Proyek Laptop Merah Putih Perlu Perencanaan Matang

koran-jakarta.com | Nasional | Published at 02/08/2021 06:10
Proyek Laptop Merah Putih Perlu Perencanaan Matang

JAKARTA - Proyek pengadaan laptop Merah Putih Kemebdikbudristek memerlukan perencanaan matang. Demikian tanggapan pemerhati pendidikan dari Vox Point Indonesia, Indra Charismiadji, di Jakarta, Minggu (1/8).

Dia khawatir, proyek senilai 17 triliun rupiah hingga tahun 2024 tersebut tidak berdampak pada peningkatan mutu. "Program pengadaan laptop Merah Putih senilai 17 triliun oleh Kemendikbudristek tidak akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan jika tanpa perencanaan matang," katanya.

Indra meminta, Kemendikbudristek menggunakan data serta kajian akademis untuk proyek tersebut. Dia berharap Kemendikbudritek melibatkan publik baik pakar-pakar pendidikan maupun IT. "Apa dasar memilih teknologi chromebook daripada teknologi lain. Lucu sekali jika Kemendikbudristek membuat kebijakan tanpa riset," jelasnya.

Sebagai informasi, pemerintah memiliki anggaran sekitar 3,7 triliun rupiah untuk pengadaan laptop Merah Putih sebanyak 431.730 unit untuk tahun ini. Secara total anggaran program, pemerintah mengaku telah menyiapkan 17,42 triliun rupiah yang akan digelontorkan 2021 hingga 2024 mendatang.

Negara Tetangga

Lebih jauh Indra menerangkan, praktik-praktik negara tetangga dalam program pengayaan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk pendidikan. Dia menilai, proyek laptop Merah Putih tanpa perencanaan bakal bernasib seperti program 1Bestarinetnya Malaysia atau program pengadaan tabletnya Thailand.

Dia menerangkan, program 1Bestarinet menyedot anggaran berkisar 14 triliun rupiah untuk pengadaan konektivitas internet dan laptop bagi 10.000 sekolah di seluruh Malaysia. Laptop-laptop tersebut akhirnya banyak tidak digunakan karena guru tidak tahu cara memanfaatkannya dengan optimal.

"Proyek 1Bestarinet akhirnya dihentikan pemerintah Malaysia pada tahun 2019 karena berdasarkan audit, hasilnya jauh di bawah harapan," ucapnya. Indra menerangkan, digitalisasi pendidikan tidak bisa hanya pengadaan laptop.

Ada 3 komponen yang harus disiapkan bersamaan dalam implementasi program digitalisasi pendidikan yaitu infrastruktur, infostruktur, dan Infokultur. "Laptop ini bagian dari infrastruktur. Bagaimana dengan infostruktur dan infokulturnya? Kalau tidak disiapkan, nasibnya bisa sama seperti kegagalan program 1Bestarinetnya Malaysia," katanya.

Dia menyarankan, Indonesia lebih baik mengikuti jejak Singapura menyusun ICT Masterplan in Education (rencana utama digitalisasi pendidikan) sejak tahun 1997. Singapura sekarang sudah masuk fase ke-4 dalam masterplan tersebut. Di dalamnya lengkap ada infrastruktur, infostruktur, dan infokultur.

"Kalau hanya fokus ke pengadaan laptopnya, tanpa ada kajian kompresensif, ya siap-siap saja uang rakyat terbuang sia-sia," tandasnya.

Artikel Asli