Loading...
Loading…
Kasus 2 T Dan Utang Rasa

Kasus 2 T Dan Utang Rasa

Nasional | rm.id | Selasa, 03 Agustus 2021 - 06:00

Ketika Akidi Tio dan keluarga besarnya mau menyumbang Rp 2 triliun, banyak yang menyambut gembira. Kenapa?

Karena bangsa ini sudah mengalami patah hati yang sangat luar biasa dalam urusan bantuan atau sumbangan.

Bayangkan, bantuan sosial (bansos) saja, bantuan untuk rakyat miskin yang bertaruh nyawa, masih tega-teganya dikorupsi. Kruptornya bukan orang miskin. Dia pejabat. Kaya raya. Terhormat.

Awalnya, oleh pejabat lembaga anti korupsi, diancam hukuman mati. Lalu turun lagi, jadi hukuman seumur hidup. Belakangan, dalam sidang tuntutan, pejabat pelaku korupsi dituntut 11 tahun.

Para aktivis anti korupsi mempertanyakan tuntutan ini. Mereka kecewa. Karena korupsinya dilakukan dalam kondisi darurat dan krisis.

Di negeri yang menganut prinsip masa kamu saja yang bisa, saya juga bisa, aksi tilep menilep bansos ini kemudian menjalar. Ditiru pegawai di bawahnya. Kita mengenalnya dengan istilah disunat. Dalihnya beragam, mulai dari uang rokok, uang kopi, uang foto kopi, uang dengar dan banyak lagi istilah serupa.

Dalam kondisi patah hati dan kecewa itulah, tiba-tiba ada pengusaha mau menyumbang Rp 2 triliun. Dua ribu miliar. Jumlah yang sangat besar di tengah krisis. Tentu saja ini hebat. Mulia. Apalagi diserahterimakan dengan Kapolda. Disaksikan Gubernur Sumsel.

Sekarang, uang itu tidak jelas dimana posisinya. Ini menjadi kasus baru. Heboh. Anak Akidi Tio yang menyerahkan sumbangan, kemudian menjadi tersangka. Belakangan status ini dibantah oleh Kabid Humas Polda Sumsel.

Katanya, ini bukan prank. Uangnya belum cair karena masalah teknis, kata Kabid Humas.

Beruntung ada Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Mereka menjadi obat yang luar biasa. Menjadi imun booster. Ganda putri terbaik Indonesia ini berhasil meraih medali emas di Olimpiade Tokyo 2020.

Setelah 1,5 tahun menangis sedih karena duka akibat Covid-19, mereka akhirnya membuat Indonesia kembali menangis. Menangis bahagia. Bukan sedih.

Lagu Indonesia Raya berkumandang, mengiringi naiknya bendera Merah Putih, diikuti bendera China dan Korea.

Hanya mereka, para atlet, yang bisa mengibarkan Merah Putih di dunia internasional. Satunya lagi, saat kunjungan kenegaraan Presiden.

Mereka membawa berita bahagia. Bukan hoaks. Bukan prank, atau berita sedih. Kita berutang rasa, kebahagiaan, dan kebanggaan kepada para atlet-atlet terbaik Indonesia.

Selamat!

Original Source

Topik Menarik