Meredam Kebangkitan Virus

rm.id | Nasional | Published at 02/08/2021 06:05
Meredam Kebangkitan Virus

Harian ini minggu lalu menulis headline tentang terbentuknya Forum Solidaritas Nasional. Forum yang digagas oleh beberapa anak bangsa dari berbagai latar belakang nonpartisan sepakat untuk mendukung pemerintah dalam melawan virus. Penyebaran varian Delta begitu cepat. Pemulihan ekonomi di bidang pariwisata seperti restoran, travelling, dan perhotelan merupakan sektor paling parah terkena dampak. Selain itu sektor pendidikan dan kesehatan mental anak didik memerlukan perhatian khusus. Hal ini disebabkan dampak ikutan penutupan sekolah yang terlalu lama. Begitu kompleks dampak Covid yang dihadapi bangsa ini. Hadirnya Forum Solidaritas Nasional diharapkan menjadi pendorong munculnya organisasi kemanusiaan lainnya untuk membantu pemerintah dalam pemulihan ekonomi.

Kini saatnya saling membantu tanpa pamrih, Mo, sela Petruk. Romo Semar memilih diam tidak menimpali komentar anaknya, Petruk. Romo Semar prihatin dalam situasi krisis kemanusiaan seperti sekarang ini masih ada yang tega mencari celah mengeruk keuntungan pribadi. Mulai dari pemotongan bantuan sosial, makelar vaksin, dan jualan alat-alat kesehatan. Kopi pahit dan rebusan ubi selalu setia menemani sarapan pagi Romo Semar. Kepulan asap rokok tingwe klobot jagung membawanya ke zaman perang Baratayuda. Di mana saat terjadi krisis kemanusiaan akibat perang, ada raja dari seberang tega mencari keuntungan pribadi dengan mengais harta rampasan perang.

Kocap kacarito, Perang Baratayuda adalah perangnya keluarga darah Barata. Yaitu perangnya satria Pandawa dan Kurawa. Dalam cerita pewayangan, perang Baratayuda merupakan perang besar keempat di era zaman Mahabarata. Sebelum Baratayuda, ada tiga perang besar lainnya yaitu perang Pamuksa, Gojali Suta, dan Guntara Yana. Perang Pamuksa adalah perangnya Prabu Pandu raja Hastina melawan Prabu Trembaka raja Prenggondani. Sedangkan Gojali Suta merupakan perang anak melawan bapak. Yaitu perangnya Prabu Boma Narakasura melawan bapaknya sendiri Prabu Kresna. Perang Guntara Yana yakni perangnya Begawan Ciptaning melawan Prabu Niwata Kawaca.

Prabu Prameo adalah raja dari sabrang atau luar negeri yang khusus ikut berkecimpung selama perang Baratayuda berlangsung. Prameo tidak ikut pasukan Pandawa maupun Kurawa. Prameo datang dengan pasukan lengkap dengan tujuan mencari harta benda korban perang. Patahan senjata dan lempengan busur panah yang tercecer di medan perang diambil untuk dibawa ke negerinya. Hasil rampasan perang tersebut diolah dan dijual ke kerajaan lain yang membutuhkan persenjataan perang.

Prabu Kresna sebagai penasehat perang Pandawa marah melihat perilaku Prabu Prameo. Bukan saja mengganggu konsentrasi jalannya perang Baratayuda, Prameo mencari keuntungan pribadi di tengah penderitaan para Pandawa dan Kurawa. Untuk itu Kresna menyuruh Bima untuk membunuh Prabu Prameo dan pasukannya. Dengan sigap Bima menyerang Prabu Prameo. Dengan pukulan gada Rujakpala, Prameo tewas beserta gajah tunggangannya Hestitama.

Selama pandemi berlangsung banyak Prameo-Prameo gentayangan, Mo, celetuk Petruk cengengesan. Mereka tega ngentit uang rakyat tanpa rasa malu, papar Petruk sewot. Hati mereka sudah dibutakan oleh kenikmatan harta benda, Tole, jawab Romo Semar. Mereka tidak bisa membedakan mana perbuatan baik dan buruk. Semua diukur dengan uang bukan hati nurani lagi yang bicara. Padahal dalam keadaan krisis kemanusiaan seperti sekarang ini yang diperlukan adalah kekuatan kolektif dan spirit untuk saling membantu. Tanpa adanya kebersamaan bertindak pemulihan ekonomi menuju keadaan normal baru hanya tinggal angan-angan belaka. Oye

Artikel Asli