Pengibaran Bendera Putih Tanda Menyerah Di Malioboro, Suara Pedagang Terbelah

koran-jakarta.com | Nasional | Published at 02/08/2021 12:00
Pengibaran Bendera Putih Tanda Menyerah Di Malioboro, Suara Pedagang Terbelah

Ratusan bendera putih berkibar di sepanjang Jalan Malioboro, Jumat (30/07/2021) kemarin. Meski tidak cukup lama karena Satpol PP langsung melakukan penertiban, namun peristiwa tersebut cukup menyita perhatian di tengah negeri ini yang menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Lever 4 di beberapa wilayah, khususnya Jawa - Bali.

Pada malam harinya, muncul sebuah video 45 detik yang dikirimkan oleh salah satu komunitas Malioboro, Paguyuban PKL Malioboro-Ahmad Yani (Pemalni). Slamet Santoso sang ketua dengan beberapa PKL berpakaian batik melakukan klarifikasi bahwa pemasangan bendera putih bukan murni keinginan mereka.

Slamet mengatakan bahwa ia mewakili komunitas Malioboro, bukan hanya Pemalni saja dan menegaskan bahwa pemasangan bendera putih adalah ulah oknum di luar PKL. "Kami mengklarifikasi terkait pemasangan bendera putih, kami sampaikan bahwa itu bukan murni suara atau keinginan PKL Malioboro. Itu dilakukan oleh oknum atau orang di luar PKL Malioboro," ungkap Slamet dalam video, Sabtu (31/07/2021) pagi.

Slamet juga menegaskan PKL Malioboro patuh dan taat pada aturan Gubernur DIY yang juga Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X dalam upaya penanggulangan pandemi Covid-19. Pihaknya mengaku siap menaati aturan dan komitmen menjaga kesehatan warga masyarakat DIY agar pandemi COVID-19 segera usai.

"Kami pada prinsipnya taat, tunduk dan patuh pada titah Ngarsa Dalem. Kami tetap menjaga kesehatan masyarakat Yogyakarta supaya cepat pulih, bebas dari pandemi Covid-19 sehingga ekonomi bisa kembali normal," pungkasnya.

Slamet juga menegaskan bawasanya pihaknya sudah berupaya meminta klarifikasi pada rekan-rekan yang memasang bendera putih kemarin. Namun, hanya satu perwakilan yang bersedia hadir memenuhi undangan tersebut.

"Kemarin kami coba minta klarifikasi, tapi hanya satu orang yang datang. Pada prinsipnya, kita paham namun langkah yang diambil mereka kami tidak sepaham yakni dengan pemasangan bendera putih. Itu bukan mewakil semua komunitas Malioboro. Kami sampai sekarang, PKL masih tetap eksis meskipun dalam kondisi yang sangat sulit," pungkas Slamet.

Sementara, sebelumnya, Ketua Paguyuban Pedagang Lesehan Malioboro (PPLM) Desio Hartonowati menyampaikan bahwa pemasangan bendera putih merupakan simbol berkabung menyikapi situasi yang mereka alami. "Penghasilan kami macet total, kehidupan keluarga kritis. Hutang kami menumpuk dan bantuan terasa jauh. Kemudian juga PPKM, menjadi pukulan telak bagi kami," tandasnya.

Artikel Asli