Sabtu Malam Kelabu di Lapak Rongsok Duren Jaya Bekasi Timur

republika | Nasional | Published at 02/08/2021 06:45
Sabtu Malam Kelabu di Lapak Rongsok Duren Jaya Bekasi Timur

REPUBLIKA.CO.ID,Pada hari pertama Agustus 2021, Eko (36), mengais puing-puing barang yang masih dapat menghasilkan uang. Hanya itu yang dapat ia lakukan di tengah panas matahari yang semakin meninggi.

Ia dan juga para tetangganya, baru saja tertimpa musibah. Rumah mereka lenyap menjadi abu pada Sabtu malam yang kelabu.

Malam itu, tak lama setelah azan Isya berkumandang, ada api yang membumbung tinggi. Asalnya, diduga dari belakang area permukiman rumah bedeng para pengepul sampah di Jalan Prof M Yamin, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat.

"Saya baru pulang mulung, tahu-tahu api sudah membesar. Mau masuk nyelametin barang tapi asap itu rasanya sudah masuk ke tenggorokan," kata Eko ditemui di lokasi, Ahad (1/8).

Api menyambar dengan cepat. Ia pun lantas bergegas. Sejatinya, ia ingin menyelamatkan barang-barang yang ada di dalam rumahnya.

Namun, dadanya tak kuat melawan asap yang semakin pekat. Ia pun berlari keluar rumah dengan baju yang melekat di tubuhnya. Beruntung, anak dan istrinya juga selamat.

Kompleks rumah bedeng ini banyak dihuni oleh pemulung dan juga pengepul rongsok. Entah sudah berapa lama aslinya lahan garapan ini dijadikan tempat bermukim mereka yang mengadu nasib di wilayah penyangga Ibu Kota tersebut.

Suasana duka juga tergambar pula di raut wajah Suwarno (60). Matanya mengguratkan keputusasaan. Ia adalah seorang pengepul yang tinggal di area rumah bedeng itu.

Lebih lama dari Eko, lelaki yang akrab disapa Pak'Le (paman) No itu rugi puluhan juta akibat kebakaran tersebut.

"Saya ga sempat selamatkan apa-apa. Hanya motor butut saja yang berhasil keluar dari area rumah ini," terangnya.

Suwarno mengatakan, ia merantau ke Bekasi sejak tahun 80-an. Namun, baru menghuni rumah bedeng di Duren Jaya sekitar empat tahunan.

Ia menyewa lahan garapan kepada seseorang yang tak ia sebut namanya. Suwarno sudah terlanjur menyewa lahan itu untuk dua tahun.

"Per tahunnya Rp 4 juta, minimal harus dua tahun," ujar dia.

Pemilik lahan menawarkan dua opsi bagi para pengepul yang rerata punya 10 anak buah. Jika ingin dilanjutkan silahkan, namun jika tidak uang mereka tak akan kembali.

"Uang saya sudah masuk, sekarang ngelihat semuanya ludes gini saya juga bingung mau gimana," tuturnya.

Kendati demikian, Suwarno masih menyimpan harap. Pria asal Demak, Jawa Tengah, itu tak mau kembali ke kampung halamannya.

Bersama sang istri ia memilih untuk bertahan dengan puing-puing barang yang tersisa di lahan yang telah rata dengan tanah itu.

Artikel Asli