EBT Bakal Percepat Ketahanan Pangan

koran-jakarta.com | Nasional | Published at 02/08/2021 00:04
EBT Bakal Percepat Ketahanan Pangan

Energi hijau memacu pertumbuhan ekonomi karena menciptakan ketahanan pangan dan kedaulatan energi nasional.

Pengembangan EBT harus dilaksanakan secara bersama-sama dengan melibatkan pemangku kepentingan terkait.

JAKARTA - Upaya pemerintah untuk memulihkan perekonomian dan memperkuat pertumbuhan agar keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah ( middle income trap ) hanya bisa terealisasi kalau pembangunan dilakukan secara berkelanjutan dengan mendorong ketahanan pangan dan energi.

Upaya pembangunan berkelanjutan tersebut adalah dengan mengalihkan sumber-sumber energi dari berbasis fosil atau energi kotor ke energi baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan.

Peneliti dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Ropiudin, mengatakan pemanfaatan EBT menjadi kunci pemulihan ekonomi di tengah pandemi. "Penggunaan EBT dapat memacu pertumbuhan ekonomi, contohnya bila dimanfaatkan untuk ketahanan pangan dan kedaulatan energi nasional," kata Ropiudin, akhir pekan lalu, seperti dikutip dari Antara .

Peneliti senior laboratorium teknik sistem termal dan energi terbarukan Unsoed tersebut menambahkan dengan pemanfaatan energi hijau, maka ketahanan energi dan ketahanan pangan dapat berjalan beriringan.

Dengan demikian, akan meningkatkan daya saing di era industri 4.0 sekaligus dapat menggapai Indonesia Emas 2045. "Perekonomian Indonesia bisa tumbuh lebih tinggi dan berkualitas dengan mengintegrasikan energi rendah karbon, hal ini juga sekaligus dapat mengurangi emisi gas rumah kaca," katanya.

EBT, paparnya, dapat dimanfaatkan untuk sektor pertanian, perikanan, dan peternakan. "Khusus pada bidang pertanian, baik tradisonal maupun modern sangat banyak membutuhkan energi, mulai dari penyemaian benih, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pascapanen, pengolahan hasil pertanian, dan sampahnya," katanya.

Penerapan teknologi berbasis energi terbarukan dapat diaplikasikan pada sektor pertanian saat musim kemarau atau musim tanam ketiga. Sedangkan saat kemarau, ketersediaan air irigasi berpotensi mengalami penurunan seiring menurunnya potensi hujan. "Kemarau yang merupakan siklus tahunan di negara tropis merupakan peluang dan tantangan dalam mengakselerasi teknologi pertanian modern berbasis energi terbarukan," katanya.

Energi matahari dan angin atau bayu juga dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan irigasi saat musim kemarau, terutama menggerakkan pompa dengan tenaga angin.

Sebagai pembangkit listrik juga bisa menjangkau daerah-daerah terpencil dengan biaya investasi yang lebih murah. Hal itu memungkinkan penerangan bisa menjangkau desa-desa terpencil seperti dua dusun, yakni Lau Meciho dan Sambung Dua, di Kecamatan Mardingding, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Warga dua dusun tersebut sudah berharap sejak tahun 1970 agar daerah mereka bisa terjangkau listrik, namun hingga saat ini belum terealisasi.

Ropiudin berharap agar pemerintah memberi insentif pada pengembangan EBT agar bisa menjangkau ke daerah-daerah yang tertinggal.

Solusi Masa Depan

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, sebelumnya mengatakan pemanfaatan EBT dapat memberikan solusi energi di masa depan dan memberikan banyak manfaat, tidak hanya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, namun juga manfaat bagi lingkungan.

"Kebutuhan energi di Indonesia diprediksi akan terus meningkat seiring penambahan populasi, perubahan gaya hidup, serta pertumbuhan ekonomi. Untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia di masa depan, BRIN mendorong perkuat ekosistem riset dan inovasi EBT," katanya.

Selain mengurangi emisi, pemanfaatan EBT juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan menciptakan lapangan kerja baru.

Indonesia, tambahnya, harus punya strategi mengurangi kebergantungan terhadap energi fosil saat ini dengan membuat rencana strategis untuk mewujudkan kemandirian energi nasional.

Sementara itu, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza, mengatakan pengembangan EBT tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus dilaksanakan secara bersama-sama dengan melibatkan pemangku kepentingan terkait, terutama PLN dan Pertamina, dan didukung oleh lembaga penyelenggara ilmu pengetahuan dan teknologi nasional.

"Ekosistem teknologi di bidang energi akan menjadi kunci keberhasilan Indonesia mencapai target pemanfaatan EBT, terlebih biaya pendirian infrastrukturnya memiliki tren menurun setiap tahunnya. Oleh karena itu, peluang ini harus dimanfaatkan dan memiliki potensi yang sangat besar jika dikelola secara maksimal," kata Hammam.

Artikel Asli