Guru Besar FKUI, Prof. Tjandra Yoga Aditama Target PPKM Belum Tercapai, Testing Masih Minim, Positivity Rate Melambung Tinggi

rm.id | Nasional | Published at 02/08/2021 09:41
Guru Besar FKUI, Prof. Tjandra Yoga Aditama Target PPKM Belum Tercapai, Testing Masih Minim, Positivity Rate Melambung Tinggi

Hari ini, pemerintah akan ketok palu soal kelanjutan status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4.

Terkait hal tersebut, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Tjandra Yoga Aditama meminta pemerintah, untuk mengambil keputusan sesuai 2 kriteria utama.

Yakni,situasi epidemiologi/penularan di tengah masyarakat, dankapasitas respon kesehatan yang ada.

Dengan mempertimbangkan dokumen terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 14 Juni 2021, Considerations for implementing and adjusting public health and social measures in the context of Covid - 19.

Soal kapasitas respon kesehatan, Prof. Tjandra menilai rumah sakit (RS) di Jakarta dan kota besar di Jawa, tidaksepenuh 2 atau 3 minggu yg lalu.

Pasien dapat lebih mudah masuk IGD, sertarelatif lebih mudah mendapat perawatan di ruang isolasi dan ICU.

"Ini sesuatu kemajuan yang amat baik dan patut disyukuri," kata Prof. Tjandra dalam keterangan yang diterima RM.id, Minggu (1/8).

Untuk pertimbangan data epidemiologi/penularan di masyarakat, Prof. Tjandra meminta pemerintah agar lebih cermat dan hati-hati.

Sedikitnya, ada 4 data epidemiologi yang dilaporkan setiap hari. Yaknijumlah kasus baru, jumlah tes yang dilakukan, angka kepositifan dan jumlah yang meninggal.

"Untuk menilai apakah angka-angka itu memang sudah membaik atau belum, maka kita dapat menganalisisnya dengan melakukan perbandingan terhadapdata tanggal 3 Juli 2021,ketika PPKM darurat dimulai," terang Prof. Tjandra.

Perlu diketahui, angka pada 3 Juli bukanlah angka yang diharapkan setelah pelaksanaan PPKM.

Angka pada 3 Juli 2021, justru angka yang tinggi. Sehingga, pada waktu itu, diputuskan keadaan PPKM darurat.

"Jadi, kalau angka hari-hari ini masih sama dengan angka 3 Juli, apalagi kalau lebih tinggi, maka artinya keadaan belumteratasi baik," tegas Prof. Tjandra.

Data pada3 Juli 2021 menyebut ada 27.913 kasus baru. Pada 1 Agustus, angkanya naik menjadi 30.738.

"Harus diingat, bahwa pernah ada target PPKM diupayakan untuk menurunkan jumlah kasus baru, di bawah 10 ribu per hari. Tapi, ini masih jauh," kata Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI ini.

Pada 3 Juli 2021, angka kepositifan ( positivity rate ) mencapai25,2 persen. Namun, berdasar PCR/TCM adalah 36,7 persen.

Kemudian pada1 Agustus 2021, positivity rate total ada di angka27,3 persen. Namun, berdasar PCR/TCM, positivity rate- nya52,8 persen.

Angka positivity rate total ini mencapai 5 kali lipat dibanding patokan aman WHO untuk menyatakan situasi sudah terkendali, yang mentokdi angka 5 persen.

Soal ini, Prof. Tjandra mengajak publik menengok India, yang sudah berhasil menurunkan angka positivity rate 10 kali lipat. Dari angka sekitar 22 persenpada Mei 2021, saatkasus di India sedang amat tinggi dan menjadi berita utama dunia, menjadi 2,4 persen pada saat ini.

"Mudah-mudahan, angka kepositifan kita juga bisa turun 10 kali juga. Sehingga,kasus di masyarakat juga akan turun dengan bermakna," harap mantan Direktur WHO Asia Tenggara ini.

Prof. Tjandra juga menyoroti jumlah orang yang dites semasa PPKM. Target pemerintah melakukan 400 ribu testing dalam sehari, masih jauh dari tercapai.

Untuk diketahui, pada 3 Juli 2021, pemerintah melakukan pemeriksaan terhadap157.227 spesimen, dari 110.983 orang dites.

Pada 1 Agustus, angkanya naik menjadi 112.700 orang.

"Namun itu masih jauh dari target pemerintah, yang mencapai 400 ribu sehari," ujar Prof. Tjandra, mengingatkan. [HES]

Artikel Asli