga sudah ditetapkan. Kerugian satu tahun sekitar Rp 500 Miliar sampai Rp 600 Miliar. Unit yang dijual harganya juga jatuh, jadi tidak bisa jadi solusi yang bagus bagi kami, jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (3/8).

Hantoro mencatat setidaknya ada 817 armada pada unit pariwisata. Terdiri dari bus besar, bus kapasitas sedang hingga kapasitas minimal 8 penumpang. Seluruhnya terpaksa terhenti karena tak adanya biaya operasional.

Untuk bertahan, para pemilik armada menggunakan uang tabungan. Tentunya strategi ini tak bisa bertahan lama. Selain merawat armada juga memberi upah kepada kru dan manajemen perusahaan otobus.

Sekarang sudah pakai tabungan pribadi untuk bertahan. Sudah hampir selesai tabungan pribadi. Yang kasihan itu kru kami, seperti driver, mekanik, kenek dan lainnya. Ada beberapa yang sampai alih profesi, kata Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DIJ, Hantoro.

Para anggotanya telah menyiapkan skema khusus. Berupa penerapan protokol kesehatan secara ketat apabila armada beroperasi. Sayangnya, belum lama berjalan, asa kembali padam. Jikalau tetap berjalan, penumpang sudah tidak ada.

Sejak awal pandemi itu sudah kami siapkan. Baik untuk kru dan mekanik maupun kepada penumpang. Dari kapasitas sampai hand sanitizer, tapi ya akhirnya tidak terpakai, keluhnya.

Hantoro menyesalkan tidak adanya komunikasi intens dari pemangku kebijakan. Terutama saat dirumuskan hingga ditetapkan. Setidaknya selain fokus pada kesehatan juga roda perekonomian tetap berputar.

Sejatinya jajarannya memahami kebijakan selama pandemi Covid-19. Tujuannya adalah menekan angka sebaran dan penularan. Namun apabila ekonomi tak berjalan, maka tak menutup kemungkinan berbagai sektor akan gulung tikar.

Beri ruang gerak, tak hanya kesehatan tapi juga ekonomi dipertimbangkan. Meskipun bisa berjalan kami harus menggunakan gigi 1 atau 2 dulu lah, tidak menggunakan gigi 3, 4, 5, 6 tapi yang penting bisa bergerak, harapnya. (dwi/sky)

Original Source

Topik Menarik