Awalnya Pemburu, Disadarkan Mimpi untuk Menyelamatkan

radarjogja | Nasional | Published at 02/08/2021 06:11
Awalnya Pemburu, Disadarkan Mimpi untuk Menyelamatkan

RADAR JOGJA Agak berlebihan jika pria 56 tahun ini disebut sebagai malaikat. Sebab, dia jelas tak bersayap. Tapi dia memang penyelamat ekosistem melalui satwa yang dirawatnya.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Ayah satu putri itu tengah berbaring di kediamannya, saat dicari untuk wawancara. Sebentar kemudian dia mengambil topi, lalu mengajak duduk di muka rumah. Beberapa kali dia membenahi topi, berusaha menutup rambut yang warnanya sudah keabuan. Dia adalah Sarwidi, yang lebih akrab dipanggil Pak Min. Tak ada penjelasan terkait sapaannya itu.

Pak Min tinggal di tepi Pantai Pelangi, Kapanewon Kretek, Bantul. Tepat di sebelah rumahnya, merupakan konservasi bagi penyu. Satwa laut yang mirip dengan kura-kura. Awal tujuan saya membuka tempat konservasi, karena sebagian warga (Kretek, Red) dan saya sendiri juga pemburu penyu, ujarnya, membuka kisahnya (30/7).

Jangan heran, satwa langka ini memiliki nilai ekonomi tinggi. Sebab karapasnya kerap dibuat sebagai hiasan. Selain olahan penyu juga dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Karena faktor ekonomi, di Parangtritis itu dulu susah. Mangkanya pada antusias untuk memperdagangkan dan konsumsi telurnya, ungkap Pak Min, seraya mengernyitkan sudut mata kirinya.

Perburuan paling gencar terjadi sekitar tahun 1970-an. Kala Pak Min masih kanak-kanak sampai usia remaja. Pria yang pernah berprofesi sebagai nelayan ini kemudian berhenti berburu penyu saat berusia 34 tahun. Lantaran didatangi oleh sesosok makhluk melalui mimpi saat tertidur. Kayak ada yang mengingatkan, untuk itu (penyu, Red) perlu dilestarikan. Saya mimpi itu sebelum tahun 2000, sebutnya mengingat-ingat.

Setelah berusaha, ingatan itu ternyata jatuh pada tahun 1999. Di mana sesosok makhluk meminta tolong untuk ia selamatkan. Berawal dari mimpi itu pula, Pak Min berhenti berburu penyu. Tapi, dia tidak seketika juga langsung membangun tempat konservasi. Baru awal tahun 2010 saya mencoba untuk melestarikan.

Saya coba-coba, kalau dapat telur penyu saya tetaskan. Ternyata bisa menetas, tegas pria yang sama sekali tidak tahu teknik ilmiah penetasan penyu itu.
Tidak mengerti teori, Pak Min hanya mencoba memindahkan telur penyu ke tempat yang lebih aman. Pria yang kini berprofesi sebagai kuli bangunan itu membuat lubang dengan kedalaman yang sama seperti sarang asli yang induk penyu buat.

Saya ambil dari induknya, kedalamannya seberapa toh. Akhirnya saya tahu. Otodidaknya seperti itu waktu kali pertama, paparnya, yang kala itu menetaskan penyu jenis Lekang.

Berdasar pengalaman itu, Pak Min kemudian berpikir. Bila dia lebih banyak menetaskan telur penyu, akan lebih banyak anak penyu atau tukik yang selamat dari pemburu dan predator. Kami pikir penyu ini harus dilestarikan. Kalau tidak, saya punya pikiran anak cucu besok itu hanya mau dengar dongeng, cerita, atau gambar saja. Karena ada orang yang seperti saya dulu, menjadi pemburu dan pembunuh, sesalnya.

Pak Min bersyukur, beberapa lembaga dan instansi kemudian datang menyambangi dirinya. Untuk memberi dukungan ilmu dan teori. Serta bantuan berupa penampungan tukik yang berhasil menetas.

Tapi, saya kesusahan untuk regenerasi relawan. Padahal saya pikir, tukik itu bayi yang paling sengsara di muka bumi. Jadi harus ditolong, bebernya yang selama 10 tahun lebih membiayai secara mandiri operasional konservasi penyu di Pantai Pelangi.

Melangkah ke area penetasan Pak Min bercerita, induk penyu meninggalkan telurnya di dalam pasir. Kemudian sang induk kembali ke laut. Itu telurnya di dalam pasir, bisa terinjak atau dimakan predator. Terus setelah menetas belum langsung menghirup udara, tapi harus berjuang naik ke permukaan. Habis itu, sudah harus cari makan sendiri ke laut bebas. Kan kasian banget, ungkapnya.

Umumnya, relawan yang bersedia menyokong konservasi penyu di Pantai Pelangi adalah mahasiswa. Radar Jogja menemui Ketua Konservasi Jogja Daru Aji Sapuyro. Pemuda kelahiran Tangerang, Banten, ini menuturkan pentingnya menjaga ekosistem di Pantai Pelangi. Sebab, penyu yang mendarat di pantai ini merupakan satwa langka.

Di Pantai Pelangi itu ada tiga jenis penyu yang mendarat, Penyu Lekang, Sisik, dan Belimbing. Nah, Penyu Belimbing itu langka banget. Bahkan selama 20 tahun terakhir baru sekarang ditemukan lagi di pesisir Pantai Bantul. Karena penyu jenis ini sensitif terhadap cahaya, jelasnya. (laz)

Artikel Asli