Mission Possible, Gresyia-Apriyani

jawapos | Nasional | Published at 02/08/2021 10:31
Mission Possible, Gresyia-Apriyani

JawaPos.com Greysia Polii sebenarnya sudah sempat ingin pensiun. Jelang 2017 itu, pasangannya, Nitya Krishinda Maheswari, cedera parah dan harus istirahat panjang.

Sementara usianya tidak bisa dibilang muda lagi. Tapi, Eng Hian, pelatihnya, memintanya bersabar.

Dengan jam terbangnya yang panjang, termasuk merebut emas Asian Games 2014, perempuan kelahiran Jakarta 11 Agustus 1987 itu diminta turut membimbing dulu para juniornya di pelatnas.

Dan, kemudian datanglah anak muda asal Konawe, Sulawesi Tenggara, itu: Apriyani Rahayu. Duo yang berselisih 11 tahun usinya tersebut dipasangkan dan empat tahun berselang, persisnya hari ini, sejarah besar siap mereka torehkan: merebut emas Olimpiade.

Tentu saja mereka tahu, jalan terjal siap menghadang dalam final ganda putri tersebut. Ada duet Tiongkok Chen Qing Chen/Jia Yi Fan, lawan yang sudah enam kali mengalahkan mereka dan baru tiga kali bisa mereka kalahkan. Chen/Jia juga unggulan kedua di Olimpiade 2020 ini. Adapun Greysia/Apriyani tak diunggulkan.

Tapi, melewati jalan terjal adalah cerita mereka selama Olimpiade Tokyo 2020 ini. Di laga terakhir fase grup, misalnya, mereka berhasil melibas ganda nomor satu dunia asal Jepang Yuki Fukushima/Sayaka Hirota. Di babak berikutnya, giliran ganda nomor dua Tiongkok Du Yue/Li Yunhui yang mereka singkirkan. Lalu, menundukkan unggulan keempat asal Korea Selatan Lee So-hee/Shin Seung-chan.

Jadi, bisa dibilang, bagi Greysia/Apriyani, tak ada itu yang namanya mission impossible. Tak ada yang tidak mungkin. Superioritas head-to-head dan menjadi unggulan bukanlah patokan begitu sudah menginjak lapangan.

Bisa mencapai final itu luar biasa. Tapi, saya tidak mau puas terlebih dahulu. Kami masih harus bermain untuk bisa mendapatkan emas, kata Apri seperti dikutip dari rilis resmi PBSI.

Hingga babak final ini, kedua pasangan sama-sama belum terkalahkan. Sama-sama keluar sebagai juara grup pula. Greys/Apri kampiun grup A, Chen/Jia memuncaki grup D. Serta sama-sama baru kehilangan dua game sampai dengan semifinal.

Greysia/Apri menonjol pada keuletan, Chen/Jia kuat dari sisi serangan. Tapi, pada dasarnya, level kekuatan mereka berimbang. Pemenang bisa jadi bakal ditentukan dari siapa yang paling sedikit melakukan kesalahan sendiri, seperti yang terjadi pada duel semifinal tunggal putra antara Anthony Sinisuka Ginting dan Chen Long kemarin.

Tiongkok sudah merebut dua emas bulu tangkis sejauh ini, dan masih menempatkan wakil di dua final hari ini: ganda putri dan tunggal putra. Sebaliknya, Greysia/Apri adalah harapan terakhir Indonesia merebut emas di Olimpiade 2020. Tapi, Greysia tak mau terbebani itu.

Kami ingin menikmati pertandingan. Paling persiapan yang harus kami lakukan adalah menjaga ketenangan agar dapat mengontrol permainan, katanya.

Artikel Asli